Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Jadi Anak Terakhir di Desa Itu Serba Salah: Dituntut Merawat Ortu, tapi Selalu Dinyinyiri Tetangga karena Tak Merantau

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
7 Januari 2026
A A
Hidup di Desa.MOJOK.CO

Ilustrasi - Hidup di Desa (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Menjadi anak terakhir dari keluarga yang hidup di desa itu serba salah. Di satu sisi, ia dituntut buat di rumah saja, merawat ayah dan ibunya di masa tua. Namun, di sisi lain, ia kerap mendapat nyinyiran karena tidak merantau ke kota.

***

Iklan

Pagi di desa biasanya dimulai dengan rutinitas yang nyaris sama dari hari ke hari. Orang-orang berangkat ke sawah, buruh harian berjalan ke pabrik, anak-anak berangkat sekolah, dan percakapan ringan mengalir di teras rumah. 

Di balik keseharian yang tampak tenang itu, ada aturan sosial yang berjalan diam-diam, tetapi kuat. Salah satunya soal peran anak dalam keluarga, terutama anak terakhir.

Di banyak desa, anak bungsu kerap dianggap sebagai “penjaga rumah”. Ketika orang tua mulai menua atau sakit, anak terakhir “dituntut” untuk tinggal, merawat, dan memastikan kehidupan keluarga tetap berjalan. 

Sementara kakak-kakaknya didorong untuk merantau; mencari kerja, mengubah nasib, dan membawa pulang kebanggaan. Pembagian peran ini jarang dibicarakan secara terbuka, tetapi dipahami sebagai kewajaran.

Sebagai seorang anak yang lahir dan besar di salah satu desa ujung tenggara Kabupaten Wonogiri, saya begitu relate dengan aturan ini. Di desa saya, banyak anak bungsu yang memutuskan untuk di rumah saja hingga bapak dan ibunya telah tiada.

Biasanya, mereka tetap diberi kesempatan sekolah tinggi, tak jarang sampai kuliah. Namun, setelah menikah, mereka dituntut buat tinggal bersama orang tua. Sementara yang sudah bekerja pun demikian, mereka hanya bakal merasakan dunia kerja dua hingga tiga tahun sebelum akhirnya pulang untuk “mengabdi”.  

Masalah muncul dari nyinyiran tetangga

Masalah muncul ketika tinggal di desa justru dilihat sebagai kegagalan. Di lingkungan sosial yang sama, merantau masih menjadi ukuran keberhasilan. Mereka yang pergi ke kota atau luar daerah dianggap berani, mandiri, dan punya masa depan lebih baik. 

Sebaliknya, mereka yang tinggal sering dipertanyakan pilihannya. “Kenapa tidak mencoba ke kota?” atau “sayang kalau hanya di rumah saja,” menjadi kalimat yang kerap terdengar, baik dalam percakapan santai maupun sindiran halus.

Situasi itulah yang dialami Rini. Perempuan berusia 26 tahun ini adalah anak terakhir dari tiga bersaudara. Dua kakaknya sudah lama merantau dan menetap di kota. 

Ketika ayahnya mulai sering sakit dan ibunya tak lagi kuat mengurus rumah sendirian, Rini diminta untuk tinggal. Tidak ada musyawarah panjang, apalagi pembagian tanggung jawab yang jelas. Keputusan itu terasa seperti sesuatu yang sudah semestinya.

“Selain karena anak bungsu, kakak-kakakku udah menetap di kota. Semua sudah berkeluarga. Makanya yang kebagian hidup di desa, ngurus rumah, ya aku,” kata Rini, Minggu (4/1/2026).

Sejak tinggal penuh di desa, hari-hari Rini diisi dengan mengurus orang tua, rumah, dan kebutuhan keluarga. Namun, di luar rumah, ia menghadapi tekanan yang berbeda. Tetangga kerap menanyakan rencananya, membandingkannya dengan anak-anak seusianya yang bekerja di kota, atau menyampaikan kabar sukses para perantau. 

Iklan

Bagi Rini, tinggal di desa bukan pilihan tanpa konsekuensi. Ia berada di posisi serba salah: dianggap bertanggung jawab karena merawat orang tua, tetapi sekaligus dipandang tidak cukup “maju” karena tidak merantau. 

Hidup di desa makin dinyinyirin karena dia lulusan sarjana

Situasi menjadi semakin berat ketika melihat latar belakang pendidikan Rini. Ia sendiri merupakan lulusan sarjana salah satu kampus swasta di Solo. Tujuan awalnya kuliah karena ingin mendapatkan pekerjaan yang baik dan mengangkat derajat orang tuanya.

“Sering banget kata-kata nyakitin, ‘kamu nggak eman sama ijazah kamu kok di rumah saja?’. Dari yang halus-halus, sampai yang nyelekit ngomong di belakang juga ada,” ungkapnya.

Setelah lulus kuliah, sebenarnya Rini sempat mendapatkan pekerjaan di Solo. Meski belum berstatus karyawan tetap, tapi gajinya cukup untuk hidup mandiri. Sebagian gajinya juga kerap ia sisihkan untuk ditransfer kepada orang tuanya.

Baca halaman selanjutnya…

Jaminan dapat warisan rumah, tapi harus mengorbankan banyak hal

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 8 Januari 2026 oleh

Tags: anak terakhirbungsuderita anak terakhirDesahidup di desapilihan redaksislow living di desatinggal di desa
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Nasib desainer grafis di desa kabupaten: jasa desain logi dianggap gratisan, pindah Jakarta kaget ternyata cuannya menjanjikan MOJOK.CO
Sehari-hari

Jasa Desain Logo di Desa Kabupaten Dianggap Sepele hingga Jadi Gratisan, Pindah Jakarta Kaget 1 Logo Cuannya Menjanjikan

23 Juni 2026
dosen.MOJOK.CO
Sekolahan

Butuh Biaya Puluhan Juta Demi Ijazah S2-S3, tapi Negara Malah “Melegalkan” Dosen Digaji di Bawah UMR

23 Juni 2026
PNS di desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi PNS di Desa Memang Hidup Makmur, tapi Bikin Tak Berkembang karena Budayanya Toksik dan Membosankan

22 Juni 2026
Persaingan bisnis atau usaha di desa kabupaten kejam: cara kotor saling menjatuhkan hingga jebakan pelanggan loyal MOJOK.CO
Sehari-hari

Kejamnya Persaingan Bisnis di Desa Kabupaten: Cara Kotor Saling Menjatuhkan hingga Jebakan Pelanggan Loyal

20 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Punya rumah dengan gazebo di halaman: tempat terbaik untuk me time hingga deep talk MOJOK.CO

Punya Gazebo di Halaman: Meski Rumah Tak Megah tapi Bikin Betah karena Jadi Spot Terbaik Relaksasi dan Macam-macam Fungsi

18 Juni 2026
AUBMO Selamatkan Hidup Mahasiswa penerima KIP-K di Unair. MOJOK.CO

Di Balik Skandal Korupsi Rp103 Juta, AUBMO Menyelamatkan Hidup Mahasiswa Penerima Beasiswa yang Merantau

23 Juni 2026
penyakit, cuci darah.MOJOK.CO

‘Gaji Habis buat Cuci Darah’ – Yang Perlu Kamu Ketahui soal “Tren” Penyakit Lansia yang Menyerang Generasi Muda

19 Juni 2026
Gotong Royong ala Serigala Putih: Napas Kultural Uzbekistan di Pentas Piala Dunia.MOJOK.CO

Sepak Bola Gotong Royong Bernama Mahalla, Senjata Taktis Uzbekistan di Piala Dunia

17 Juni 2026
Rembang semakin tidak layak dicintai MOJOK.CO

Semakin Tak Punya Alasan untuk Tinggal dan Mencintai Kabupaten Rembang: Tak Beranjak ke Mana-mana, Kolotnya Dipelihara

17 Juni 2026
Angkringan di Stasiun Lempuyangan Jogja jadi tempat meleram kegelisahan MOJOK.CO

Angkringan Lempuyangan Jogja Berisi Rindu, Kegagalan, dan Beban Finansial Para Pejuang Perantauan

22 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.