Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Guru, Profesi yang Dihormati di Desa tapi Hidupnya Sengsara di Kota: Dimuliakan Seperti Nabi, Digaji Lebih Kecil dari Kuli

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
23 April 2026
A A
Guru PPPK Paruh Waktu, honorer.MOJOK.CO

Ilustrasi - Guru Muda Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di desa, menjadi guru dianggap sebagai pencapaian tertinggi. Saya sering melihat langsung bagaimana gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) dipuja sedemikian rupa di kampung halaman. 

Bagi orang tua di pedesaan, berhasil menyekolahkan anak masuk jurusan keguruan sama dengan mengamankan masa depan keluarga. Selain dipandang sebagai “profesi mulia”, guru dipandang memiliki masa depan cerah.

Gaji besar, pekerjaan terhormat. Keluarga pun bisa naik derajat. Ya, kira-kira begitu anggapan orang desa selama ini.

Melihat hal tersebut, saya hanya bisa tersenyum getir. Di dalam hati, saya tahu betul ada realitas pahit yang jarang dibicarakan. Masyarakat desa tidak tahu bahwa saat “ijazah bergengsi” itu dibawa merantau ke kota, ia seperti tak ada gunanya.

Kuliah mahal-mahal, pas sudah lulus digaji tak sampai 500 ribu sebulan

Realitas muram gelar sarjana pendidikan ini salah satunya tergambar dari kisah Hani (26). Ia merupakan seorang lulusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang setahun lalu pernah saya wawancarai untuk sebuah liputan di Mojok.

Sejak awal, Hani memang berkeinginan menjadi guru. Oleh karena itu, dengan sadar ia mendaftar kuliah di jurusan PGSD UNY. Tak masalah persaingan ketat dan biaya kuliah yang mahal.

Namun, setelah lulus pada 2024, Hani hanya mengajar sebagai guru honorer di sebuah sekolah. Gajinya? Tidak sampai Rp500 ribu per bulan. Angka ini tentu sangat tidak masuk akal jika kita melihat Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) di wilayah Jogja tahun 2024 yang sudah berada di atas angka Rp2,4 juta. 

Secara matematis, gaji bulanan Hani itu langsung habis hanya untuk membeli bensin motor dari rumah ke sekolah selama sebulan.

“Jadi guru honorer itu kayak punya pacar toksik. Tiap hari disakitin, tapi kalau mau udahan rasanya sayang banget sama pengorbanan sejauh ini,” ungkap Hani, Senin (20/4/2026) lalu.

Jadi guru itu kayak pacaran dengan orang toksik

Lalu, pertanyaannya, kenapa Hani dan ratusan ribu guru honorer lainnya mau bertahan bertahun-tahun dibayar dengan nominal sekecil itu?

Kalau menurut Hani, jawabannya ada pada “manipulasi psikologis” yang sudah mengakar dalam sistem pendidikan Indonesia. Setiap kali ada guru honorer yang mengeluh soal gaji tidak layak, mereka akan langsung dibungkam dengan narasi-narasi suci.

Misalnya, mereka diceramahi bahwa “jadi guru itu panggilan jiwa”, “guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa”, atau “tidak usah memikirkan uang, nanti balasannya pahala di surga”. Bahkan, menteri pendidikan pernah bilang kalau guru itu ibarat nabi kecil.

Narasi toxic positivity ditambah gulit trip inilah yang menurut Hani secara tidak langsung menjajah mental para sarjana pendidikan. Mereka dibuat merasa bersalah, dianggap matre, dan dinilai tidak ikhlas jika menuntut hak gaji yang setara dengan UMR.

“Jangankan orang lain. Ortuku sendiri aja tiap kali aku ngeluh selalu bilang buat sabar, katanya rezeki ada yang ngatur. Kok kesannya jadi guru itu nggak boleh ngeluh ya,” ujarnya.

Iklan

Hani mengaku, sebenarnya bisa bertahan karena ia memiliki sedikit privilege. Ia orang asli Jogja dan masih tinggal satu atap dengan orang tuanya. Alhasil, ia tidak perlu memikirkan biaya sewa kos atau membeli beras.

Namun, seiring berjalannya waktu, privilege itu justru berubah menjadi tekanan batin yang menyiksa. Di usianya yang makin dewasa, Hani sadar ia harus mulai mandiri. Sangat ironis rasanya ketika di sekolah ia dihormati sebagai seorang pendidik oleh murid-muridnya, tapi saat pulang ke rumah, ia masih berstatus sebagai beban keluarga karena gajinya sebagai guru gagal memberikannya kemerdekaan finansial.

Lulusan guru banyak, yang diangkat menjadi pegawai sedikit

Jika Hani masih memutuskan bertahan di “hubungan toksik” tadi, teman lama saya yang bernama Fikri (28), memilih jalan berbeda.

Fikri adalah lulusan jurusan keguruan dari salah satu PTN ternama di Jogja. Ia wisuda tahun 2022 lalu dengan harapan besar. Setelah lulus, Fikri mengajar di sebuah SMP selama dua tahun. Selama periode itu, gajinya mentok di angka Rp300 ribu per bulan.

“Padahal, tiap kali mudik ke desa, orang tua itu bangganya bukan main. Seolah anaknya sudah kerja setara rektor mungkin. Padahal di kota, kita-kita ini kayak sampah,” kata Fikri, Selasa (21/4/2026).

Sadar bahwa uang segitu tidak cukup untuk menyambung hidup, Fikri banting tulang. Ia mengajar di dua sekolah sekaligus agar pendapatannya bertambah. Ia juga pontang-panting mencari pekerjaan sampingan sana-sini. 

Saat ada pendaftaran PPPK, Fikri ikut mendaftar dan belajar mati-matian. Namun, hasilnya sia-sia. Ia tidak lolos.

Kegagalan Fikri menembus CPNS ini bukanlah karena ia kurang pintar. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) atau kampus-kampus keguruan di Indonesia mencetak ratusan ribu sarjana pendidikan setiap tahunnya. 

Sementara itu, kuota pengangkatan guru yang dibuka oleh pemerintah sangat sempit dan prosesnya sering tersendat. Fikri sedang bertarung dalam sistem yang mengalami oversupply atau kelebihan pasokan sarjana, tapi sangat minim penyerapan.

Gelar “S.Pd” tak ada harganya di mata HRD

Lelah dan burnout dihajar realitas, Fikri akhirnya menyerah menjadi guru. Ia mencoba peruntungan banting setir ke dunia korporat dengan melamar pekerjaan di berbagai perusahaan biasa. Namun, di sinilah letak “kutukan sarjana pendidikan” yang sebenarnya.

Saat melamar ke sektor swasta, ijazah S.Pd seringkali dipandang sebelah mata oleh banyak HRD. Ada stigma kuat di dunia korporat bahwa lulusan keguruan itu kaku, tidak punya insting bisnis, kurang dinamis, dan hanya cocok mengurus anak-anak di kelas. 

Alhasil, CV milik pemegang gelar S.Pd seperti Fikri seringkali langsung tersingkir di tahap penyaringan awal. Apalagi jika melamar posisi seperti staf marketing, copywriter, atau HRD. 

“Kami kayak terjebak, di sekolah nggak bisa hidup karena gaji kecil, di perusahaan swasta tidak diterima karena stigmanya lulusan guru itu nggak bisa kerja lain selain ngajar.”\

Kisah serupa pernah Mojok tulis dalam liputan berjudul “Modal Ijazah S.Pd UNY Nekat Cari Kerja di Jakarta Sampai Rela Nganggur 6 Bulan, Sekalinya Kerja Gaji Setara UMR Jogja”

Karena tidak punya pilihan lain dan perut harus tetap diisi, Fikri membuang jauh-jauh gengsi dan harapan besar keluarganya. Saat ada kerabat yang menawarinya pekerjaan di sebuah peternakan ayam petelur, Fikri langsung mengambilnya. Ia tidak pilih-pilih lagi.

Dengan profesinya ini, Fikri bercerita sangat menikmati. Baginya, pekerjaan barunya ini memang kasar. Namun, realitas memaksanya sadar bahwa pekerjaan ini jauh lebih menghidupinya daripada harus kerja menjadi guru.

Muak dengan gelar “pahlawan tanpa tanda jasa”

Bagi Fikri, ironi yang dia alami adalah wujud nyata dari jutaan sarjana pendidikan di Indonesia hari ini. Gelar yang susah payah mereka dapatkan dengan biaya kuliah yang tidak murah, pada akhirnya harus dihadapkan pada pasar tenaga kerja yang sangat tidak ramah.

Ia bahkan mengaku sudah muak dan kita harus berhenti menggunakan jargon “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Jargon itu sudah kedaluwarsa dan berubah menjadi romantisisasi yang kejam. 

“Gelar kayak gitu sekarang lebih sering dipakai oleh sistem buat memaklumi pemiskinan terhadap anak-anak muda terdidik yang memilih jalur keguruan. Kayak aku ini,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: WNI Pilih Jadi Guru di Luar Negeri dengan Gaji 2 Digit daripada Jadi Guru Kontrak di Indonesia yang Hidupnya Nggak Sejahtera atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 23 April 2026 oleh

Tags: gaji gurugaji guru honorerguruguru honorerjurusan keguruanmenjadi guru di desapdsg unypendidikan gurupgsdpilihan redaksiprofesi gurusarjana pendidikan
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Menormalisasi pakai jasa porter di stasiun kereta api MOJOK.CO
Urban

Pakai Jasa Porter di Stasiun meski Bisa Bawa Barang Sendiri: Sadar 50 Ribu Itu Tak bikin Rugi, Tapi Justru Belum Seberapa

23 April 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO
Catatan

Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami

22 April 2026
Derita anak pintar dan siswa berprestasi yang hidup dalam kemiskinan di desa. Tak dapat dukungan pendidikan dari orang tua MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja

22 April 2026
Guru CLC di Malaysia sejahtera daripada guru kontrak. MOJOK.CO
Sekolahan

WNI Pilih Jadi Guru di Luar Negeri dengan Gaji 2 Digit daripada Jadi Guru Kontrak di Indonesia yang Hidupnya Nggak Sejahtera

21 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Beli produk hp Apple, iPhone

Pengguna iPhone Ingin “Naik Kelas” Bikin Muak, Gaya Elite padahal Dompet Sulit

22 April 2026
Guru PPPK Paruh Waktu, honorer.MOJOK.CO

Guru, Profesi yang Dihormati di Desa tapi Hidupnya Sengsara di Kota: Dimuliakan Seperti Nabi, Digaji Lebih Kecil dari Kuli

23 April 2026
Merintis Jastip ala Mahasiswa Flores Cuan Jutaan Tiap Bulan MOJOK.CO

Belajar dari Mahasiswa Flores yang Merantau di Jogja Merintis Usaha Jastip Kecil-kecilan Hingga Untung Jutaan Rupiah Setiap Bulan

23 April 2026
Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
Gen Z pilih soft living daripada slow living

Soft Living, Gaya Hidup Gen Z yang Memilih Menyerah tapi Tenang ketimbang Mengejar Mimpi “Besar” Tak Pasti

22 April 2026
4 jenis pengendara motor di pantura seperti Rembang yang harus dilarang nyetir motor di jalan raya MOJOK.CO

4 Jenis Pengendara Motor di Pantura yang Harus Diwaspadai di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan!

23 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.