Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Tajuk

Horor Pendidikan di Jogja: Balita Dianiaya, Mahasiswa Dilecehkan

Redaksi oleh Redaksi
25 Mei 2026
A A
Horor Pendidikan di Jogja: Balita Dianiaya, Mahasiswa Dilecehkan MOJOK.CO

Ilustrasi: Horor Pendidikan di Jogja: Balita Dianiaya, Mahasiswa Dilecehkan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Yogyakarta selalu bangga dengan predikatnya sebagai Kota Pendidikan. Namun, predikat itu mendadak terasa getir dan ironis belakangan ini. Belum hilang ingatan publik atas kasus memilukan di sebuah daycare di Kota Jogja, fakta pahit kembali menghantam dunia pendidikan tinggi. Kampus yang seharusnya menjadi tempat paling aman untuk tumbuhnya intelektualitas, justru berubah menjadi ruang trauma.

Benang merah dari kekerasan di daycare dan apa yang terjadi di dunia pendidikan tinggi adalah runtuhnya jaminan ruang aman. Jika di level penitipan anak atau daycare korbannya adalah balita yang belum bisa bicara, di level pendidikan tinggi korbannya adalah mahasiswa yang dibungkam oleh relasi kuasa. 

Polanya serupa, ada otoritas yang disalahgunakan dan ada pengawasan institusi yang bobol.

Memutus rantai relasi kuasa dalam proses akademik

Peristiwa terbaru yang menjadi alarm darurat ini berbunyi keras ketika UPN Veteran Yogyakarta menonaktifkan 5 orang dosennya akibat dugaan kekerasan seksual berupa berupa pelecehan verbal terhadap belasan korban di lingkungan kampus.

Ini bukan lagi sekadar oknum tunggal yang kebetulan khilaf, melainkan sebuah indikasi kuat adanya gunung es dari ekosistem akademik yang tidak sehat. Lingkungan yang diisi oleh kaum intelektual ternyata tidak otomatis bebas dari perilaku predator.

Akar dari suburnya pelecehan di lingkungan perguruan tinggi adalah ketimpangan relasi kuasa yang akut. Dosen memegang kendali absolut atas nasib akademis mahasiswa, mulai dari nilai mata kuliah hingga kelulusan skripsi. Celah inilah yang kerap dimanfaatkan oleh predator berkedok pendidik. Kampus-kampus lain di Yogyakarta harus segera mengintervensi ruang-ruang privat ini secara struktural.

Harus ada aturan hitam di atas putih yang melarang keras segala bentuk bimbingan akademik di luar jam kerja atau di tempat-tempat privat seperti rumah pribadi, hotel, atau kafe yang tidak semestinya. Selain itu, sistem penilaian harus dibuat lebih transparan melalui mekanisme banding nilai. Mahasiswa tidak boleh lagi dibiarkan berjuang sendirian di ruang bimbingan tanpa sistem pengaman yang melindungi hak-hak mereka.

Menyediakan kanal aduan yang anonim dan terlindungi

Mengapa banyak korban memilih bungkam? Karena ketakutan mereka sangat nyata: disalahkan oleh lingkungan (victim-blaming), diintimidasi oleh pelaku, atau yang paling fatal, dikeluarkan dari kampus. 

Menjawab ketakutan ini, institusi pendidikan harus membangun whistleblowing system (sistem pelaporan pelanggaran) berbasis digital yang menjamin kerahasiaan identitas pelapor sejak hari pertama.

Ujian sejati dari keberpihakan kampus bukan terletak pada seberapa megah gedung rektoratnya, melainkan seberapa aman seorang korban ketika menyuarakan kebenaran.
Kampus wajib menyediakan pendampingan psikologis profesional yang berkelanjutan dan bantuan hukum cuma-cuma, bukan justru sibuk menyewa pengacara untuk meredam berita demi menyelamatkan muka institusi.

Sangat ironis ketika birokrasi kampus kerap menghabiskan energi untuk merazia cara berpakaian mahasiswa dengan dalih menjaga moralitas, namun menutup mata terhadap perilakunya sendiri yang amoral di ruang dosen. 

Sudah saatnya setiap perguruan tinggi melakukan audit budaya secara menyeluruh. Edukasi mengenai kekerasan seksual, batasan relasi kuasa, dan pentingnya konsensus (persetujuan) harus digulirkan secara masif. Bukan sekadar formalitas saat orientasi mahasiswa baru.

Lebih dari itu, pakta integritas anti-kekerasan seksual yang memuat sanksi pemecatan langsung harus ditandatangani oleh seluruh dosen dan tenaga kependidikan tanpa terkecuali, disertai pemeriksaan latar belakang (background check) yang ketat.

Transparansi sanksi dan jalur hukum di kasus dunia pendidikan

Penyakit kronis yang paling sering membunuh keadilan di lingkungan akademik adalah menutupi aib demi menjaga nilai baik dan akreditasi. Frasa “diselesaikan secara kekeluargaan” harus dihapus dari kamus penanganan kekerasan seksual di kampus. 

Iklan

Kampus harus berani bersikap transparan dengan mengumumkan setiap sanksi pemecatan atau penonaktifan pelaku secara terbuka kepada publik, tanpa membuka identitas korban. Ini penting untuk memberikan efek jera (deterrent effect) sekaligus mengembalikan kepercayaan publik yang telah luntur.

Keberadaan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) atau Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) di banyak kampus jangan terkesan sekadar formalitas. Perguruan tinggi harus berani menempatkan satgas ini lepas dari intervensi birokrasi di level kampus.

Terpenting, tindakan administratif seperti penonaktifan tidak boleh menjadi akhir cerita. Kampus wajib proaktif menggandeng aparat penegak hukum agar setiap tindakan kejahatan seksual diselesaikan di meja hijau menggunakan instrumen UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS).

Peristiwa di UPN Veteran Yogyakarta adalah cermin retak sekaligus horor bagi seluruh institusi pendidikan di provinsi ini. Yogyakarta tidak boleh lagi diam dan pasif. Nama baik sebuah universitas atau lembaga pendidikan tidak akan runtuh karena mereka berani mengungkap borok di dalamnya. 

Sebab, reputasi akademis akan runtuh dan membusuk ketika kampus justru membiarkan predator berkeliaran bebas di ruang tumbuhnya intelektualitas. Menjadi ruang aman bagi anak didik adalah harga mati. Tanpa itu, predikat Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan tak lebih dari sekadar jargon usang yang kehilangan martabatnya. (*)

Terakhir diperbarui pada 25 Mei 2026 oleh

Tags: MahasiswapelecehanPendidikantajuk
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Harga Kopi dan Ketakutan Dosen Bergelar Doktor pada Portal Error Menjelang Deadline MOJOK.CO
Esai

Harga Kopi dan Ketakutan Dosen Bergelar Doktor pada Portal Error Menjelang Deadline

25 Mei 2026
Catatan Getir Dosen Kalcer: Tampil Keren, tapi Cemas Mahasiswanya Jadi Sarjana Menganggur MOJOK.CO
Esai

Catatan Getir Dosen Kalcer: Tampil Keren, tapi Cemas Mahasiswanya Jadi Sarjana Menganggur

20 Mei 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi Dapat KIP Kuliah Memang Ada, Uang Beasiswa Habis buat Hedon agar Diakui di Tongkrongan

14 Mei 2026
Guru PPPK Paruh Waktu, guru honorer, pendidikan.MOJOK.CO
Kabar

JPPI Kritik Aturan Baru SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026: Nasib 2,3 Juta Guru Non-ASN Terancam di Ujung Tanduk

8 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas Mojok.co

Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas

18 Mei 2026
Mahasiswa dapat beasiswa KIP Kuliah bohongi orang tua demi uang saku dobel MOJOK.CO

Dapat Beasiswa KIP Kuliah Jalur FOMO, Bohongi Ortu biar Dobel Uang Saku karena Gaya Hidup Tak Cukup Rp750 Ribu

20 Mei 2026
Anak Jakarta vs Anak Kabupaten.MOJOK.CO

4 Tahun Merantau di Jakarta Bikin Sadar, “Orang Kabupaten” Jauh Lebih Toksik dari Anak Jaksel: Sialnya, Susah di-Cut Off

19 Mei 2026
Lewat album "Jalan Kaki" - Hifdzi Khoir ceritakan perjalanan hidup, juga sebagai legacy dari mendiang Gusti Irwan Wibowo MOJOK.CO

Album “Jalan Kaki”: Cara Hifdzi Khoir Bercerita tentang Perjalanan Hidup, Jadi Legacy dari Mendiang Gusti

19 Mei 2026
Harga Kopi dan Ketakutan Dosen Bergelar Doktor pada Portal Error Menjelang Deadline MOJOK.CO

Harga Kopi dan Ketakutan Dosen Bergelar Doktor pada Portal Error Menjelang Deadline

25 Mei 2026
Sikap atau reaksi pekewuh dan basa-basi ala orang Jawa jadi karakter yang justru merepotkan diri sendiri MOJOK.CO

Sikap Pekewuh dan Basa-basi Ala Orang Jawa bikin Repot Diri Sendiri, Sialnya Tak Gampang buat Terus Terang

21 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.