Jadwal srawung yang menguras energi
Alhasil, tekanan yang Kevin rasakan di desa perlahan makin berat. Kata siapa slow living di desa itu santai? Nyatanya, menurut Kevin, jadwal sosial di desa seringkali lebih padat daripada jadwal meeting di perusahaan ibu kota.
Setiap minggu, selalu ada saja kegiatan yang menuntut kehadiran fisik. Mulai dari ronda malam, kerja bakti membersihkan makam, arisan RT, tahlilan tetangga yang meninggal, sampai rewang hajatan tetangga yang jarak rumahnya beda RT.
“Masalahnya kan di desa kalau nggak hadir di acara-acara sosial seperti ya kelar, bakal habis jadi omongan. Menabung aib,” kata dia.
Bagi Kevin yang terbiasa dengan batasan personal di kota, rutinitas ini menyedot habis energinya. Saat Kevin kelelahan dan mulai sering membolos srawung dengan alasan butuh me-time, sang istri lah yang akhirnya menjadi tameng.
“Istri kadang cerita, sering disindir ibu-ibu gitu gara-gara suami nggak pernah kelihatan. Ya ujung-ujungnya bikin berantem kan hal kayak beginian sama istri,” ujarnya.
Belum lagi soal hilangnya batasan privasi fisik. Di kota, kalau mau bertamu biasanya orang akan mengirim pesan WhatsApp dulu. Di desa kampung halaman istrinya, tetangga atau kerabat bisa tiba-tiba nyelonong masuk lewat pintu dapur hanya untuk memberikan sayur atau meminjam perkakas.
“Sering kayak gitu. Aku yang kadang cuma koloran di ruang tengah sering banget ngerasa salting di rumah sendiri.”
Cari-cari alasan buat balik ke Jakarta
Setelah beberapa bulan “mencoba bertahan”, energi Kevin akhirnya benar-benar habis. Uang financial freedom pun ternyata tidak bisa ia gunakan untuk “membeli” kebebasan dan privasinya di desa. Ia menyerah dan memutuskan untuk memboyong keluarganya pulang ke hiruk-pikuk kota.
Namun, sebagai orang yang tahu tata krama dan tak mau mencoreng nama baik mertuanya di desa, Kevin tidak mungkin pamit dengan jujur. Ia tak mungkin bilang capek dan tak betah di desa.
Ia pun mengaku menggunakan jurus alasan klasik yang sering dipakai orang kota saat gagal beradaptasi. Kepada para tetangga, ia beralasan bahwa anaknya harus segera bersiap masuk sekolah TK yang bagus di Jakarta.
Selain itu, ia juga berdalih bahwa bisnis keluarganya pasca-pandemi sedang butuh perhatian langsung sehingga ia diwajibkan untuk bekerja di kantor lagi. Alasan yang sopan, masuk akal, dan tentu saja menyelamatkan gengsi semua pihak.
“Percayalah, uang kamu banyak tapi nggak siap srawung, jangan mimpi bisa slow living di desa,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














