Pasang WiFi di rumah tidak bisa dimungkiri memberi dampak positif. Karena di era serba digital seperti sekarang, orang butuh terus terakses dengan internet.
Bagi pekerja kantoran, akses WiFi di rumah semakin memudahkan untuk mengakses kebutuhan yang berkaitan dengan pekerjaan. Bagi warga biasa, keberadaan WiFi memudahkan komunikasi dan kebutuhan hiburan di platform media massa tanpa batas.
Sebab, dengan pasang WiFi di rumah, kemudahan akses tersebut pun bisa dinikmati 24 jam, tanpa khawatir paket data—yang harganya mahal—tersedot dalam sekejap.
Namun, tanpa diiringi sikap yang bijak—terutama oleh orang dewasa sebagai pemegang otoritas pemasangan WiFi di rumah—keputusan pasang WiFi di rumah pada akhirnya justru memicu penyesalan.
Miris melihat adik terkurung di kamar karena ortu pasang WiFi di rumah
Keputusan orang tua Gebi (26) pasang WiFi di rumah awalnya disambut dengan antusias. Sebab, dengan begitu, perempuan asal Magelang tersebut bisa leluasa mengakses internet untuk urusan pekerjaan.
Ya di sela-selanya ia bisa mudah mengakses hiburan seperti nonton film di OTT atau nonton konten YouTube kesukaan sebagai stress release.
Begitu juga adik laki-lakinya. Dengan adanya WiFi di rumah, membuat sang adik tidak perlu repot-repot kalau ada tugas yang mengharuskan akses internet.
Hanya saja, Gebi dan orang tuanya tidak memperhitungkan bahwa kemudahan akses internet itu juga seiring dengan potensi buruk: sang adik, yang masih kelas 2 SMP, akhirnya bisa mempeng main game.
“Aku itu sampai miris. Karena bangun tidur main game, pulang sekolah main lagi, malam main lagi. Dunianya cuma di kamar main game. Kalau toh keluar rumah, pindah tempat ke teras, ya buat main game,” keluh Gebi, Kamis (15/4/2026).
Jadi nolep dan potensi penyakit yang bikin khawatir
Gebi dan orang tuanya bukan hanya sekali saja menegur. Masalahnya, entah kenapa susah sekali mengontrol remaja pubertas.
Ditegur sekali, memang si adik mengiyakan. Bilang mau membatasi. Tapi dua hari kemudian balik begitu lagi.
“Mau dikerasin? Anak sekarang susah buat dikerasin. Aku sempat merah banget karena dia natap layar hp terus. Bukan apa-apa, aku eman sama matanya, kalau natap hp terus bisa minus,” beber Gebi.
Tapi metode keras—secara verbal—ternyata tidak mempan. Sementara tidak mungkin kalau ia menggunakan kekerasan fisik. Apalagi pada akhirnya orang tua Gebi menyerah. “Ya memang sudah zamannya sekarang mainannya hp. Gimana lagi,” begitu kata orang tua Gebi.
Gebi pernah menyita hp sang adik agar intensitas mainnya berkurang. Tapi itu justru membuat adiknya seperti orang depresi. Ujung-ujungnya Gebi tidak tega juga.
Meski begitu, Gebi tidak mau menyerah. Ia masih terus mencoba menggunakan pendekatan halus. Memberi pengertian soal pentingnya kontrol terhadap hp.
“Ya karena aku miris, Mas. Adikku kan jarang interaksi, jarang main di luar yang bener-bener lepas dari hp. Akhirnya jadi kayak orang nolep. Ketemu orang gagap, hilang fokus, terus nggak mudengan,” kata Gebi.
Baca lanjutannya di halaman selanjutnya…
Lepas kendali bikin rusak hidup dan mental














