Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Pintu Timur Stasiun Tugu Jogja Nggak Cocok untuk User Eksekutif Nirempati dan Ojol yang Kesabarannya Setipis Tisu

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
26 Maret 2026
A A
Stasiun Tugu Jogja nggak cocok untuk orang kaya tak bermoral. MOJOK.CO

ilustrasi - Stasiun Tugu Jogja malam hari. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Setelah mudik Lebaran 2026 di Surabaya, saya akhirnya kembali pulang ke Jogja untuk bekerja. Back to reality, bahasa kerennya. Usai menghadapi serentetan pertanyaan yang diawali dengan kata ‘kenapa?’, rupanya saya belum terhindar dari drama. Di Stasiun Yogyakarta (Tugu), pelajaran soal “vibrasi” saya langsung diuji.

***

Iklan

Lebaran tahun ini saya memilih naik kereta api (KA) Sancaka yang harganya Rp200 ribu lebih. Jujur, ini adalah pertama kali saya naik kereta tersebut karena biasanya pakai KA Sri Tanjung yang tarifnya Rp88 ribu.

Di dalam KA Sancaka, saya merasa tentram. Tak ada lagi kursi tegak yang duduknya harus berhadap-hadapan. Lebih dari itu, saya cukup menempuh perjalanan selama 4 jam lebih alih-alih naik KA Sri Tanjung yang butuh waktu 5 jam lebih.

Guna mengusir kebosanan dalam kereta, saya tak sengaja membaca sebuah tulisan dari Sitti Rachmi Masie soal “Vibrasi Kebaikan Lewat Kata”. Dalam buku Good Vibes Only yang terbit tahun 2022 itu, Sitti menjelaskan soal makna vibrasi, yakni getaran energi yang memancar ke dalam diri seseorang.

Orang yang memiliki vibrasi tinggi biasanya mudah menarik hal-hal baik dalam hidupnya, merasa bahagia, damai, dan mampu menghadapi tantangan dengan optimis. Saya pikir skill ini perlu dimiliki setiap orang apalagi di masa chaos seperti sekarang.

Hal itulah yang saya coba terapkan saat menghadapi bapak ojek online (ojol) di Stasiun Tugu. Alih-alih melontarkan kalimat negatif atau marah-marah tidak jelas karena sikapnya, saya memilih memahami situasi dan kondisi bapak tersebut.

Stasiun Tugu Jogja terlalu ramai saat mudik Lebaran

Saya tiba di pintu timur Stasiun Tugu pukul 20.38 WIB pada Senin (23/3/2026). Suasana di dalam stasiun cukup ramai saat itu, apalagi di area luarnya. Mereka bukan hanya pengguna kereta tapi orang-orang yang sedang liburan di kawasan Malioboro. Maklum, karena lokasinya berdekatan.

Sebagai orang introvert yang baterai sosialnya cepat habis di tengah keramaian, saya ingin buru-buru kembali ke kosan di daerah Kaliurang. Namun ternyata, saya harus menunggu hampir satu jam di Stasiun Tugu Jogja.

20 menit usai turun dari KA Sancaka, seorang driver motor akhirnya menerima pesanan saya. Menurut aplikasi, saya harus menunggu ojol lagi sekitar 8 menit. Tak lama kemudian, bapak ojol mengirimkan pesan suara kepada saya.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

“Kak bisa jalan ke Arte Hotel?” tanyanya.

“Arte Hotel ya Pak? Baik,” jawab saya yang sebetulnya sudah berjalan ke arah berseberangan, tepatnya di Hotel Mulia Kencana agar terhindar dari macet.

Namun saya pikir si bapak ojol bakal lebih cepat tiba jika saya menunggu sesuai perintahnya. Alhasil, saya rela berjalan sekitar 400 meter ke Arte Hotel Malioboro yang rupanya lebih banyak orang dibanding tempat saya menunggu tadi.

Walaupun kesal karena sudah berjalan jauh sambil membawa tas tenteng yang berat, saya tetap menurutinya. Ingat ilmu vibrasi tadi: lepaskan perasaan bahwa kamu bisa mengontrol segalanya, sehingga terhindar dari drama yang tidak perlu.

Iklan

Turun di Stasiun Tugu langsung disuguhi ketimpangan sosial

40 menit berlalu, tapi bapak ojol tak kunjung kelihatan batang hidungnya. Sementara saya hanya diam dan mengamati suasana keramaian orang-orang sekitar. Pemandangan yang saya lihat, sedikit berbeda dengan suasana di Stasiun Lempuyangan—tempat saya turun biasanya menggunakan KA Sri Tanjung. 

Di sekitar Stasiun Tugu Jogja, saya banyak melihat orang keluar masuk hotel berbintang atau sekadar liburan membeli makan di restoran dan jalan-jalan di Malioboro. Sementara di Stasiun Lempuyangan tak berdekatan dengan hotel maupun tempat wisata.

Baca Halaman Selanjutnya

Namun, ada kesamaan yang tak kasat mata

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 27 Maret 2026 oleh

Tags: KA Sancakaka sri tanjungmudik lebaranStasiun LempuyanganStasiun TuguStasiun Yogyakartavibrasivibrasi tinggi
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Angkringan di Stasiun Lempuyangan Jogja jadi tempat meleram kegelisahan MOJOK.CO
Catatan

Angkringan Lempuyangan Jogja Berisi Rindu, Kegagalan, dan Beban Finansial Para Pejuang Perantauan

22 Juni 2026
Menormalisasi pakai jasa porter di stasiun kereta api MOJOK.CO
Urban

Pakai Jasa Porter di Stasiun meski Bisa Bawa Barang Sendiri: Sadar 50 Ribu Itu Tak bikin Rugi, Tapi Justru Belum Seberapa

23 April 2026
Hasutan dan jebakan orang minta donasi di Stasiun Tugu Jogja, ternyata berkedok penipuan MOJOK.CO
Sehari-hari

Turun Stasiun Tugu Jogja Muak sama Orang Minta Donasi: Tidak Jujur Sejak Awal, Jual Kesedihan Endingnya Jebakan

5 April 2026
User kereta api (KA) ekonomi naik bus Sumber Selamat: sebenarnya kursi lebih nyaman, tapi ogah tersiksa lebih lama MOJOK.CO
Sehari-hari

User Kereta Ekonomi Naik Bus Sumber Selamat karena Tak Ada Pilihan: Kursi Lebih Nyaman, Tapi Dibuat Hampir Pingsan

2 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Seporsi kemenangan kecil yang bisa dirayakan di kehidupan dewasa usai berporsi-porsi kekalahan MOJOK.CO

Menemukan Seporsi Kemenangan yang Layak Dirayakan usai Berporsi Kekalahan dari Kehidupan Dewasa yang Bikin Setengah Gila

7 Juli 2026
Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda MOJOK.CO

Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda

10 Juli 2026
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menyerahkan hibah daerah ke ormas, tempat ibadah, dan para seniman MOJOK.CO

Hibah Pemkab Sleman untuk Ormas, Tempat Ibadah, dan Seniman: Serahkan Ratusan-Miliaran Juta untuk Dioptimalkan

10 Juli 2026
Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik India menjalin kesepakatan kerja sama konservasi terhadap Candi Perwara Kompleks Candi Prambanan MOJOK.CO

Menerjemahkan Candi Prambanan sebagai Bukti Historis Hubungan Nusantara-India

8 Juli 2026
Terima Kasih No Na! "Udah Siap Belum?" Akhirnya Mengalahkan "Mas Bahlil Ganteng" di Kepala Bocil

Terima Kasih No Na! “Udah Siap Belum?” Akhirnya Mengalahkan “Mas Bahlil Ganteng” di Kepala Bocil

6 Juli 2026
Kesejahteraan Dosen dan Rasa Aman yang Masih Jadi Angan-angan MOJOK.CO

Kesejahteraan Dosen dan Rasa Aman yang Masih Jadi Angan-angan

6 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.