Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Penyesalan Pasang WiFi di Kos: Dipalak Mahasiswa yang Kerjanya Main Game Online Ramai-ramai dan Ibu Kos yang Seenaknya Sendiri

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
22 April 2026
A A
Pasang WiFi IndiHome di kos. MOJOK.CO

ilustrasi - penghuni kos nggak tahu diri saat iuran WiFi bersama. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Niat hati ingin nyaman di kosan dengan memasang Wifi IndiHome, pemuda asal Jogja ini mengaku menyesal. Sudah ia yang menginisiasi, ia pula yang harus bertanggung jawab menalangi jika tetangganya di kosan tidak mampu membayar iuran. Belum lagi ulah ibu kos yang seenaknya sendiri.

Pasang WiFi di kos bersama mahasiswa gabut

Farhan (bukan nama sebenarnya) adalah pemuda asal Jawa Tengah yang bekerja di Jogja. Sudah lebih dari 5 tahun ini Farhan menghuni kos di daerah Sleman. Penghuni di sana, kata Farhan, macam-macam. Ada mahasiswa yang menginap seorang diri, pekerja seperti dirinya, maupun pasangan suami istri. 

Iklan

Kos itu pun dipilihnya semasa Covid-19 sehingga ia tidak dipatok harga mahal oleh ibu kos. Sayangnya, kos tersebut tidak ada WiFi. Oleh karena itu, Farhan mengusulkan ide kepada beberapa orang penghuni kos untuk memasang WiFi sesuai persetujuan ibu kos. 

“Jadi yang pasang ada 6 orang. Masalahnya, di antara mereka, yang kerja ini hanya 2 orang. Sisanya nganggur alias mahasiswa,” kata Farhan kepada Mojok, Selasa (21/4/2026).

Bagi mahasiswa maupun pekerja seperti Farhan, WiFi sudah seperti kebutuhan pokok di masa sekarang. Dibandingkan data seluler, penggunaan WiFi dirasa lebih hemat biaya karena menyediakan akses unlimited, sinyalnya lebih stabil, dan kecepatannya tinggi.

Yang jelas, satu router WiFi bisa dihubungkan ke berbagai perangkat secara bersamaan tanpa membagi-bagi paket data. Seolah beban pemasangan WiFi itu pun ditanggung bersama. Setidaknya, begitulah pertimbangan Farhan saat itu. 

Namun, setelah 2 tahun memasang WiFi di kosan bersama penghuni kos lain, Farhan malah menyesal. Belum lagi, provider yang digunakan adalah IndiHome, layanan digital yang katanya terkemuka dari Telkomsel.

WiFi IndiHome mengecewakan

Farhan sadar, lebih baik memang tidak memasang WiFi di kosan dan mending lembur bekerja di warung. Bagaimana tidak, setelah memasang WiFi IndiHome di kosan Jogja seharga Rp316 ribu per bulan, ternyata internet di tempatnya tidak memuaskan.

“Di awal bulan, sinyalnya itu masih stabil. Nggak berubah-ubah banget lah, buat streaming, nonton bola, game online, lancar. Masalahnya, kalau sudah di atas tanggal 20 atau mendekati tanggal 25 (batas pembayaran WiFi) sinyalnya sudah ilang-ilangan,” jelas Farhan. 

Setiap kali Farhan mengecek kecepatan WiFi di tanggal-tanggal tersebut, angkanya bahkan tak sampai 1 Mbps alias 0 koma sekian. Dengan kata lain, WiFi yang mereka pakai hanya bisa untuk mengirim chat saat akhir bulan.

“Makanya, sebelum tanggal 25 kami harus cepat-cepat bayar. Kalau bayar melebihi tenggat waktu juga harus bayar denda sebesar 5 persen dari total tagihan,” kata Farhan.

Masalahnya, tanggal 25 adalah masa-masa kritis bagi anak kos. Boro-baru mau bayar iuran tepat waktu, untuk membeli makan saja susah. Kadang-kadang, mereka juga tidak peduli kalau kecepatan internetnya mulai melambat.

“Akhirnya aku harus nombok dulu sekitar Rp250 ribu. Itu pun kalau kita bayar sesuai tenggat, nah kalau kena denda. Boncos juga akunya,” ujar Farhan.

Ibu kos yang seenaknya sendiri

Tak sampai di situ, dengan adanya pemasangan WiFi di kos, ibu kos jadi merasa kalau WiFi tersebut adalah fasilitas umum, padahal fasilitas itu hanya milik bersama bagi mereka yang ikut iuran.

Iklan

“Ibu kos ku ini sering menjanjikan WiFi gratis ke penghuni baru, seolah-olah fasilitas ini jadi daya tawar di kosannya. Terus dia bilang, ‘nanti password-nya tanya saja ke kamar mas-masnya yang itu’,” kata Farhan. 

Farhan sebetulnya tidak masalah dengan hal tersebut, asal si ibu kos juga ikut berkontribusi untuk menambah kecepatan WiFi. Wong, paket IndiHome sebesar 30 Mbps seharga Rp316 ribu untuk 6 orang saja, sudah lemot. Bagaimana jadinya kalau menambah orang lagi. 

“Bayangin, untuk 1 orang saja kayak aku gini udah pakai 3 perangkat seperti 2 gawai dan 1 laptop. Bahkan, ada mahasiswa yang sering ngajak teman-teman tongkrongannya ke kos terus main game dan pakai WiFi kami,” kata Farhan.

Seolah tak cukup dengan kondisi demikian, ibu kos justru menawarkan penghuni baru yang merupakan pasangan suami-istri untuk meminta password ke Farhan. Wajar saja jika kemudian Farhan menolak dengan sopan.

“Akhirnya aku pun sadar, lebih baik pakai WiFi di warung atau kafe daripada di kosan.” Kata Farhan. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 22 April 2026 oleh

Tags: anak kosharga wifiIbu KosindohomeJogjapaket datapaket wifipasang wifiwifi
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Untuk Jogja Menjadi Kota Wisata Rendah Emisi Karbon.MOJOK.CO
Eksplor

Untuk Jogja Menjadi Kota Wisata Rendah Emisi Karbon

15 Juni 2026
Gaji 2 juta hasil kerja di Jogja habis buat ngasih makan naga (judi slot) karena ilusi jackpot MOJOK.CO
Urban

Gaji 2 Juta Jogja Selalu Lenyap buat Ngasih Makan Naga: Rela Kelaparan dan Susahkan Ortu-Teman demi Jackpot, Tapi Tak Mau Sadar

14 Juni 2026
Evakuasi anjing terbuang dari tangan para jagal di Jogja MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Evakuasi Anjing Terbuang dari Operasi Senyap Para Jagal di Jogja, Kebal Intimidasi dan Caci Maki

10 Juni 2026
Sanksi untuk Jagal Anjing di Daerah Istimewa Yogyakarta yang Tertunda Realisasinya. MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Jalan Terjal Menghentikan Operasi Jagal Anjing karena Dianggap Kurang Penting

9 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung MOJOK.CO

Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung

17 Juni 2026
Mahasiswa penerima KIP-K Unair korupsi iuran AUBMO. MOJOK.CO

Kasus Mahasiswa KIP-K Unair Korupsi Rp103 Juta: Dari Salah Transfer, Terlilit Pinjol, hingga Janji Mengganti dengan Jaminan Sertifikat Rumah

20 Juni 2026
Suntikan dana investasi dari investor Tiongkok untuk pengembangan industri kendaraan listrik (EV) di Kendal Jawa Tengah (Jateng) MOJOK.CO

Saat Tiongkok Suntik Rp15 T untuk Industri Kendaraan Listrik di Kendal Jateng: Serap 10.000 Tenaga Kerja, Lokal Jadi Prioritas Utama

15 Juni 2026
Menunggu Jogja Punya Sirkuit Balap Motor Permanen MOJOK.CO

Lahirkan Pembalap Kelas Dunia, Tapi Jogja Tak Punya Sirkuit Balap Permanen

15 Juni 2026
Parenting ala orang tua desa sering ngawur di mata orang tua Gen Z MOJOK.CO

Salah Kaprah Parenting Ala Orang Tua Desa di Mata Ortu Gen Z: Malah Hambat Tumbuh Kembang Bayi, Cium Sana-Sini Tanpa Tahu Konsekuensi

16 Juni 2026
Persiapan Resign di Usia 30 Supaya Tidak Menderita dan Gila MOJOK.CO

Kebodohan atau Keberanian: Inilah yang Saya Siapkan ketika Memutuskan Resign Menjelang Usia 30 dan Hidup Sebagai WNI Kelas Menengah Supaya Tidak Berakhir Menderita dan Gila

18 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.