Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Penyesalan Pasang WiFi di Rumah: Lepas Kendali “Merusak” Hidup dan Mental karena Terkungkung Layar HP

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
17 April 2026
A A
Penyesalan pasang WiFi di rumah MOJOK.CO

Ilustrasi - Penyesalan pasang WiFi di rumah. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pasang WiFi di rumah tidak bisa dimungkiri memberi dampak positif. Karena di era serba digital seperti sekarang, orang butuh terus terakses dengan internet. 

Bagi pekerja kantoran, akses WiFi di rumah semakin memudahkan untuk mengakses kebutuhan yang berkaitan dengan pekerjaan. Bagi warga biasa, keberadaan WiFi memudahkan komunikasi dan kebutuhan hiburan di platform media massa tanpa batas. 

Sebab, dengan pasang WiFi di rumah, kemudahan akses tersebut pun bisa dinikmati 24 jam, tanpa khawatir paket data—yang harganya mahal—tersedot dalam sekejap. 

Namun, tanpa diiringi sikap yang bijak—terutama oleh orang dewasa sebagai pemegang otoritas pemasangan WiFi di rumah—keputusan pasang WiFi di rumah pada akhirnya justru memicu penyesalan. 

Miris melihat adik terkurung di kamar karena ortu pasang WiFi di rumah

Keputusan orang tua Gebi (26) pasang WiFi di rumah awalnya disambut dengan antusias. Sebab, dengan begitu, perempuan asal Magelang tersebut bisa leluasa mengakses internet untuk urusan pekerjaan. 

Ya di sela-selanya ia bisa mudah mengakses hiburan seperti nonton film di OTT atau nonton konten YouTube kesukaan sebagai stress release. 

Begitu juga adik laki-lakinya. Dengan adanya WiFi di rumah, membuat sang adik tidak perlu repot-repot kalau ada tugas yang mengharuskan akses internet. 

Hanya saja, Gebi dan orang tuanya tidak memperhitungkan bahwa kemudahan akses internet itu juga seiring dengan potensi buruk: sang adik, yang masih kelas 2 SMP, akhirnya bisa mempeng main game. 

“Aku itu sampai miris. Karena bangun tidur main game, pulang sekolah main lagi, malam main lagi. Dunianya cuma di kamar main game. Kalau toh keluar rumah, pindah tempat ke teras, ya buat main game,” keluh Gebi, Kamis (15/4/2026). 

Jadi nolep dan potensi penyakit yang bikin khawatir

Gebi dan orang tuanya bukan hanya sekali saja menegur. Masalahnya, entah kenapa susah sekali mengontrol remaja pubertas. 

Ditegur sekali, memang si adik mengiyakan. Bilang mau membatasi. Tapi dua hari kemudian balik begitu lagi. 

“Mau dikerasin? Anak sekarang susah buat dikerasin. Aku sempat merah banget karena dia natap layar hp terus. Bukan apa-apa, aku eman sama matanya, kalau natap hp terus bisa minus,” beber Gebi. 

Tapi metode keras—secara verbal—ternyata tidak mempan. Sementara tidak mungkin kalau ia menggunakan kekerasan fisik. Apalagi pada akhirnya orang tua Gebi menyerah. “Ya memang sudah zamannya sekarang mainannya hp. Gimana lagi,” begitu kata orang tua Gebi. 

Gebi pernah menyita hp sang adik agar intensitas mainnya berkurang. Tapi itu justru membuat adiknya seperti orang depresi. Ujung-ujungnya Gebi tidak tega juga. 

Iklan

Meski begitu, Gebi tidak mau menyerah. Ia masih terus mencoba menggunakan pendekatan halus. Memberi pengertian soal pentingnya kontrol terhadap hp. 

“Ya karena aku miris, Mas. Adikku kan jarang interaksi, jarang main di luar yang bener-bener lepas dari hp. Akhirnya jadi kayak orang nolep. Ketemu orang gagap, hilang fokus, terus nggak mudengan,” kata Gebi. 

Efek mengerikan pasang WiFi di rumah: paparan konten tidak sesuai usia

Upaya keras Gebi untuk mengontrol sang adik juga didorong fakta bahwa adiknya sudah terpapar konten-konten tidak sesuai usianya. Itu ia sadari ketika dengan sengaja histori pencarian media sosial sang adik, juga percakapannya dengan teman sekolah. 

Gebi tahu itu melanggar privasi. Tapi seandainya ia tidak mengecek, ia mungkin tidak akan pernah tahu kalau adiknya sudah mengakses hal-hal tidak senonoh dan jorok. 

“Aku marah besar lah. Aku sampai ngancem mau nyabut saja WiFi-nya kalau ujung-ujungnya lebih banyak berdampak buruk,” ujar Gebi emosional. 

Ketabahan Gebi mengontrol sang adik sedikit demi sedikit membuahkan hasil. Sebab, setidaknya, akses internet yang digunakan sang adik pada akhirnya berisi konten-konten yang lebih edukatif.

“Betapa ngerinya efek pasang WiFi di rumah kusaksikan dari saudara-saudaraku yang masih punya anak kecil. Awalnya kalau anak mereka rewel, langsung dikasih tontonan YouTube. Leluasa kan kalau pakai WiFi. Efeknya, sekarang anak-anak mereka kecanduan parah. Sedikit-sedikit hp. Kalau nggak hp tantrum,” beber Gebi.

Lepas kendali: doom scrolling hingga rusak mental dan pola tidur

Sementara Nella (24), perempuan asal Semarang, merasakan dampak buruk terhadap dirinya sendiri. 

Bagi Nella, konteks pasang WiFi di rumah sebenarnya tidak salah. Toh memang bermanfaat untuk menunjang pekerjaan. 

Hanya saja, untuk orang yang mudah terdistraksi sepertinya, pasang WiFi di rumah pada akhirnya menjadi persoalan. Karena ketika lepas kendali, ia bisa melakukan doom scrolling tanpa henti di media sosial. 

“Waktu masih pakai paket data kan ngasih batasan, biar paket data nggak cepet habis, ya dibatasi. Tapi karena ada WiFi, aku malah jadi lepas kendali, jadinya sebelum tidur mesti doom scrolling dan nggak bisa berhenti,” katanya. 

Ia bisa saja berniat tidur maksimal jam 10 malam. Namun, gara-gara doom scrolling tanpa henti, aktivitas mantengin media sosial bisa berlangsung hingga jam 1 dini hari. 

Sialnya, karena paparan konten bermuatan negatif di media sosial, membuat Nella kesulitan tidur karena overthinking. Pola tidur rusak, mental pun rusak. 

“Fisik juga rusak karena pagi-pagi harus kerja. Badan kan sakit semua. Kerja jadi mood-moodan. Buruk banget,” kata Nella. 

Terkungkung standar medsos

Salah satu “muatan negatif” media sosial yang memapar Nella adalah: kecenderungan untuk terus mengikuti standar media sosial. Cara berpakaian, pilihan hp, merek sepatu, bahkan persoalan kriteria pasangan pun pada akhirnya ikut didiket. 

Kungkungan tersebut membuat Nella merasa selalu tertinggal. Selalu merasa kalah kalau tidak bisa mengejar. Alhasil, overthinking lah jadinya. 

Kemudian Nella pun merasa amat kelelahan secara mental. Sebab, standar-standar tersebut berganti begitu cepat, tidak terbendung. Semakin dikejar, justru semakin tidak ada habisnya. 

“Baru-baru ini sih aku dikasih insight teman. Kita itu didikte algoritma. Kenapa nggak kita aja yang dikte algoritma. Jadi aku harusnya punya kontrol untuk search konten positif. Sehingga kalau toh doom scrolling, ya doom scrolling konten positif yang aman buat mental. Syukur-syukur kita punya kontrol pada batasan: jam berapa maksimal kita berhenti main hp, matiin, lalu tidur,” tutupnya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 16 April 2026 oleh

Tags: dampak doom scrollingdoom scrollingkecanduan HPpasang wifiwifiwifi rumah
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO
Sehari-hari

Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri

14 April 2026
psikolog ugm lato-lato mojok.co
Kilas

Psikolog UGM Bilang Lato-Lato Bisa Kurangi Kecanduan Ponsel pada Anak

20 Januari 2023
Warung Kopi di Jalan Prof Dr Sardjito
Liputan

Warung Kopi Tanpa WiFi dan Seorang Pakde yang Mau Mendengar Ceritamu

20 Mei 2021
Versus

Singkatan-Singkatan Familier yang Kepanjangannya Belum Tentu Familier, dari RSVP sampai VVIP

15 April 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rela bayar mahal kuliah jurusan Keperawatan PTS besar demi jadi perawat. Setelah lulus malah jadi kayak babu MOJOK.CO

Rela Bayar Mahal di Jurusan Keperawatan demi Prospek Karier Perawat, Cuma Berakhir Jadi “Babu” di RSUD

14 April 2026
Arif Prasetyo, alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta penerima LPDP. MOJOK.CO

Kerap Didiskriminasi Sejak Kecil karena Fisik, Buktikan Bisa Kuliah S2 di UIN Sunan Kalijaga dengan LPDP hingga Jadi Sutradara

13 April 2026
Bekerja di Jakarta vs Jogja

Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental

10 April 2026
Tabiat penumpang KA Sri Tanjung yang bikin jengkel KA Sancaka. MOJOK.CO

User Kereta Eksekutif Jengkel dengan Tingkah Random User Kereta Ekonomi, Turun di Stasiun Langsung Dibikin “Prengat-prengut”

14 April 2026
Journaling

Journaling, Ringankan Beban Pikiran dan Perasaan untuk Lebih Berani Menikmati Hidup

13 April 2026
Sigura-gura, Malang, slow living.MOJOK.CO

Omong Kosong Slow Living di Malang: Pindah Kerja Berniat Cari Ketenangan Malah Dibikin Stres, Nggak Ada Bedanya dengan Jakarta

11 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.