Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
10 April 2026
A A
Gen Z kerja di desa untuk merawat ibu. MOJOK.CO

ilustrasi - Gen Z tinggalkan kerja bergaji puluhan juta untuk merawat ibu di desa. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ketika banyak orang memutuskan kerja jauh dari rumah, sebagian gen Z ada yang memilih stay di desa atau kampung halamannya agar bisa merawat orang tua mereka yang kian hari kian menua. Sebagai anak, merawat orang tua adalah tanggung jawab moral, terutama saat mereka sudah lanjut usia atau sakit.

Namun, seiring perkembangan zaman, tugas ini seolah sulit dilakukan karena kesibukan, gaya hidup serba cepat, dan tempat tinggal atau “rumah” yang tak lagi aman. Tak sedikit pula gen Z yang sibuk meniti karier dan sengaja meninggalkan rumah mereka demi menata hidup yang lebih baik. Sementara, sebagiannya lagi rela menetap agar bisa merawat orang tua mereka.

#1 Tolak tawaran kerja di Dubai dan pilih tinggal di desa

Misalnya, Hanif Panji (26). Gen Z asal Klaten ini dulunya sempat mendapat tawaran kerja di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), tapi ia tolak setelah mendengar kabar ibunya didiagnosis diabetes melitus. Kurang selangkah lagi, Hanif bisa meraih mimpinya dan mendapat gaji lebih besar dibandingkan kerja dan tinggal di desa.

“Penawaran gaji awalnya sekitar Rp25 juta dan menurutku masih aman, terus jenjang kariernya juga menjanjikan. Aku juga sudah wawancara, tes kerja, dan diterima sebetulnya tapi aku nggak tega meninggalkan ibu dan harus jauh dari rumah,” kata Hanif kepada Mojok, Kamis (9/4/2026).  

Di saat bersamaan, Hanif merasa tak boleh egois karena tak ada lagi yang bisa merawat ibunya yang tinggal di desa kecuali dirinya. Meski sekilas terlihat sebagai anak yang berbakti, sejujurnya Hanif mengaku hubungannya dengan keluarganya dulu tidak sedekat itu.

Namun setelah dewasa, Hanif berinisiatif untuk mengubah suasana keluarganya sekarang. Walaupun tidak bisa secemara keluarga lain, setidaknya ia ingin membahagiakan ayah dan ibunya selagi bisa. Paling tidak, dengan meluangkan waktunya bersama keluarga. 

“Aku yakin untuk membahagiakan orang tua nggak melulu soal kirim uang ke rumah. Kadang mereka cuma ingin kehadiran anaknya di antara mereka,” jelas Hanif.

Untungnya, rencana Hanif itu dipermudah sehingga ia bisa mendapatkan kerja di sebuah agensi di Jogja sembari merawat ibunya. Meski harus pulang-pergi dari Jogja–Klaten sekitar 45 menit, menurutnya itu tak jadi soal. Karena dengan begitu, ia masih bisa merawat ibunya sekaligus meniti kariernya pelan-pelan. 

#2 Resign dari bank dan tinggal di desa 

Jika Hanif rela meninggalkan peluangnya kerja di luar negeri, Fani Brahmantio (26) memutuskan resign sebagai pegawai bank agar bisa tinggal serumah lagi dengan orang tuanya. Kini, ia pun membuka usaha toko kelontong di desa daerah Sumatera Selatan.

“Aku pingin banget keluargaku dekat dan akrab, apalagi ibuku juga baru pensiun,” kata Fani dihubungi secara terpisah.

Tak bisa dipungkiri, untuk mengambil keputusan tersebut sejatinya tidaklah mudah bagi Fani. Ia sempat meragukan keputusannya untuk kerja di desa, karena di awal membuka toko kelontong, tak ada satu pun pelanggan yang datang bahkan pernah ditipu.

“Bayangin, di bulan pertama aku cuma untung Rp10 ribu per hari padahal modalku jauh lebih besar dari itu,” kata Fani.

“Terus dulu pernah ada sales yang nawarin obat seharga Rp400 ribu. Salahku adalah nggak riset dulu, karena obat yang dijual ternyata cuma Rp20 ribu per box di pasaran. Dia buat aku fokus ke bonusnya. Katanya, harga sebenarnya itu Rp900 ribu plus produk dan sewa spanduk selama 6 bulan. Setelah aku bayar uang muka, dia malah hilang, aku nggak terima produknya,” lanjutnya. 

Untungnya, banyaknya pengalaman tersebut bikin Fani belajar untuk mengembangkan usahanya. Di sisi lain, Fani juga mengambil kerja sampingan atau freelance dari luar negeri. Dengan begitu, ia tak menyesali keputusannya resign dari bank agar bisa dekat dengan keluarga. 

“Mindset-ku sekarang bisa mengembangkan bisnis tanpa mengabaikan rasa kekeluargaan dan kehangatan. Semoga nantinya aku bisa buka cabang dengan budaya kerja yang seperti itu,” kata Fani.

Bodo amat dengan omongan orang sekitar

Meski Hanif dan Fani mengaku bahagia dengan keputusannya sekarang, ada saja tetangga di desanya yang nyinyir dan meragukan keputusan mereka. Apalagi, keduanya adalah sarjana dan dianggap masih muda. Di mana fase gen z merupakan usia produktif untuk meniti karier.

“Aku sering ditanya, ‘kenapa malah resign? kan udah enak kerja di bank, banyak duit’, atau dinyinyirin  ‘padahal S1 kok nggak kerja kantoran, sia-sia kuliahnya,’ dan yang paling parah ‘halah paling ngandelin penghasilan dari toko sembako nggak ada apa-apanya, 1 sampai 2 tahun lagi juga bakal bangkrut’,” cerita Fani.

Begitu pula Hanif yang pernah mendapat mendapat pertanyaan serupa. Namun, baik Hanif maupun Fani berujar tak menerima mentah-mentah cemooh tersebut. Toh, sentimen seperti itu akan selalu ada.

Iklan

“Aku selalu reminder diri aku untuk tetap rendah hati. Aku berusaha sebisa mungkin untuk menempatkan diriku di posisi mereka, karena aku sudah melalui banyak hal,” kata Fani.

“Aku selalu ingat pesan dari orang tuaku, rezeki nggak melulu dalam bentuk uang yang. banyak. Yang harus dicari adalah rezeki yang barokah.” Kata Hanif.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 10 April 2026 oleh

Tags: DesaGen Zkerja di desakerja di luar negerimerawat iburesignsarjana
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Sarjana BK Kebingungan Tentukan Arah Masa Depan: Tak Otomatis Jadi Guru BK, Jadi Dosen pun Susah

19 Agustus 2026
Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026
Fenomena sarjana jadi pengangguran karena ijazah kuliah memang bulan modal ekonomi dan persoalan ketimpangan kapital MOJOK.CO

Bedah Penyebab Sarjana Pengangguran: Ijazah Kuliah Tak Bisa Jadi Modal Ekonomi, Dapat Kerja Ditentukan Privilege Keluarga

15 Agustus 2026
Slow living, Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Tanpa Punya Rumah di Desa Tetap Bisa Slow Living Asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

12 Agustus 2026
Beban ekspektasi orang desa di Rembang yang merantau kerja di luar negeri: dipandang kalau bisa menggelar dangdutan setiap tahun MOJOK.CO

Beban Pemuda Desa Kerja di Luar Negeri: Demi Dipandang Harus Gelar Dangdutan Tiap Tahun buat Hibur Warga

12 Agustus 2026
Slow living, Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Punya Rumah di Desa Itu Perkara Mudah bagi Pasangan Muda, Yang Susah adalah Membeli Privasi dan Rasa Nyamannya

4 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
JPPI, MBG, buku siswa sekolah.MOJOK.CO

RAPBN 2027: Anggaran Pendidikan Tersandera Rp240 Triliun demi Program yang Tak Penting

17 Agustus 2026
Pesan veteran Indonesia di momen kemerdekaan. MOJOK.CO

Dari Veteran Indonesia ke Generasi Muda yang Pesimis Rayakan Kemerdekaan: Bacalah Buku Sejarah!

19 Agustus 2026
Melalui hidangan Buntil Salmon, Sasanti Restaurant menghadirkan telisik gastronomi dan permakultur yang memberi pengalaman mengesankan dalam mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara. (Nusaplant)

Melalui Buntil Salmon, Sasanti Restaurant Tak Hanya Bicara Rasa tapi Pertemuan Kekayaan Pangan dan Flora Nusantara

21 Agustus 2026
Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap MOJOK.CO

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap

21 Agustus 2026
Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 MOJOK.CO

Memaknai “LAKU” dalam Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026: Sejauh Mana Bermanfaat dalam Ekosistem Sastra

19 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.