Gelar “S.Pd” tak ada harganya di mata HRD
Lelah dan burnout dihajar realitas, Fikri akhirnya menyerah menjadi guru. Ia mencoba peruntungan banting setir ke dunia korporat dengan melamar pekerjaan di berbagai perusahaan biasa. Namun, di sinilah letak “kutukan sarjana pendidikan” yang sebenarnya.
Saat melamar ke sektor swasta, ijazah S.Pd seringkali dipandang sebelah mata oleh banyak HRD. Ada stigma kuat di dunia korporat bahwa lulusan keguruan itu kaku, tidak punya insting bisnis, kurang dinamis, dan hanya cocok mengurus anak-anak di kelas.
Alhasil, CV milik pemegang gelar S.Pd seperti Fikri seringkali langsung tersingkir di tahap penyaringan awal. Apalagi jika melamar posisi seperti staf marketing, copywriter, atau HRD.
“Kami kayak terjebak, di sekolah nggak bisa hidup karena gaji kecil, di perusahaan swasta tidak diterima karena stigmanya lulusan guru itu nggak bisa kerja lain selain ngajar.”\
Kisah serupa pernah Mojok tulis dalam liputan berjudul “Modal Ijazah S.Pd UNY Nekat Cari Kerja di Jakarta Sampai Rela Nganggur 6 Bulan, Sekalinya Kerja Gaji Setara UMR Jogja”
Karena tidak punya pilihan lain dan perut harus tetap diisi, Fikri membuang jauh-jauh gengsi dan harapan besar keluarganya. Saat ada kerabat yang menawarinya pekerjaan di sebuah peternakan ayam petelur, Fikri langsung mengambilnya. Ia tidak pilih-pilih lagi.
Dengan profesinya ini, Fikri bercerita sangat menikmati. Baginya, pekerjaan barunya ini memang kasar. Namun, realitas memaksanya sadar bahwa pekerjaan ini jauh lebih menghidupinya daripada harus kerja menjadi guru.
Muak dengan gelar “pahlawan tanpa tanda jasa”
Bagi Fikri, ironi yang dia alami adalah wujud nyata dari jutaan sarjana pendidikan di Indonesia hari ini. Gelar yang susah payah mereka dapatkan dengan biaya kuliah yang tidak murah, pada akhirnya harus dihadapkan pada pasar tenaga kerja yang sangat tidak ramah.
Ia bahkan mengaku sudah muak dan kita harus berhenti menggunakan jargon “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Jargon itu sudah kedaluwarsa dan berubah menjadi romantisisasi yang kejam.
“Gelar kayak gitu sekarang lebih sering dipakai oleh sistem buat memaklumi pemiskinan terhadap anak-anak muda terdidik yang memilih jalur keguruan. Kayak aku ini,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: WNI Pilih Jadi Guru di Luar Negeri dengan Gaji 2 Digit daripada Jadi Guru Kontrak di Indonesia yang Hidupnya Nggak Sejahtera atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














