Efek mengerikan pasang WiFi di rumah: paparan konten tidak sesuai usia
Upaya keras Gebi untuk mengontrol sang adik juga didorong fakta bahwa adiknya sudah terpapar konten-konten tidak sesuai usianya. Itu ia sadari ketika dengan sengaja histori pencarian media sosial sang adik, juga percakapannya dengan teman sekolah.
Gebi tahu itu melanggar privasi. Tapi seandainya ia tidak mengecek, ia mungkin tidak akan pernah tahu kalau adiknya sudah mengakses hal-hal tidak senonoh dan jorok.
“Aku marah besar lah. Aku sampai ngancem mau nyabut saja WiFi-nya kalau ujung-ujungnya lebih banyak berdampak buruk,” ujar Gebi emosional.
Ketabahan Gebi mengontrol sang adik sedikit demi sedikit membuahkan hasil. Sebab, setidaknya, akses internet yang digunakan sang adik pada akhirnya berisi konten-konten yang lebih edukatif.
“Betapa ngerinya efek pasang WiFi di rumah kusaksikan dari saudara-saudaraku yang masih punya anak kecil. Awalnya kalau anak mereka rewel, langsung dikasih tontonan YouTube. Leluasa kan kalau pakai WiFi. Efeknya, sekarang anak-anak mereka kecanduan parah. Sedikit-sedikit hp. Kalau nggak hp tantrum,” beber Gebi.
Lepas kendali: doom scrolling hingga rusak mental dan pola tidur
Sementara Nella (24), perempuan asal Semarang, merasakan dampak buruk terhadap dirinya sendiri.
Bagi Nella, konteks pasang WiFi di rumah sebenarnya tidak salah. Toh memang bermanfaat untuk menunjang pekerjaan.
Hanya saja, untuk orang yang mudah terdistraksi sepertinya, pasang WiFi di rumah pada akhirnya menjadi persoalan. Karena ketika lepas kendali, ia bisa melakukan doom scrolling tanpa henti di media sosial.
“Waktu masih pakai paket data kan ngasih batasan, biar paket data nggak cepet habis, ya dibatasi. Tapi karena ada WiFi, aku malah jadi lepas kendali, jadinya sebelum tidur mesti doom scrolling dan nggak bisa berhenti,” katanya.
Ia bisa saja berniat tidur maksimal jam 10 malam. Namun, gara-gara doom scrolling tanpa henti, aktivitas mantengin media sosial bisa berlangsung hingga jam 1 dini hari.
Sialnya, karena paparan konten bermuatan negatif di media sosial, membuat Nella kesulitan tidur karena overthinking. Pola tidur rusak, mental pun rusak.
“Fisik juga rusak karena pagi-pagi harus kerja. Badan kan sakit semua. Kerja jadi mood-moodan. Buruk banget,” kata Nella.
Terkungkung standar medsos
Salah satu “muatan negatif” media sosial yang memapar Nella adalah: kecenderungan untuk terus mengikuti standar media sosial. Cara berpakaian, pilihan hp, merek sepatu, bahkan persoalan kriteria pasangan pun pada akhirnya ikut didiket.
Kungkungan tersebut membuat Nella merasa selalu tertinggal. Selalu merasa kalah kalau tidak bisa mengejar. Alhasil, overthinking lah jadinya.
Kemudian Nella pun merasa amat kelelahan secara mental. Sebab, standar-standar tersebut berganti begitu cepat, tidak terbendung. Semakin dikejar, justru semakin tidak ada habisnya.
“Baru-baru ini sih aku dikasih insight teman. Kita itu didikte algoritma. Kenapa nggak kita aja yang dikte algoritma. Jadi aku harusnya punya kontrol untuk search konten positif. Sehingga kalau toh doom scrolling, ya doom scrolling konten positif yang aman buat mental. Syukur-syukur kita punya kontrol pada batasan: jam berapa maksimal kita berhenti main hp, matiin, lalu tidur,” tutupnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














