Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Pekerja Jogja Pulang ke Jakarta setelah Sekian Lama, malah Diledek Ibu Saat Kumpul Keluarga karena Tak Bisa Sukses seperti Saudara Lainnya

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
29 Maret 2026
A A
Diledek ibu karena merantau dari Jakarta ke Jogja. MOJOK.CO

ilustrasi - kerja di Jogja tak bisa penuhi ekspektasi ibu yang tinggal di Jakarta. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Angga tak menampik, ada banyak pertanyaan yang ia terima ketika memutuskan kerja di Jogja untuk pertama kalinya di tahun 2021. Alasan utamanya karena ia pernah kerja di Jakarta. 

Bagaimana pun, orang lain menganggap ibu kota adalah tempat terbaik untuk bekerja. Padahal, bagi Angga yang sudah pernah kerja di Jakarta selama satu tahun, ibu kota tak seindah itu. Memang benar UMR Jakarta merupakan yang paling tinggi di Indonesia, tapi rasanya materi itu tak cukup membuat Angga bahagia.

“Di Jakarta dulu aku mudah stres dan gampang capek karena harus bangun sangat pagi demi mengejar waktu agar tidak telat bekerja. Di sisi lain, pulangnya harus larut malam demi menghindari jam-jam macet di jalan,” kata Angga saat dihubungi Mojok, Kamis (26/3/2026).

Karena tidak sanggup menjalani rutinitas tersebut, Angga memilih jalan lain dengan mencari kerja di Jogja. Bagi Angga, Jogja lebih memberikan dia ketenangan. Ia tak perlu lagi buru-buru berangkat ke kantor atau harus pulang larut malam.

“Aku merasa Jogja sebagai kota yang pas melanjutkan hidup. Di Jogja, semua berjalan tidak begitu cepat dan suasananya tidak begitu ramai,” ujar Angga.

Hidup tenang tapi harus jauh dari ibu

Kini, 4 tahun sudah Angga menjadi pekerja di Jogja. Selama itu, ia mengaku jarang pulang ke Jakarta. Malahan, keluarganya yang selalu menjenguk Angga di Jogja saat Lebaran. Sekalian berlibur katanya. 

Waktu itu, keluarga Angga memang tidak seperti orang-orang kebanyakan yang mempertanyakan keputusannya merantau ke Jogja alih-alih cari kerja di Jakarta. Orang tuanya senang-senang saja karena Angga akhirnya mendapatkan kerja kembali. 

“Yang penting bisa bekerja dan menghasilkan dengan baik,” kata Angga.

Begitu pula dengan teman maupun saudara-saudaranya yang tidak pernah merendahkan keputusannya. Bahkan mereka cukup kaget sekaligus senang karena Angga bisa mendapat peluang kerja di Jogja.

“Paling mereka hanya menyinggung soal berapa penghasilannya? Apakah bisa menghidupi diri dan membantu keluarga?” ujarnya.

Pertanyaan terakhir soal keluarga itu membuat Angga merenung. Memang benar kesehatan mentalnya jadi terjaga dengan bekerja di Jogja, tapi ia tetap khawatir karena harus jauh dari keluarga, terutama saat memikirkan ibunya yang semakin menua.

“Apalagi ibuku hanya tinggal dengan adik yang sekarang masih kuliah, belum lulus,” kata Angga.

Semuanya berubah setelah 4 tahun kerja di Jogja

Oleh karena itu, tahun 2026 ini Angga memutuskan pulang ke Jakarta sekadar melepaskan rasa rindu dan kekhawatirannya, walaupun ia jengkel juga dengan perjalanan dari Jogja ke Jakarta yang lama dan macet. Namun, hal itu tak jadi soal jika mengingat ibu dan adiknya.

“Tahun ini aku ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga sendiri di rumah, karena kebetulan saudara-saudaraku rumahnya jauh. Banyak yang di Bandung. Apalagi, kakek-nenekku juga sudah tidak ada jadi nggak ada yang dikunjungi saat Lebaran kemarin,” tutur Angga. 

Iklan

Akhirnya, Angga hanya menghabiskan waktu di rumah bersama ibu dan adiknya. Sesekali rumahnya dikunjungi oleh beberapa saudara, tapi Angga cenderung menarik diri saat mereka mulai membahas topik tertentu.

Jauh dari respons pertama mereka yang mendukung karier Angga di Jogja, beberapa saudara Angga kini menanyakan hal-hal yang lebih spesifik hingga membuatnya tersinggung.

“Meskipun sebetulnya mereka nggak berniat menyindir secara langsung, tapi ada perasaan tidak enak karena membahas pencapaian dari saudara-saudara lain,” kata Angga.

Tak hanya paman dan tantenya, ibunya pun jadi ikut-ikutan membandingkan penghasilan Angga dengan saudara-saudaranya. Dengan nada meledek, ia mengapresiasi Angga yang bisa mudik ke Jakarta bahkan membantu kebutuhan keluarga saat Lebaran dengan gajinya yang kecil.

“Kayak penghasilanku sekarang ini tuh sama seperti penghasilan di Jakarta 20 tahun lalu, karena ibuku masih ngantor di kawasan Sudirman,” kata Angga tertawa saat mengingat candaan ibunya.

Kalau sudah begitu, Angga lebih memilih melarikan diri dengan bermain bersama keponakannya atau melakukan kegiatan lain. Yang penting saat ini, dia masih bersyukur masih bisa kumpul dengan keluarganya di Jakarta, serta bisa hidup tenang di Jogja.

“Tapi nggak tahu lagi ya nanti, kalau ada peluang yang lebih bagus ya bakal aku gas!” kelakar Angga.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Sebagai Pekerja Jakarta yang Terbiasa Kerja “Sat Set”, Saya Nggak Nyaman dengan Etos Orang Jogja yang Terlalu Santai atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 29 Maret 2026 oleh

Tags: budaya kerja Jogjagaji di jogjajakartaJogjakerja di jakartakerja di jakarta vs jogjakerja di jogja
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak (Unsplash)
Pojokan

3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak: Cobain, deh, Kalau Kamu Nggak Percaya

22 April 2026
Pasang WiFi IndiHome di kos. MOJOK.CO
Sehari-hari

Penyesalan Pasang WiFi di Kos: Dipalak Mahasiswa yang Kerjanya Main Game Online Ramai-ramai dan Ibu Kos yang Seenaknya Sendiri

22 April 2026
Derita orang Jember kerja di Jakarta: teralienasi karena dianggap tertinggal MOJOK.CO
Urban

Orang Jember Kerja di Jakarta: Mencoba Berbaur tapi “Tersisihkan”, Dianggap Tertinggal dan Tak Tersentuh Pendidikan

16 April 2026
Orang Jogja Syok Merantau ke Jakarta karena Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak Mojok.co
Pojokan

Orang Jogja Syok Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak di Jakarta

16 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
Orang Desa Nggak Cocok Jadi PNS Jika Tak Punya Ilmu Menjilat Atasan. MOJOK.CO

PNS Tinggalkan Suasana Slow Living di Desa karena Muak dengan Teman Kantor yang Suka Menjilat Atasan, Ujungnya Malah Bernasib Lebih Buruk

17 April 2026
Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual MOJOK.CO

Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual

20 April 2026
Mahasiswa UNJ lulus setelah gagal seleksi PTN jalur SNBT

Penyandang Disabilitas Gagal Diterima PTN Jalur SNBT, Kini Lulus Sarjana Pendidikan di UNJ Berkat “Antar Jemput” Ayah

19 April 2026
Solo date lebih asik daripada nongkrong bareng teman. MOJOK.CO

“Solo Date” Menjelang Usia 25: Meski Tampak Menyedihkan, Nyatanya Lebih Bermanfaat daripada Nongkrong Bersama

23 April 2026
Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual MOJOK.CO

Bayangkan Kalau Korban adalah Ibumu, Itu Nasihat Paling Nggak Guna bagi Pelaku Kekerasan Seksual

19 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.