Tidak bahagia dan menyesal karena dipaksa lanjut S2 oleh ibu. Kini lebih bahagia dan tenang setelah fokus berkebun dan menanam cabai rawit.
Istri saya tak benar-benar menikmati masa perkuliahan. Dia menamatkan S1 di Pendidikan Bahasa Inggris sebuah kampus swasta. Di kampus yang sama, dia menyelesaikan S2 dengan konsentrasi yang sama. Rasa sesal itu datang karena paksaan ibu untuk melanjutkan studi.
Istri saya tak pernah membayangkan dia akan kuliah S2 setelah lulus S1. Di dalam kepalanya, hanya ada karier, mencari uang, dan menabung. Pilihan pertama, dia sudah punya rencana untuk bekerja jauh dari Jogja. Pilihan kedua, istri saya ingin melanjutkan usaha keluarga yang memang sudah terbukti menghasilkan pundi-pundi uang, yaitu menanam cabai rawit.
Entah kenapa, tangan istri saya itu mirip dengan tangan ibu mertua. Katanya, tangan mereka “hangat”. Jadi, menanam apa saja, pasti tumbuh.
Kalau tanam buah, ya berbuah. Kalau menanam sayuran, bisa panen sendiri untuk kebutuhan makan sehari-hari. Saat saya menyelesaikan tulisan ini, istri saya sedang menanam terong di samping kiri rumah kami.
Lanjut S2 karena paksaan ibu
Hubungan istri dan ibu mertua saya rasanya memang love-hate relations. Kalau lagi “akrab”, mereka bisa ngobrol berjam-jam di teras rumah sambil memilah kiloan petai yang baru saja kami panen. Kalau lagi “marahan”, suara mereka menggelegar mengisi rumah. Saya dan bapak mertua lebih memilih melipir saja.
Nah, meski hubungan mereka memang “antik”, istri saya tidak bisa menolak permintaan ibu mertua. Salah satunya adalah lanjut S2 dan nanti kalau lulus, jadi dosen. Atau, minimal, menjadi guru di sebuah sekolah bergengsi.
Bahkan, suatu ketika, ibu mertua saya bilang mau bikin sekolah sendiri dan istri saya yang jadi kepala sekolah. GOKIL. Dari mana asal uangnya? Salah satunya, dan porsi terbesar, dari hasil panen cabai rawit.
Kondisi “ada uang” ini yang membuat istri saya tidak bisa menolak paksaan ibu. Semua itu terjadi karena istri saya salah ngomong. Dia bilang mau lanjut S2 kalau sudah punya sendiri karena masalah uang bisa menjadi stres ke depan. Namun, semua kilah itu gugur ketika ibu mertua saya menyuruh istri saya membuka nominal rekeningnya.
Baca halaman selanjutnya: Kini bahagia di kebun dan di tengah tanaman yang menghasilkan cuan.














