Penumpang bus di jalur selatan—seperti bus Sumber Selamat atau Mira—belum tentu sanggup jika harus naik bus di jalur pantura. Apalagi jika bus rute Surabaya-Semarang yang dinaiki adalah Sinar Mandiri atau Widji.
Perbincangan tersebut dipicu oleh pernyataan seorang teman dekat yang merupakan busmania asal Demak, Jawa Tengah: Muhammad Mujib, saat saya bercerita bahwa pengalaman naik-turun bus Surabaya-Semarang pada akhirnya menempa ketahanan saya saat naik beragam model transportasi darat.
Mujib bahkan menyebut, penumpang bus Jogja-Surabaya belum tentu sanggup saat naik bus Surabaya-Semarang. Terlebih kalau yang dinaiki Sinar Mandiri. Memang tipikalnya tidak jauh berbeda dengan bus Sumber Selamat di jalur selatan: suka ngeblong dan ugal-ugalan. Tapi sensasinya berbeda sama sekali.
Kebiasaan naik bus Surabaya-Semarang menempa ketahanan
Dalam banyak kesempatan, saya kerap tidak relate ketika sejumlah teman kantor mengeluh usai naik transportasi umum lintas kota di Jawa Tengah, baik dengan bus maupun travel. Biasanya dipicu oleh armada yang kurang bagus, kursi tidak nyaman, hingga perjalanan yang bikin pusing dan mual karena cara sopir mengemudi.
Sebab, sering kali seburuk-buruk travel atau bus versi mereka justru jauh lebih baik ketimbang bus-bus Surabaya-Semarang yang sering saya naiki. Bagi Mujib, itu adalah bentuk ketahanan yang sudah terbentuk setelah bertahun-tahun saya naik bus Surabaya-Semarang.
Saya sudah terbiasa dengan bus Sinar Mandiri yang mirip rongsokan dan melaju ugal-ugalan. Terbiasa dengan kursinya yang keras dan compang-camping. Dan rasa-rasanya tidak ada yang jauh lebih buruk dari bus tersebut. Sehingga, naik kendaraan model apapun, saya cenderung tidak bisa menemukan masalah yang bisa saya keluhkan.
Ketika beberapa teman sampai tidak bisa tidur dan merasa badan sakit-sakit semua, saya justru bisa terlelap pulas. Karena selama ini pun, dalam situasi berdesak-desakan di dalam bus Surabaya-Semarang yang reyot dan pengap, saya toh tetap bisa tidur. Bangun-bangun paling cuma sudah basah kuyup oleh keringat.
Bus Jogja-Surabaya ugal-ugalan, tapi setidaknya lebih nyaman
Begitu juga ketika naik bus Sumber Selamat di jalur selatan. Di jalur selatan, bus ini menyimpan momok sendiri bagi pengguna jalan.
Bukan tanpa alasan kenapa namanya yang semula Sumber Kencono diganti menjadi Sumber Selamat. Tidak lain karena tragedi demi tragedi di jalur selatan yang ditimbulkan oleh PO bus asal Krian, Sidoarjo, Jawa Timur, ini setelah berjaya pada medio 1990-2000-an. Pada saat itu, nama bus ini sampai diplesetkan menjadi “Sumber Bencono” (Sumber Bencana).
Terdesak oleh kemarahan publik dan ancaman pencabutan izin operasi oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub), manajemen melakukan langkah darurat. Armada dikurangi hingga 40%. Tepat pada 14 Juli 2011, sebanyak 80 armada pertama secara resmi diganti namanya menjadi PO Sumber Selamat. Nama baru ini mengusung doa dan komitmen total untuk keselamatan.
Sejak 2024, saya mulai sering naik bus Sumber Selamat untuk melakukan perjalanan Jogja-Surabaya. Kala itu, beberapa teman mengaku tidak habis pikir, karena dibanding naik kereta api kenapa saya justru lebih memilih menyiksa fisik naik bus Sumber Selamat? Ditambah lagi narasi bahwa bus ini masih tidak berubah: masih dikenal awur-awuran dan menjadi biang maut di jalanan.
Bertahun-tahun naik bus ugal-ugalan di rute Surabaya-Semarang seperti Sinar Mandiri dan Widji sudah membuat saya kebal. Maka saya tidak menemukan masalah adaptasi ketika mulai mencoba naik bus Sumber Selamat yang memang benar sangat ugal-ugalan. Bahkan ketika penumpang lain berteriak histeris mendapati bus Sumber Selamat yang nyaris menabrak kendaraan lain, tidak lantas membuat saya panik. Kaget, iya. Tapi kalau panik takut terjadi tabrakan, porsinya masih sangat tipis.
Saya justru lebih menikmati bus Sumber Selamat. Di kelas ekonomi rute Jogja-Surabaya, setidaknya bus ini jauh lebih nyaman ketimbang bus Surabaya-Semarang. AC berfungsi baik, kursinya pun nyaman.
Minimal itu dulu. Sehingga seugal-ugalan apa pun sopirnya, asal saya bisa merebahkan punggung dengan nyaman dan dalam suasana sejuk, tidak lama kemudian saya pasti akan tertidur.
Bus Surabaya-Semarang seperti Sinar Mandiri terkesan “sing penting gelinding”
Namun sebaliknya, penumpang bus jalur selatan belum tentu sanggup jika naik bus jalur pantura. Ada beberapa teman yang mengakui demikian.
Bus Sumber Selamat yang sudah cukup nyaman dalam versi saya saja masih kurang enak dalam versi mereka. Sehingga mereka lebih sering menggunakan bus kelas eksekutif seperti Sugeng Rahayu dan sejenisnya.
Akan tetapi, mereka mengaku kaget ketika melihat konten yang belakangan viral di media sosial TikTok: sebuah bus ringsek bak rongsokan—yang tidak lain adalah bus Sinar Mandiri Surabaya-Semarang—masih beroperasi dengan leluasa di jalan raya.
“Jancok, asal gelinding wae cok!” Begitu komentar mereka setelah melihat kondisi dalam armada yang disorot dalam video: kursi compang-camping, besi karatan, ketiadaan AC, dan kecenderungan mengangkut penumpang sampai berdesak-desakan seperti ikan pindang.
Dari melihat itu saja, sudah cukup membuat mereka angkat tangan. Rasa-rasanya tidak akan sanggup naik bus rongsokan yang tampak pengap dan lebih tidak meyakinkan lagi soal keamanan.
Kalau ugal-ugalan tapi armada dalam kondisi bagus, minimal masih bisa husnuzon bahwa seluruh perangkat bus masih berfungsi maksimal. Nah kalau kondisi busnya sudah karatan dan mirip rongsokan, ya jelas cuma bisa suuzon.
Lihat postingan ini di Instagram
Menurunkan penumpang sambil tetap jalan, senam jantung saat turun
Satu lagi bagian yang membedakan bus Jogja-Surabaya seperti Sumber Selamat dengan bus Surabaya-Semarang seperti Sinar Mandiri: cara menurunkan penumpang.
Sepengalaman saya naik bus Sumber Selamat, mau banyak penumpang atau satu orang yang turun, kru bus pasti akan memastikan bahwa bus benar-benar berhenti total terlebih dulu sebelum penumpang menginjakkan kaki ke tanah. Seugal-ugalan apa pun saat melaju, menurunkan penumpang tetap pakai asas kehati-hatian.
Di bus Sinar Mandiri, Widji, atau Indonesia di pantura, situasinya berbeda. Bus hanya akan benar-benar berhenti dan menepi jika yang turun lebih dari satu orang: dua orang atau rombongan.
Sementara jika hanya satu orang, maka siap-siap senam jantung saat hendak turun. Sebab, bus hanya memelankan laju (tetapi sopir tetap menginjak gas tipis-tipis). Penumpang harus turun dalam keadaan roda bus masih berputar.
Kernet yang berdiri di pintu depan (pintu untuk turun) hanya memberi aba-aba, “Yo kiwo, kiwo (Ayo kiri, kiri).” Maksudnya, turunkan lah kaki kiri terlebih dulu. Sehingga aman dari potensi nyungsep. Walaupun, meski sudah begitu, kerap kali saya masih harus gedandapan.
Pengetahuan itu pun baru saya dapat setelah beberapa kali kemudian. Pada masa awal-awal naik bus ini, saya bahkan sempat disemprot kernet bus karena tidak lekas turun karena berpikir bus akan benar-benar berhenti dulu.
“Ayo he, ngenteni opo? Wong kesusu kok malah ora ndang gage mudun! (Ayo woi, nunggu apa? Orang (kami di bus) keburu-buru kok (kamu) malah nggak cepetan turun!).” Pantura keras, Bos! Gimana mental nggak tertempa.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Bus Surabaya-Semarang di Jam Malam Jadi Simbol Ketangguhan Ibu-ibu Pekerja Pabrik yang Bekerja Melebihi Waktu Manusiawi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan