Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
21 Juli 2026
A A
kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO

Ilustrasi lulusan SMA di keluarga sarjana (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Meski berhasil mapan dan mendapatkan karier kerja cemerlang, lulusan SMA ini diam-diam menyesal. Ia merasa iri pada para sarjana yang bisa mendapatkan privilese lebih bermodal ijazah S1.

***

Iklan

Di usia 30 tahun, Bima* sudah menggenggam apa yang dikejar banyak perantau di Jogja. Ia punya posisi aman sebagai kepala toko di sebuah jejaring ritel ternama. 

Setiap pagi, ia mengendarai Honda PCX miliknya sendiri membelah jalanan Jogja. Di akhir pekan, ia rutin nongkrong dan beberapa kali mentraktir teman-temannya ngopi enak di kafe. 

Secara finansial, Bima menang. Namun, ada satu hal yang kerap membuatnya diam-diam merasa kalah: ijazah SMA.

“Aku nggak bisa bohong, setiap kali ngomongin ijazah aku kayak orang yang kecil banget,” ujarnya saat mengobrol dengan saya beberapa hari yang lalu.

Bima, bisa jadi, menjadi potret orang-orang yang berhasil meretas kerasnya bursa kerja tanpa gelar akademik. Ia punya uang dan jabatan. Meski begitu, di negara yang memuja gelar, kenyamanan finansial ternyata gagal membungkam rasa inferior.

Jadi paling “OP” di toko, tapi tak bisa naik jabatan lebih tinggi

Sepuluh tahun bekerja dari bawah, Bima hafal luar-dalam operasional toko tempatnya bekerja. Ia tahu cara menghadapi distributor yang sulit. Ia juga teliti menyusun jadwal sif yang adil untuk belasan anak buahnya.

“Aku udah paling OP (over power) lah ibaratnya di toko,” katanya sambil tertawa. 

Ketika posisi Manajer Area kosong pada awal tahun lalu, ia merasa wajar jika kursi itu layak menjadi miliknya.

Sayangnya, kenyataan berbicara lain. Tim HRD menolak pengajuannya tanpa melihat kinerjanya sama sekali. Alasannya: posisi manajerial mewajibkan gelar minimal sarjana. 

“Aku bisa aja ambil (kuliah) kelas karyawan. Banyak yang menyarankan juga. Tapi buat apa, kan nasi juga udah jadi bubur,” sesal lulusan SMA ini.

Jabatan itu, akhirnya jatuh ke tangan seorang karyawan yang baru lulus beberapa tahun lalu dari kampus swasta. Yang kalau kata Bima, “belum pernah sekalipun berdiri menjaga mesin kasir.”

Ironi paling menyakitkan terjadi beberapa hari kemudian. Bima ditugaskan melatih manajer baru tersebut. Ia terpaksa membagikan ilmu lapangan bertahun-tahun kepada seseorang yang di bulan-bulan berikutnya akan memberinya perintah. 

Iklan

Di titik ini, Bima mengaku benar-benar merasakan kenyataan pahit. Di dunia korporat, keringat dan jam terbang kerap kali harus tunduk pada gelar di ijazah.

Takut pindah tempat kerja karena cuma lulusan SMA

Tak sampai di situ. Bima merasa, kenyamanan hidupnya saat ini sebenarnya berdiri di atas pijakan yang rapuh. Perusahaannya memang stabil, tapi ancaman resesi bisnis ritel selalu membayangi. 

Teman-temannya sering menyarankan Bima untuk mencoba melamar ke perusahaan lain dengan tawaran gaji lebih tinggi, misalnya. Namun, setiap kali mendengar saran itu, Bima hanya tersenyum kecut.

Ia tahu betul bagaimana sistem rekrutmen hari ini bekerja. Perusahaan modern menggunakan Applicant Tracking System (ATS), mesin penyaring otomatis. Alhasil, begitu sistem membaca pendidikan terakhirnya setingkat SMA, lamarannya akan langsung dibuang jauh sebelum dibaca oleh HRD.

“Kalau udah ngelawan mesin, pengalaman mimpin tim bertahun-tahun nggak bakal ada harganya,” kata dia.

Bima sadar dirinya terjebak. Ia harus bertahan mati-matian di perusahaannya sekarang dan menoleransi rasa sakit hatinya. Di luar sana, bagi dia, pasar tenaga kerja terlalu buta untuk membaca keahlian orang tanpa embel-embel gelar S1.

Cuek di luar, iri di dalam

Untuk menutupi rasa tidak amannya, Bima kerap menggunakan kesuksesan materialnya sebagai tameng pertahanan diri. Ketika melihat kawan-kawannya yang sarjana kesulitan mencari kerja, ia sering berujar santai. 

“Buat apa kuliah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya susah cari kerja.”

Ucapan itu terdengar arogan. Padahal, itu adalah cara Bima mengobati egonya sendiri. 

Bima mengaku sadar, secara karier barangkali ia lebih unggul daripada teman sebayanya yang sarjana. Namun, di saat yang bersamaan, ia miskin secara intelektual.

Saat teman-temannya mulai bernostalgia di meja tongkrongan, Bima langsung merasa terasing. Saat teman-temannya mengingat kekonyolan masa ospek, menceritakan susahnya bikin skripsi, atau mengenang cinta lokasi saat KKN di desa terpencil, ia sama sekali nggak relate. 

“Jujur ya manusiawi, pengen juga merasakan nostalgia kayak begitu.”

Dalam obrolan seperti itu, Bima hanya bisa diam. Karier menterengnya, tak sanggup membeli romansa masa muda yang terpaksa ia lewatkan akibat keengganannya buat kuliah satu dekade lalu.

Belum lagi, Bima juga mengaku, setiap musim wisuda tiba, ia sering memperhatikan anak-anak muda berbalut toga hitam. Di lubuk hatinya yang paling sunyi, ia masih bertanya-tanya, bagaimana rasanya memakai jubah itu.

“Kayaknya sih udah nggak bisa ya. Hahaha,” pungkasnya sambil tertawa.

Keterangan (*): bukan nama sebenarnya

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan atau liputan Mojok di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 21 Juli 2026 oleh

Tags: ijazah s1ijazah SMAIroni pekerja JogjaJogjalulusan smaLulusan SMA mapanMental block tanpa ijazahpekerja jogjaPrivilese gelar sarjanaRealitas dunia kerjaSMASusah naik jabatansyarat ijazah S1
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO
Kabar

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
sarjana, ijazah s1, pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO
Sehari-hari

Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan

20 Juli 2026
Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO
Urban

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Pengalaman buruk investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu MOJOK.CO

Pengalaman menyedihkan investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu per bulan bikin saya kapok dan memutuskan pindah ke deposito demi ketenangan hidup

16 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Pemuda lulusan SMK tidak menyerah mencari kerja dengan modal ijazah SMK demi orang tua MOJOK.CO

Modal Ijazah SMK dan Pengalaman Tak Nyerah Cari Kerja demi Orang Tua, Meski Sering Terima “Penolakan” karena Fisik

21 Juli 2026
Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.