Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Rela Hidup Miskin di Desa demi “Kebahagiaan” Adik-Adiknya di Kota, tapi Malah Dicap Pemalas dan Beban Keluarga

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
11 Maret 2026
A A
Ilustrasi - Anak pertama dicap gagal.MOJOK.CO

Ilustrasi - Anak pertama dicap gagal (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Padahal jadi penolong adiknya yang terjerat pinjol

Orang-orang yang seenaknya mencap Nur sebagai pemalas, sebenarnya menutup mata pada fakta yang sangat ironis. Di balik mobil mengkilap dan cerita sukses adik-adiknya di kota, ada sebuah krisis besar yang pernah ditutupi rapat-rapat oleh Nur.

Belum lama ini, adik laki-lakinya itu terjerat utang pinjol yang jumlahnya mencapai puluhan juta rupiah. Bunga yang menumpuk membuat sang adik dikejar-kejar debt collector. Rumah tangganya nyaris berantakan.

“Sampai 40 juta, aku juga nggak paham itu buat ngapain aja,” kata si anak pertama ini.

Saat adiknya menangis kebingungan, siapa yang turun tangan? Bukan pamannya, bukan juga tetangganya. Nur-lah yang bergerak dalam diam. Demi menyelamatkan aib dan rumah tangga adiknya, Nur rela menjual sepetak tanah tegalan warisan yang sebenarnya adalah jatah miliknya. 

Uang hasil penjualan tanah itu ia serahkan bulat-bulat agar utang pinjol adiknya lunas.

Juga rela membiayai pernikahan adiknya menggunakan hasil tabungannya

Kisah serupa juga terjadi pada adik bungsunya yang perempuan. Saat hendak menikah, sang adik gengsi jika hanya mengadakan syukuran sederhana. Ia ingin resepsi yang layak agar terlihat bagus di mata keluarga suaminya. Tapi karena uang tidak cukup, ia datang memelas pada kakak tertuanya.

Demi melihat adiknya bahagia di pelaminan, sebagai anak pertama, ia membongkar semua uang tabungan yang sudah ia kumpulkan dengan susah payah selama 10 tahun bekerja di Semarang. Tabungan yang seharusnya ia pakai untuk modal usahanya sendiri atau biaya pernikahannya kelak, ludes dalam semalam. 

Saat itu, sang adik berjanji bahwa uang tersebut statusnya adalah “utang”. Namun kenyataannya, sampai detik ini, utang itu tidak pernah dibayar. Adiknya bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa, dan Nur pun tak pernah sampai hati untuk menagihnya.

“Aku ikhlasin saja. Kalau ingat, ya syukur, kalau nggak inget ya sudah. Nggak baik juga nagih utang ke adik sendiri,” kata dia.

Semua sisa harta, tanah, hingga tabungan masa depan Nur sudah habis diperas untuk menutupi masalah dan membiayai gengsi saudara-saudaranya di kota. Kini, Nur memang jatuh miskin dan tidak punya apa-apa lagi selain tenaganya sebagai buruh tani.

Namun, kemiskinan Nur bukanlah hasil dari kemalasan. Ia adalah bentuk pengorbanan tertinggi seorang kakak. Nur rela menjadikan dirinya “tumbal” dan tameng agar keluarganya tetap terlihat baik-baik saja di mata dunia.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Mudik Lebaran Jadi Ajang Sepupu Minta Kerjaan, tapi Sadar Tak Semua Orang Layak Ditolong atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 11 Maret 2026 oleh

Tags: anakanak gagalanak pertamaanak sulunghidup di desakeluargamerawat orang tuaorang tuapenghasilan hidup di desapilihan redaksiresign kerjasandwich generation
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Duta Besar Belanda. dan Jerman terkesan usai bersepeda menyusuri desa di Prambanan, Klaten MOJOK.CO
Kilas

Bersepeda Susuri Desa di Prambanan Klaten bikin WNA Terkesan Ramahnya Warga Jateng, Sampai Usulkan Kota Ramah Sepeda

21 Mei 2026
Sikap atau reaksi pekewuh dan basa-basi ala orang Jawa jadi karakter yang justru merepotkan diri sendiri MOJOK.CO
Catatan

Sikap Pekewuh dan Basa-basi Ala Orang Jawa bikin Repot Diri Sendiri, Sialnya Tak Gampang buat Terus Terang

21 Mei 2026
logika ekonomi orang desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Logika Ekonomi Orang Desa yang Bisa Menyelamatkan Anak Muda dari Masalah Finansial, Tapi Kerap Terlupakan

20 Mei 2026
WNI tergabung ke GSF menuju Gaza diculik militer Israel dan renungan kegagalan pemerintah dunia hentian genosida Palestina MOJOK.CO
Kabar

Di Balik Penculikan WNI-GSF oleh Militer Israel: Sipil Berlayar karena Pemerintah Dunia Gagal Stop Genosida Palestina

19 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

logika ekonomi orang desa.MOJOK.CO

Logika Ekonomi Orang Desa yang Bisa Menyelamatkan Anak Muda dari Masalah Finansial, Tapi Kerap Terlupakan

20 Mei 2026
Veda Ega Pratama Buktikan Mental Comeback, Start P20 Finis 8 Besar di Catalunya

Veda Ega Pratama Buktikan Mental Comeback di Moto3, Start P20 Finis 8 Besar di Catalunya

17 Mei 2026
Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas Mojok.co

Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas

18 Mei 2026
Ironi jadi orang tunawicara (bisu) di desa, disamakan seperti orang gila MOJOK.CO

Ironi Orang Tunawicara (Bisu) di Desa: Dianggap Gila, Punya Otak Cerdas Tetap Dianggap Tak Bisa Mikir Hanya karena Sulit Bicara

15 Mei 2026
Duta Besar Belanda. dan Jerman terkesan usai bersepeda menyusuri desa di Prambanan, Klaten MOJOK.CO

Bersepeda Susuri Desa di Prambanan Klaten bikin WNA Terkesan Ramahnya Warga Jateng, Sampai Usulkan Kota Ramah Sepeda

21 Mei 2026
Mahasiswa dapat beasiswa KIP Kuliah bohongi orang tua demi uang saku dobel MOJOK.CO

Dapat Beasiswa KIP Kuliah Jalur FOMO, Bohongi Ortu biar Dobel Uang Saku karena Gaya Hidup Tak Cukup Rp750 Ribu

20 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.