Namun, ada kesamaan yang tak kasat mata antara Stasiun Tugu Jogja dan Stasiun Lempuyangan, yakni di antara orang-orang yang membawa koper dan ingin bersenang-senang itu, ada banyak pedagang bakso, cilok, hingga tukang ojek pengkolan yang mencari nafkah. Begitu pula bapak ojol yang sedang berjuang menjemput saya.
Mengingat kondisi tersebut, saya yang tadinya kesal karena harus menunggu lama, jadi tak enak hati untuk protes dan tetap sabar menanti kedatangan sang ojol. Tak lama kemudian, Bapak ojol tadi mengirim foto tempat lokasinya berada, yang mana saya harus jalan lagi sekitar 100 meter untuk menemukannya. Tak sampai di situ, kesabaran saya masih diuji saat kami berdua akhirnya bertemu.
Nyaris batal pesan ojol di Stasiun Tugu Jogja
“Kak, boleh pinjam powerbank nggak? Karena baterai saya habis” ujar Bapak ojol itu setelah kami bertemu di Stasiun Tugu Jogja.
“Maaf Pak, saya nggak ada powerbank,” jawab saya.
“Oh, ya sudah kalau begitu boleh di-cancel saja nggak Kak?” jawabnya.
“Ha? Gimana Pak maksudnya? Saya sudah menunggu hampir satu jam. Kalau di-cancel saya takut harus nunggu lagi,” kata saya agak sewot dan nyaris melupakan nilai-nilai vibrasi yang saya baca tadi di kereta.
“Oh gitu ya Kak, soalnya saya takut pembayaran online-nya (lewat dompet digital) nggak masuk,” ujarnya.
Oh, pikir saya masuk akal alih-alih mengucap ck dalam hati.
“Nggak apa Pak, saya nanti ubah bayar tunai saja. Saya juga bisa buka maps kalau bapak nggak tahu arahnya,” kata saya akhirnya mencoba mencari solusi.
“Oh baik Kak,” ucap sang driver ojol.
Hidup lebih tenang tanpa drama
Saya kira, kesepakatan tadi sudah tak jadi soal, tapi saya merasa kikuk dan bersalah karena terlihat memarahinya tadi. Alhasil, hampir setengah perjalanan kami berdua hanya diam. Guna mencairkan suasana, saya akhirnya melontarkan pertanyaan ke bapak ojol tersebut.
“Pak, ponselnya sudah mati belum atau saya perlu buka G-Maps?”
“Enggak Kak, aman. Saya sudah hafal,” jawabnya.
Selang beberapa detik, si bapak ojol malah meminta maaf atas kejadian tadi.
“Maaf ya Kak, tadi harus nunggu lama dan saya malah minta cancel karena baterai HP saya habis,” ujarnya memelas.
“Nggak apa Pak, saya paham. Nanti kalau uangnya nggak masuk saya bisa bayar tunai atau kalau nggak ada kembalian saya bisa transfer,” kata saya mencoba menenangkan kembali.
“Makasih ya Kak, soalnya saya takut. Biasanya ada pelanggan yang marah-marah padahal kondisinya memang lagi macet, apalagi di Stasiun Tugu. Musim liburan juga,” ujarnya.
Dari sana, kami akhirnya mengobrol banyak. Soal alasan ia tidak mudik hingga keresahannya ngojol di Stasiun Tugu. Sebab bukan rahasia lagi kalau di stasiun yang katanya modern itu, nyatanya belum ramah untuk driver ojol dan user KA jarak jauh.
Kondisi yang serba semrawut ini membuat saya berpikir bahwa Stasiun Tugu Jogja hanya cocok untuk orang-orang yang memiliki vibrasi tinggi. Bukan cuma orang berduit tanpa etika. Tapi orang yang tetap tenang di situasi apapun, karena ia tahu energinya terlalu berharga untuk mengurus hal-hal percuma.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Kapok Naik Kereta Eksekutif karena Turun di Stasiun Tugu Jogja, Keluar Stasiun Langsung Disuguhi “Ujian Nyata” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














