Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
22 Februari 2026
A A
Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO

Ilustrasi - Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Rasa-rasanya hanya orang-orang tabah dan tahan derita yang masih setia naik bus ekonomi untuk rute Surabaya ke Semarang, seperti bus Indonesia atau Sinar Mandiri. Sebab, sepanjang perjalanan, tidak hanya fisik yang remuk karena diperlakukan seperti ikan pindang, tapi juga batin yang dibuat dongkol dan frustrasi. 

***

Iklan

Gara-gara jalur pantura Pati-Kudus terendam banjir pada pertengahan Januari 2026 lalu, atas saran teman rumah, untuk pertama kalinya saya menempuh perjalanan Jogja-Rembang (juga sebaliknya) menggunakan travel mobil pribadi yang mengambil rute Rembang-Blora-Purwodadi-Sragen-Solo-Klaten (rute selatan). 

Ada satu momen ketika saya berbincang dengan salah seorang penumpang, mahasiswa Jogja, yang titik turunnya sama dengan saya: Masjid Jami Lasem. Karena merasa sama-sama terhubung dengan “Lasem”, tak pelak jika perbincangan kami menjadi agak panjang. 

Salah satu yang cukup panjang adalah: kekapokannya menempuh perjalanan Lasem-Jogja dengan menggunakan bus-bus pantura Surabaya ke Semarang seperti Indonesia atau Sinar Mandiri. Ia heran kenapa saya masih tahan—dan terkesan istikamah—bepergian dengan bus ekonomi tersebut. 

Panjang dan melelahkan, tapi jadi siasat hemat

Saya bukan busmania. Akan tetapi, saya memang menikmati bepergian naik bus—terutama kelas ekonomi. Kalau rute Surabaya ke Semarang, sudah sejak kuliah (2017-2023) saya naik bus seperti Indonesia, Jaya Jaya Utama, atau Sinar Mandiri untuk berangkat/pulang Surabaya-Rembang. 

Begitu juga ketika pindah ke Jogja sejak 2024. Perjalanannya memang terasa sangat panjang dan melelahkan. Dari Rembang, saya harus naik bus arah Semarang kurang lebih sekitar 3-4 jaman. Dari Semarang, saya kemudian menyambung bus lain (hanya tersedia PATAS) arah Jogja dengan durasi yang hampir sama. 

Tarif Rembang-Semarang Rp40 ribu. Sedangkan tarif Semarang-Jogja Rp70 ribu karena memang PATAS. Total, saya harus merogoh uang Rp110 ribu untuk perjalanan tersebut. 

Biasanya saya berangkat dari Rembang jam 10 pagi. Lalu akan tiba di Jogja jam 8 malam. Panjang dan melelahkan memang. Lebih-lebih, tidak bisa leluasa juga karena jam bus Semarang-Jogja terbatas: keberangkatan terakhir jam 3 atau setengah 4 sore. Telat sedikit saja, maka pilihannya tinggal naik travel yang tentu dengan biaya lebih mahal. 

Naik bus ekonomi Surabaya ke Semarang seperti Indonesia atau Sinar Mandiri di akhir pekan: harus hadapi siksaan

Tapi saya mewajari kenapa mahasiswa Jogja asal Lasem yang saya temui di mobil travel itu kapok dan dongkol betul naik bus ekonomi Surabaya-Semarang seperti Indonesia atau Sinar Mandiri. 

Saya beri contoh gambaran situasinya dalam perjalanan saya pada momen long weekend pekan lalu: 

Naik bus ekonomi seperti Indonesia atau Sinar Mandiri di akhir pekan atau libur panjang memang harus siap fisik dan mental. Sebab, ketika bus dari arah Surabaya baru tiba di Terminal Terboyo, Semarang, dan baru hendak putar balik untuk angkut penumpang ke arah Surabaya lagi, puluhan penumpang sudah berdiri saling berdesakan. 

Tidak peduli kamu perempuan atau lansia. Semua saling berebut masuk lebih dulu, menduduki kursi lebih dulu. Jika ada orang tua yang membopong balita atau lansia yang tidak kebagian tempat duduk, jangan harap ada yang peduli. 100:1 lah orang yang bakal merelakan tempat duduknya. 

Sebab, mereka sadar, jika sopir bus sudah menginjak gas, maka sepanjang perjalanan nantinya akan menjadi “siksaan” yang seolah tiada akhir. Dan itu selalu terjadi di setiap akhir pekan dan libur panjang: saat banyak orang di perantauan memang memburu waktu untuk pulang ke kampung halaman. 

Iklan

Baca halaman selanjutnya…

Dijejal dan digencet seperti ikan pindang gara-gara tipuan sopir dan kernet, jika protes kena masalah

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 22 Februari 2026 oleh

Tags: bus ekonomibus jaya utamabus semarang surabayabus sinar mandiribus surabaya semarangJaya Utamapilihan redaksiSemarangSinar MandiriSurabaya
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO
Eksplor

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

4 Agustus 2026
Karnaval sound horeg getarkan Jawa Timur tiap Agustusan. Dosa jariah di balik gengsi antardesa, dalih selawatan, hingga perputaran ekonomi di bawah MOJOK.CO
Sehari-hari

Jatim Bergetar Tiap Agustusan: Dosa Jariah Sound Horeg di Balik Gengsi Antardesa hingga Selawatan Sambil Berjoget Seksi

3 Agustus 2026
Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder MOJOK.CO
Esai

Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder

31 Juli 2026
Hal-hal yang bisa ditemukan di warung madura tapi tidak dimiliki di Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih MOJOK.CO
Catatan

Hal-hal yang Bisa Ditemukan di Warung Madura tapi Tidak Ada di Koperasi Desa (Kopdes), Cukup “Berlainan” jika Disandingkan

28 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian.MOJOK.CO

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian

29 Juli 2026
Sombongkan IPK dan gelar sarjana cumlaude dari PTS Jogja. Optimis pikat HRD perusahaan incaran tapi ujungnya lontang-lantung bawa lamaran pekerjaan MOJOK.CO

Dulu “Sombongkan” IPK dan Gelar Sarjana Cumlaude, Kini Malu Lontang-lantung Cari Kerja karena Tren HRD Tak Terpikat IPK

29 Juli 2026
Penyesalan Saya Menerima Tawaran Bridesmaid dari Mantan Sahabat, Peran Paling Tak Berguna dalam Sebuah Pernikahan MOJOK.CO

Penyesalan Saya Menerima Tawaran Bridesmaid dari Mantan Sahabat, Peran Paling Tak Berguna dalam Sebuah Pernikahan

31 Juli 2026
MBG untuk sahur dan berbuka di bulan Ramadan

Putusan MK Perlu Diapresiasi, tapi Anggaran MBG Harus Tetap Keluar dari Dana Pendidikan Mulai 2027

30 Juli 2026
KAFEIN Gelar Workshop Kritik Film di DIY, Sasar Pelajar hingga Komunitas MOJOK.CO

KAFEIN Gelar Workshop Kritik Film di DIY, Sasar Pelajar hingga Komunitas

3 Agustus 2026
Caffino Srikandi Merdeka Cup: turnamen sepak bola putri internasional di Kudus, momentum bakat muda Indonesia unjuk kualitas MOJOK.CO

Srikandi Merdeka Cup: Turnamen Sepak Bola Putri U-16 Level Internasional di Kudus, Momentum Unjuk Kualitas untuk Tembus Timnas

3 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.