Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Rela Hidup Miskin di Desa demi “Kebahagiaan” Adik-Adiknya di Kota, tapi Malah Dicap Pemalas dan Beban Keluarga

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
11 Maret 2026
A A
Ilustrasi - Anak pertama dicap gagal.MOJOK.CO

Ilustrasi - Anak pertama dicap gagal (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebagai anak pertama di keluarga, Nur Hidayat (32) rela berkorban. Ia tak masalah hidup miskin di desa demi kebahagiaan adik-adiknya di kota.

Sayangnya, pengorbanannya itu sama sekali tak dihargai. Ia malah dicap pemalas dan beban keluarga karena cuma di rumah saja. Padahal, di rumah, ia orang yang paling setia merawat orang tuanya.

Iklan

***

Nur Hidayat sebenarnya tahu rasanya pegang uang sendiri dan hidup nyaman. Selama 10 tahun, ia merantau dan bekerja mapan di Semarang. Tiap bulan bisa mengirim uang untuk orang tuanya di desa.

Namun, roda nasib keluarganya berputar tajam pada tahun 2022. Bapaknya mendadak terkena serangan stroke, membuat separuh badannya lumpuh. Ibunya yang sudah menua tak sanggup mengurus bapak sendirian.

Di titik itulah, lelaki asal Wonogiri ini membuat keputusan besar. Ia melepas pekerjaannya di Semarang. Ia sadar, merawat orang tua yang sakit lumpuh butuh waktu 24 jam. Tidak bisa disambi kerja, apalagi di luar kota. 

Nur akhirnya pulang kampung dan memilih menjadi buruh tani. Pekerjaan ini ia pilih karena waktunya fleksibel. Ia bisa pergi ke sawah, lalu pulang sebentar untuk merawat bapaknya. 

Anak pertama yang tak mau merusak kebahagiaan adik-adiknya

Mengapa harus Nur yang berkorban sejauh itu? Jawabannya sederhana: ia adalah anak mbarep atau anak pertama. Ia merasa punya tanggung jawab menjaga keutuhan keluarga.

Nur punya dua orang adik yang semuanya sudah merantau. Adik pertamanya laki-laki, berusia 28 tahun. Sementara adik bungsunya perempuan, berusia 23 tahun. Pertanyaan besarnya saat itu adalah: siapa yang mau pulang ke kampung untuk merawat bapak dan ibu?

Jawaban dari adik-adiknya ternyata sangat mudah ditebak. Adik pertamanya langsung beralasan bahwa ia tidak mungkin pulang. Ia baru saja punya satu anak dan harus fokus mencari nafkah untuk istri serta anak balitanya di kota. Ia merasa masa depannya ada di sana. 

Sementara itu, adik bungsunya yang baru saja menikah juga memberikan alasan serupa. Sebagai istri, ia beralasan harus patuh dan ikut ke mana pun suaminya menetap. Keduanya angkat tangan dari urusan merawat orang tua secara langsung.

Mendengar alasan adik-adiknya, Nur sebenarnya bisa saja ikut menolak. Ia juga punya pekerjaan di Semarang. Ia juga punya hak untuk mencari istri dan membangun keluarga kecilnya sendiri.

Namun, nurani Nur sebagai anak pertama berbicara lain. Dalam budaya keluarganya, anak tertua adalah tiang penyangga saat rumah orang tua mau rubuh.

“Aku pilih ngalah saja. Daripada kebahagiaan rumah tangga mereka di kota hancur, ya resign dari pekerjaan itu pilihan terbaikku,” ujarnya.

Iklan

Anak pertama terlihat yang paling “gagal”

Niat baik dan pengorbanan besar ternyata tidak selalu berbuah pujian. Karena Nur kini selalu ada di rumah, tidak memakai seragam kerja, dan terlihat hidup seadanya, pandangan orang di sekitarnya perlahan mulai berubah.

Kebaikan hatinya justru disalahartikan sebagai kemalasan.

“Aku dipandang jadi anak paling gagal,” ujar anak pertama ini.

Puncaknya terjadi pada momen libur Lebaran tahun lalu. Momen yang seharusnya jadi ajang silaturahmi justru menjadi tempat penghakiman paling menyakitkan bagi Nur. 

Ia bercerita, kedua adiknya pulang kampung dari kota. Halaman rumah yang biasanya sepi kini diisi oleh dua mobil. Penampilan adik-adiknya sangat necis. Baju mereka bagus, wangi, dan terlihat sangat sukses sebagai orang rantau.

Di sisi lain, Nur hanya duduk di pojok ruang tamu sambil mengaduk teh. Penampilannya sangat jomplang dibandingkan saudara-saudaranya. Ia masih mengenakan kemeja sederhana, dan di usianya yang menginjak 32 tahun, ia masih berstatus lajang–padahal untuk ukuran anak pertama ini dianggap tabu.

Malah dicap pemalas dan beban keluarga

Pemandangan kontras itu memancing komentar pedas dari salah satu pamannya yang datang berkunjung.

“Kamu itu lho, anak pertama umurnya sudah 32 tahun kok ya masih di rumah saja. Mbok ya mikir, kerja ke kota kayak adik-adikmu itu. Sukses, bisa bawa mobil pulang. Kalau kamu cuma di desa jadi buruh, ya jadinya cuma numpang hidup. Kasihan bapak ibumu, kamu malah jadi beban keluarga,” kira-kira demikian sindiran pamannya secara terang-terangan di depan banyak orang.

Bukan hanya pamannya, beberapa tetangga yang tidak tahu menahu urusan dapur keluarga ini pun sering berbisik-bisik. Mereka mengira Nur adalah anak laki-laki gagal yang tidak mau berusaha keras. Anak pemalas yang lebih suka berlindung di bawah ketiak ibunya di kampung.

“Nggak ada gunanya sebenarnya nanggapi orang-orang yang bahkan nggak tahu apa yang sudah aku lewati,” kata Nur.

Baca halaman selanjutnya…

Padahal, ia menjadi penolong adik-adiknya. Menanggung utang pinjol sekaligus membiayai pernikahan adik.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 11 Maret 2026 oleh

Tags: anakanak gagalanak pertamaanak sulunghidup di desakeluargamerawat orang tuaorang tuapenghasilan hidup di desapilihan redaksiresign kerjasandwich generation
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Persaingan bisnis atau usaha di desa kabupaten kejam: cara kotor saling menjatuhkan hingga jebakan pelanggan loyal MOJOK.CO
Sehari-hari

Kejamnya Persaingan Bisnis di Desa Kabupaten: Cara Kotor Saling Menjatuhkan hingga Jebakan Pelanggan Loyal

20 Juni 2026
Orang desa tidak mengenal konsep pensiun dan menua dengan tenang (slow living). Itu hanya konsep orang kota MOJOK.CO
Catatan

Pensiun Ala Orang Desa Tak Seperti Bayangan Orang Kota: Bukan karena Rencana Slow Living tapi Dipaksa Keadaan Getir

19 Juni 2026
siswa sekolah.MOJOK.CO
Sekolahan

Sisi Lain AI yang Melemahkan Nalar Siswa: Kesulitan Calistung, Tak Bisa Membaca Jam, hingga Sulit Mengingat Materi Pelajaran

17 Juni 2026
Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung MOJOK.CO
Esai

Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung

17 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

siswa sekolah.MOJOK.CO

Sisi Lain AI yang Melemahkan Nalar Siswa: Kesulitan Calistung, Tak Bisa Membaca Jam, hingga Sulit Mengingat Materi Pelajaran

17 Juni 2026
Bagi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Dahlan Iskan, iklim investasi di Jateng sangat cocok bagi pengusaha untuk investasi MOJOK.CO

Iklim Investasi di Jawa Tengah Menarik Hati, Bikin Puluhan Pengusaha Melirik untuk Kolaborasi

19 Juni 2026
Mahasiswa penerima KIP-K Unair korupsi iuran AUBMO. MOJOK.CO

Kasus Mahasiswa KIP-K Unair Korupsi Rp103 Juta: Dari Salah Transfer, Terlilit Pinjol, hingga Janji Mengganti dengan Jaminan Sertifikat Rumah

20 Juni 2026
Parenting ala orang tua desa sering ngawur di mata orang tua Gen Z MOJOK.CO

Salah Kaprah Parenting Ala Orang Tua Desa di Mata Ortu Gen Z: Malah Hambat Tumbuh Kembang Bayi, Cium Sana-Sini Tanpa Tahu Konsekuensi

16 Juni 2026
Gotong Royong ala Serigala Putih: Napas Kultural Uzbekistan di Pentas Piala Dunia.MOJOK.CO

Sepak Bola Gotong Royong Bernama Mahalla, Senjata Taktis Uzbekistan di Piala Dunia

17 Juni 2026
Warung Kopi Aceh: Tempat Orang Terlihat Sibuk, Padahal Cuma Ngopi MOJOK.CO

Warung Kopi Aceh: Tempat Orang Terlihat Sibuk, Padahal Cuma Ngopi

19 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.