Pada mulanya membeli mobil keluarga, apalagi sebelum umur 30 tahun, tidak termasuk dalam ambisi hidup Sajidi (28). Namun, situasi mengguncang membuatnya susah payah mengejar ambisi tersebut hingga terparkir mobil Suzuki Ertiga bekas di halaman rumahnya dengan skema kredit. Sialnya, mobil tersebut berakhir mendapat cap sebagai pembelian sia-sia.
Awalnya tidak pernah peduli omongan orang
Sajidi mengaku hidup di tengah-tengah masyarakat sebagaimana yang kerap ditemukan Mojok: mengukur standar sukses dari wujud “barang besar” yang dihasilkan. Salah satunya: seseorang dikatakan sukses kalau sudah membeli mobil, tidak peduli apa pekerjaannya.
Tapi Sajidi tidak pernah peduli apa kata orang. Toh orang tuanya selalu berpesan demikian. Tolok ukur sukses orang tua Sajidi lebih substantif: anak berbakti pada orang tua, tidak berbuat buruk kepada orang lain, tidak urakan, cukup.
Alhasil, Sajidi cukup menikmati kehidupannya di sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Tidak pernah merasa diburu oleh tuntutan-tuntutan sosial. Tidak pula merasa tertinggal atas pencapaian seseorang.
“Kalau ada pertanyaan yang arahnya ke pencapaian, aku selalu jawab dengan cara bercanda dan nggak sakit hati. Misalnya, kalau ada yang omong, ‘Kerja terus kok naiknya masih roda dua.’ Kujawab saja, wah niatnya langsung beli helikopter, je. Lalu kami sama-sama ketawa,” beber pemuda yang sehari-hari bekerja sebagai teknisi di sebuah dealer salah satu merek otomotif ternama, Sabtu (28/3/2026) lalu.
Ambisi punya mobil keluarga sebelum umur 30 karena kondisi orang tua
Namun, situasi berubah ketika bapak Sajidi diserang stroke. Saat itu umur Sajidi 26 tahun.
Untuk riwa-riwi rumah sakit, saat itu Sajidi mengandalkan ambulans desa dan sesekali sewa mobil tetangga. Dari situ, muncul lah omongan-omongan yang membuat Sajidi kepikiran untuk membeli mobil keluarga sebelum umur 30 tahun. Lebih tepatnya, sebelum situasi lebih buruk terjadi.
“Memang perlu punya mobil sendiri, Jid. Biar enak kalau riwa-riwi bawa bapakmu. Kan sering terapi,” salah satunya begitu.
Kalau dipikir-pikir, ada benarnya. Tapi masalahnya, ia tidak punya uang sebesar ratusan juta bahkan untuk membeli sebuah mobil keluarga bekas. Pilihannya adalah membeli secara kredit.
Baca lanjutannya di halaman selanjutnya…
Setelah terbeli malah jadi pembelian sia-sia dan tetap kena omongan jahat tetangga














