Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Turun Stasiun Tugu Jogja Muak sama Orang Minta Donasi: Tidak Jujur Sejak Awal, Jual Kesedihan Endingnya Jebakan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
5 April 2026
A A
Hasutan dan jebakan orang minta donasi di Stasiun Tugu Jogja, ternyata berkedok penipuan MOJOK.CO

Ilustrasi - Hasutan dan jebakan orang minta donasi di Stasiun Tugu Jogja, ternyata berkedok penipuan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ada banyak “hasutan” tidak menyenangkan yang akan menyambut penumpang saat baru turun dari Stasiun Tugu, Jogja: driver ojek online yang menawarkan jasa tanpa aplikasi, ojek pengkolan, hingga hasutan dari orang yang minta donasi. 

Setelah beberapa kali turun di Stasiun Tugu, Jogja, Prisa (26) mengaku kesal dengan cara “menghasut” orang-orang yang minta donasi. Karena bagi Prisa, mereka cenderung tidak jujur dari awal, tapi tiba-tiba menjebak seseorang pada perasaan tidak enak di akhir. 

Orang minta donasi di Stasiun Tugu Jogja menarget orang sendiri

Beberapa kali turun di Stasiun Tugu, Jogja, Prisa melihat kebanyakan orang yang minta donasi ini adalah perempuan. Mereka beroperasi di trotoar jalan persis di depan pintu kedatangan. 

Dari beberapa kali pengalaman Prisa, orang yang minta donasi seperti sudah menarget penumpang yang sendirian. Apalagi jika tampak tidak terlalu terburu-buru. 

“Aku setiap turun kan nggak buru-buru. Jalan santai aja sambil menikmati hiruk-pikuk Jogja,” ujar perempuan asal Jakarta tersebut, Sabtu (4/4/2026). 

Di momen itulah, seorang perempuan langsung menghampiri Prisa dengan sapaan khasnya: “Permisi, Kak. Boleh minta waktunya sebentar….”

Dari beberapa kali pengalaman saya turun di Stasiun Tugu, Jogja, saya dua kali mengalami hal serupa. Setelah keluar dari area peron, saya biasanya memang melipir untuk rokok sebatang sebelum memesan ojol. Di momen itu, dua kali saya dihampiri dua perempuan berbeda dengan tujuan yang sama: minta donasi. 

Orang yang minta donasi di Stasiun Tugu Jogja tidak jujur dari awal

Prisa mengaku lama-lama semakin kesal bahkan menyebut orang yang minta donasi di Stasiun Tugu Jogja “menghasut” karena tidak jujur dari awal. 

Begini, beberapa kali bertemu dengan mereka, setelah sapaan “Permisi, Kak”, mereka biasanya akan langsung menegaskan kalau mereka tidak jualan. Mereka hanya butuh waktu sebentar untuk didengar. 

“Kalau pengalamanku yang pertama sampai ketiga kali ketemu mereka, kan aku ngasih kesan penolakan dari gestur. Mereka nangkep, terus langsung bilang, ‘Tenang, Kak, kami nggak jualan kok. Kami cuma mau minta waktu sebentar, 5 menit aja.’ Ya sudah aku dengerin lah,” kata Prisa. Orang yang minta donasi itu kemudian akan mempresentasikan komunitas atau yayasan miliknya.

Ternyata jebakan di akhir…

Orang yang minta donasi itu memang menepati janji: presentasi secepat mungkin. Itu melegakan Prisa karena bisa lekas melanjutkan pesan ojol. 

Di awal-awal bertemu dengan orang yang minta donasi di Stasiun Tugu, Jogja, Prisa mengira endingnya paling-paling diminta untuk follow akun Instagram. Namun, Prisa keliru. 

Sebab, di akhir, mereka langsung nodong menunjukkan nomor rekening atau barcode QRIS: minta donasi. “Seikhlasnya aja, Kak. Donasi kakak nanti akan kami gunakan untuk bla bla bla bla,” ujar Prisa. Bahkan ada juga yang sudah mematok minimal: minimal Rp50 ribu-Rp100 ribu untuk donasi. 

Tak pelak Prisa merasa dihasut dan dijebak. Sebab, sejak awal mereka bilang tidak jualan. Asumsi Prisa mendengar itu: jika tidak jualan, artinya Prisa hanya cukup mendengarkan tanpa harus mengeluarkan uang akhirnya. Tapi ujung-ujungnya Prisa tetap mengeluarkan uang juga untuk donasi. 

Iklan

“Ujungnya jualan kesedihan dan presentasi kan. Tapi poinku gini. Jujur aja dari awal kalau minta donasi. Jadi dari situ orang bisa nentuin sendiri, mau ngasih atau nggak. Kalau orang ngerasa dihasut dan dijebak kayak aku, akhirnya malah nggak ikhlas waktu ngasih donasi,” gerutu Prisa. 

Sejak tiga kali merasa terhasut dan terjebak orang yang minta donasi di Stasiun Tugu, Jogja, Prisa akhirnya mulai menghindari area luar tiap turun. Ia memilih duduk di area dalam, memesan ojol, lalu keluar saat ojol mulai menuju titik jemput yang sudah Prisa tentukan. 

Butuh ketegaan untuk menolak, hati-hati modus penipuan 

Dalam sebuah perjalanan, saat turun di Stasiun Tugu, Jogja, seorang teman yang menyertai perjalanan saya berbisik: harus tega-tegaan menolak orang yang minta donasi. Alasan pertama, persis seperti keluhan Prisa: tidak jujur dari awal. Alasan kedua, bisa jadi ada modus penipuan di balik aktivitas minta donasi tersebut. Alasan ketiga, ya memang karena tidak pengin memberi donasi saja. 

(Dan memang ada loh yang bermodus penipuan. Pada Maret 2026 aparat Polres Kota Yogyakarta menangkap lima terduga pelaku penipuan berkedok minta donasi yang beroperasi di sekitar Stasiun Tugu. Penangkapan dilakukan setelah aksi mereka viral di media sosial dan memicu keresahan publik. Dalam laporan  Polresta Yogyakarta disebut, terungkap adanya sistem pembagian hasil di antara para pelaku.)

Bisikan itu diberikan usai teman saya itu melihat saya dihampiri oleh orang yang minta donasi, saat saya sedang menikmati sebatang rokok. (Sejak turun dari kereta, sebenarnya kami sudah pamit berpisah tujuan. Tapi ternyata, saat saya masih menikmati sebatang rokok, ia masih mengamati gerak-gerik saya dari kejauhan). 

Teman saya itu mengaku beberapa kali dihampiri orang yang minta donasi di Stasiun Tugu, Jogja. Namun, sejak sapaan “Permisi, Kak.”, teman saya sudah langsung menyergah, “Maaf saya sedang buru-buru.”

Tapi jangan anggap selesai di situ. Sebab, kalau meminjam istilah teman saya, mereka akan melayangkan hasutan memelas: Cuma sebentar dan tidak jualan. Hanya mau presentasi. 

“Aku sudah pernah pakai dua cara penolakan. Cara satu, tetap nolak walaupun mereka bilang nggak jualan atau cuma sebentar. Akhirnya mereka pergi sambil minta maaf dan terima kasih. Cara dua, aku pernah dengerin aja presentasinya, tapi pas bagian nyodorin rekening donasi, aku bilang nggak bisa ngasih. Walaupun sambil bujuk ‘seikhlasnya’ dan sambil memelas. Karena dari awal nggak ada bilang minta donasi,” beber teman saya itu. 

Selalu luluh dengan narasi orang tua dan anak-anak

Tapi ada orang yang mengaku, walaupun sering kali kesal, tapi ujung-ujungnya tetap memberi donasi karena luluh. Misalnya Darwin (31) yang kerap naik-turun kereta di Stasiun Tugu, Jogja. 

“Ya nggak setiap turun (Stasiun Tugu) terus ada orang minta donasi. Tapi beberapa kali lah. Dan aku pasti ngasih,” ujar Darwin. 

Pasalnya, Darwin menghadapi orang minta donasi yang membawa narasi orang tua dan anak-anak. Misalnya, yayasan peduli lansia terlantar atau komunitas untuk anak-anak terlantar. 

Itu membuat Darwin langsung teringat orang tuanya yang sudah sepuh dan anak-anaknya yang masih kecil. 

“Syukur orang tua dan anak-anakku hidup cukup. Mangkanya, aku nggak bisa kalau lihat ada orang tua dan anak-anak terlantar. Karena aku sendiri nggak akan membiarkan orang tua dan anak-anakku begitu,” ujarnya. 

“Kalau prinsipku, ya sudah aku ngasih donasi. Urusan ada unsur penipuan atau disalahgunakan nantinya, itu sudah jadi urusan Tuhan,” tegasnya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Pintu Timur Stasiun Tugu Jogja Nggak Cocok untuk User Eksekutif Nirempati dan Ojol yang Kesabarannya Setipis Tisu atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 5 April 2026 oleh

Tags: minta donasiminta donasi di stasiun tugupenipuan berkedok donasipilihan redaksiStasiun TuguStasiun Tugu JogjaStasiun Yogyakarta
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO
Aktual

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Kerja di Jakarta.MOJOK.CO
Urban

Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”: Bisa Bikin Finansial dan Mental Layu Sebelum Berkembang

26 April 2026
Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO
Sehari-hari

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026
Dugaan penganiayaan anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja MOJOK.CO
Aktual

Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius

25 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sebagian pengguna WiFi IndiHome beralih ke Biznet. MOJOK.CO

Ujian Terberat Pengguna IndiHome yang Dikhianati Tawaran Palsu hingga Menggadaikan Kesetiaan ke WiFi yang Lebih “Gacor”

23 April 2026
perubahan iklim, cuaca ekstrem mojok.co

Cuaca Ekstrem Tak Menentu, Pakar UGM: Bukti Nyata Perubahan Iklim

24 April 2026
Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
mabar game online.MOJOK.CO

Nongkrong Makin Membosankan dan Toksik Semenjak Teman Cuma Sibuk Main Game, Saya Dibilang Spaneng dan “Nggak Asyik” karena Tak Ikut Mabar

23 April 2026
Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026
Cerminan pemberdayaan dan kontribusi nyata perempuan di Kota Semarang MOJOK.CO

Kuatnya Peran Perempuan di Kota Semarang, Sampai Diapresiasi California State University

22 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.