Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Sikap Pekewuh dan Basa-basi Ala Orang Jawa bikin Repot Diri Sendiri, Sialnya Tak Gampang buat Terus Terang

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
21 Mei 2026
A A
Sikap atau reaksi pekewuh dan basa-basi ala orang Jawa jadi karakter yang justru merepotkan diri sendiri MOJOK.CO

Ilustrasi - Sikap atau reaksi pekewuh dan basa-basi ala orang Jawa jadi karakter yang justru merepotkan diri sendiri. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Orang Jawa memang tumbuh dengan karakter pekewuh dan basa-basi sebagai bentuk tata krama dan rasa sungkan (tidak enak hati).

Karakter tersebut di satu sisi memang membuat seseorang terlihat penuh kesantunan. Namun, di sisi lain, beberapa orang Jawa justru merasa bahwa sikap—khususnya reaksi—pekewuh dan basa-basi justru sangat merepotkan diri sendiri. 

#1 “Mboten usah”, sikap pekewuh dan basa-basi ala orang Jawa yang kerap berujung sesal

Bukan hanya sekali, teman kampung saya asal Rembang, Jawa Tengah, mengaku amat sering terjebak dalam sikap pekewuh dan basa-basi yang sering ia tunjukkan sendiri. Terutama jika berurusan dengan pemberian orang lain. 

Ketika ada orang yang hendak memberi sesuatu (uang, barang, atau sesederhana misalnya bingkisan saat berkunjung ke rumah saudara), reaksi pertama dan secara otomatis muncul darinya adalah ucapan: “Mboten usah (Nggak usah).” 

Mungkin ada orang Jawa yang benar-benar menolaknya karena didorong rasa pekewuh, tidak enak. Namun, ada juga tipikal orang seperti teman saya itu: sikap pekewuh tersebut sebenarnya bentuk basa-basi. 

Dalam istilah Jawa disebut dengan ethok-ethok (pura-pura). Jadi meski reaksinya menolak, tapi dalam hati sebenarnya ia sangat ingin menerima. Ia hanya butuh dipaksa. Kalau sudah dipaksa berkali-kali, baru lah ia bisa menerima. 

Masalahnya, dalam beberapa kasus yang sering teman saya alami, paksaan yang berulang dengan kesan “maksa banget” agar pemberian diterima itu tidak terjadi. Alhasil, sikap pekewuh dan basa-basi ala orang Jawa yang ia tunjukkan malah berujung penyesalan. 

Sebab, ia akhirnya tidak menerima pemberian sama sekali, karena si pemberi sudah kepalang menganggap kalau pemberiannya sudah ditolak. 

#2 “Santai mawon”, ungkapan yang membuat tamu makin lama tidak beranjak

Kalau saya ingat-ingat, saya sendiri ternyata juga sering terjebak dengan reaksi pekewuh dan basa-basi tiap kali menerima tamu di rumah. 

Saya bukannya tidak senang jika ada tamu. Namun, kadang kala, jika saya sudah sangat lelah sementara para tamu tersebut justru tampak masih betah, saya agak kerepotan untuk meladeni. 

Sebagai orang yang tumbuh dengan karakter khas Orang Jawa, jelas saya tidak sampai hati jika terkesan “mengusir”. Sekadar mengusir halus dengan mengeluh kalau saya sudah lelah atau ngantuk saja saya tidak bisa. 

Alhasil, satu-satunya hal yang bisa saya lakukan adalah tetap mencoba meladeni setiap obrolan, pura-pura antusias menyimak, dan bersikeras menyembunyikan raut lelah, menunggu para tamu benar-benar berinisiatif pamit undur diri. 

Sebenarnya, ada kalanya salah seorang dari para tamu yang datang menyadari kalau mereka sudah teramat lama bertamu. Namun, saat mereka “basa-basi” berpamitan, saya justru spontan merespons dengan ungkapan “Santai mawon (Santai aja dulu).” 

Reaksi spontan itu muncul lantaran dorongan perasaan tidak enak: Takut kalau-kalau saya menunjukkan kesan pengusiran sehingga mereka berpikir untuk pamit. 

Iklan

Di situ lah letak merepotkannya bagi saya. Sebab, setelah mendapat jaminan “santai aja dulu”, pada akhirnya rencana pamitan pun ditunda sampai waktu tidak ditentukan. Alhasil, saya yang sudah kelelahan mau tidak mau harus tetap meladeni. 

#3 “Mboten napa-napa”: reaksi pekewuh dan basa-basi ala orang Jawa yang berarti sebaliknya

Seorang responden Mojok, pemuda 27 tahun pekerja swasta asli Jogja, turut mengakui, betapa sikap atau reaksi pekewuh dan basa-basi ala orang Jawa membuatnya kerap terjebak dalam perasaan dongkol nan sumpek. Sialnya, perasaan tersebut tidak bisa tersalurkan, hanya bisa dipendam sendiri. 

Misalnya, ia sering berhadapan dengan orang-orang yang tidak tepat waktu setiap membuat janji temu. Itu membuatnya kesal sekali. 

Akan tetapi, ketika orangnya sudah datang dan minta maaf karena telat, responden Mojok ujungnya hanya bisa berkata “Mboten napa-napa (Nggak apa-apa/Nggak masalah),”, karena ia tidak sampai hati untuk menegur atau marah. 

Reaksi semacam itu pada akhirnya membuatnya terjebak dalam lingkaran setan. Barangkali karena dianggap sebagai orang yang toleran atas keterlambatan, alhasil setiap membuat janji temu, pasti orang-orang lebih sering datang terlambat. 

Berlaku juga dalam urusan bantu-membantu. Responden Mojok asal Jogja ini mengaku kerap direpotkan orang lain yang butuh bantuan. Yang paling sering adalah persoalan utang. Padahal ia sendiri merasa tidak pernah merepotkan apalagi sampai utang ke orang lain. 

Tiap kali si orang yang merepotkan atau utang bilang “Mohon maaf telah merepotkan”, reaksi “Mboten napa-napa” dari responden Mojok—yang awalnya ditujukan untuk memberi kesan baik—justru menjadi bumerang bagi diri sendiri. 

Pasalnya, sebenarnya ia bukannya aman-aman saja, tapi kesal bukan main karena selalu jadi pihak yang diutangi. Lebih-lebih, pekewuh itu kemudian disalahpahami sebagai bentuk menunda-nunda atau bahkan sama sekali tidak punya itikad baik untuk membayar utang. Repotnya lagi, karakter pekewuh menjadi penghambat responden Mojok tiap hendak menagihnya. 

#4 Tak kuasa menolak dan problematika “Monggo pinarak”

Saat membawa diskusi bab “pekewuh dan basa-basa ala orang Jawa” ini ke meja redaksi, seorang kru Liputan asal Wonogiri, Jawa Tengah langsung terbersit satu hal: Betapa susahnya orang Jawa menolak ajakan orang lain. 

Sebagai orang Jawa, tanpa sadar perasaan pekewuh menolak ternyata sudah mengendap dalam dirinya. Alhasil, ketika ada ajakan dari orang lain—untuk ngumpul, menghadiri sebuah acara, atau sekadar mampir—yang sebenarnya tidak ia kehendaki, kerepotan lah yang ia hadapi. 

Ia tidak bisa menolak ajakan secara tegas. Maka yang ia gunakan adalah basa-basi seperti: “Ya nanti nyusul”, “Nanti kalau nggak ada halangan aku datang”, atau bahkan terpaksa mampir karena kepalang tidak bisa menolak. Baginya, menghadiri perkumpulan atau acara yang tidak dikehendaki hanya buang-buang waktu dan energi. 

Di sisi lain, ia juga merasakan, sepertinya sebuah ajakan seperti ajakan mampir dengan kalimat “Monggo pinarak”, sebenarnya juga merupakan basa-basi yang tidak menyenangkan dari tuan rumah. 

Dari yang sering ia alami sendiri: “Monggo pinarak” itu sebenarnya tidak berangkat dari benar-benar ajakan untuk mampir. Sehingga, ketika orang lain mengiyakan tawaran tersebut, si tuan rumah jadi kelimpungan karena harus menyiapkan segala sesuatu. 

Memang, seringkali ada tamu yang dengan enteng mengatakan: Tidak usah repot-repot. Akan tetapi, jika si tamu merasa tidak dijamu sebaik-baiknya, ujung-ujungnya si tuan rumah bakal menjadi omongan. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Omong Kosong Slogan “Srawung” di Desa: Cuma Jahat ke Warga Miskin, Kalau Kamu Tajir Tak Perlu Membaur buat Dihormati atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 21 Mei 2026 oleh

Tags: basa-basibasa-basi jawabasa-basi orang jawajawakarakter orang jawaorang jawapekewuhpekewuh orang jawapilihan redaksi
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera: Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur MOJOK.CO
Esai

Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera: Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur

15 Juni 2026
papua.MOJOK.CO
Jagat

Masyarakat Adat di Tengah Krisis Iklim: Hak-Hak Dijegal Birokrat, Hutan Dibabat demi Konglomerat

15 Juni 2026
Gaji 2 juta hasil kerja di Jogja habis buat ngasih makan naga (judi slot) karena ilusi jackpot MOJOK.CO
Urban

Gaji 2 Juta Jogja Selalu Lenyap buat Ngasih Makan Naga: Rela Kelaparan dan Susahkan Ortu-Teman demi Jackpot, Tapi Tak Mau Sadar

14 Juni 2026
Timnas Kongo dan Wajah Baru Kolonialisme di Sepak Bola Afrika.MOJOK.CO
Fragmen

Timnas Kongo dan Wajah Baru Kolonialisme di Sepak Bola Afrika

12 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nestapa Anjing di Jogja: Dibuang Sarjana yang Baru Wisuda atau Jadi Sengsu di Atas Meja MOJOK.CO

Nestapa Anjing di Jogja: Dibuang Sarjana yang Baru Wisuda atau Jadi Sengsu di Atas Meja

8 Juni 2026
Jawa Tengah dan Bappenas bersinergi dalam percepatan pembangunan infrastruktur di Pantura dan Pansela MOJOK.CO

Pembangunan Infrastruktur Pantura dan Pansela Jadi Prioritas karena Jateng Punya Banyak Potensi Ekonomi

9 Juni 2026
Kita Sibuk Menertawakan Baby Boomer yang Tertipu AI, Padahal Gen Alpha Punya Masalah yang Lebih Berbahaya MOJOK.CO

Kita Sibuk Menertawakan Baby Boomer yang Tertipu AI, Padahal Gen Alpha Punya Masalah yang Lebih Berbahaya

12 Juni 2026
Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara.MOJOK.CO

Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara

8 Juni 2026
Timnas Kongo dan Wajah Baru Kolonialisme di Sepak Bola Afrika.MOJOK.CO

Timnas Kongo dan Wajah Baru Kolonialisme di Sepak Bola Afrika

12 Juni 2026
Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera: Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur MOJOK.CO

Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera: Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur

15 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.