Tapi harus siap dicap sombong dan tak ramah
Memang, di mata keluarga besar atau kerabatnya yang tinggal di kampung, gaya hidup orang perumahan seperti Heru sering dicap “sombong“, individualis, dan tidak mau berbaur.
Namun, Heru justru tertawa santai. Baginya, predikat sombong itu bukanlah sebuah hinaan, tetapi malah “fasilitas eksklusif” yang memang sengaja ia bayar bersamaan dengan cicilan KPR.
“Sebagai introvert, ke perumahan memang membeli privasi kayak gini. Ya nggak apa-apa dicap sombong, jadi nggak ada kewajiban buat berbaur kan. Justru ini definisi slow living yang sebenarnya.”
Mendengar cerita Heru, saya jadi teringat pada salah satu saudara sepupu saya yang juga dicap serupa. Saat ia memutuskan mengambil KPR di sebuah perumahan pinggiran kota Semarang, alih-alih membangun rumah di atas tanah warisan keluarga di desa, omongan miring langsung berdatangan.
Keluarga besar di kampung menyindirnya sok eksklusif, mentang-mentang kerja kantoran lalu “memagari” diri dan malas kumpul keluarga.
Sama seperti Heru, sepupu saya masa bodoh. Ia rela mengorbankan nama baiknya di mata keluarga besar demi satu hal: ia tidak mau hari liburnya diganggu oleh tetangga atau kerabat yang tiba-tiba bertamu tanpa chat WhatsApp terlebih dahulu.
Nggak ada orang bakar sampah sembarangan, mau olahraga pun bebas
Selain soal privasi, urusan sampah juga menjadi pembeda. Dulu Heru berekspektasi udara desa itu selalu segar. Faktanya, di banyak desa yang tidak terjangkau truk sampah, warga terbiasa membakar sampah di pekarangan setiap sore.
Alih-alih menghirup oksigen murni sambil ngopi, orang kota yang nekat tinggal di desa sering kali harus batuk-batuk menghirup asap pembakaran.
Di perumahan Heru, rutinitas membakar sampah dilarang keras. Udara sorenya steril, sepadan dengan iuran yang ia bayar.
“Aku paling nggak bisa berdampingan dengan tetangga yang suka bakar sampah,” ujarnya.
Bahkan untuk urusan olahraga pun terasa jauh nyaman. Sebagai penganut gaya hidup sehat, Heru sering jogging keliling kompleks memakai pakaian olahraga lengkap dan smartwatch.
Di perumahan, kelakuan ini divalidasi oleh lingkungan. Banyak tetangganya melakukan hal serupa.
“Lucunya aku pernah dengar cerita seorang teman yang coba slow living di desa. Sore-sore jogging gitu malah dibilang kurang kerjaan. Dongkol lah dia,” ungkapnya.
Sekali lagi, kata Heru, warga desa tidak pernah salah dengan cara hidup mereka. Sifat ingin tahu dan rutinitas gotong royong adalah sistem yang sudah ada sejak zaman dulu. Hanya saja, mental orang kota seperti dirinya mungkin tidak dirancang untuk menanggung beban sosial tersebut.
“Memaknai ketenangan kan beda-beda. Ada yang cocok di desa, ada yang nggak. Kalau saya yang cari ketenangan, ya cocoknya di perumahan,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













