Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Ekspor Hewan Ternak Jarak Jauh Sama dengan Menyiksa Hewan Secara Perlahan hingga Mati

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
15 Juni 2026
A A
kambing yang tergencet dan gagal dalam upaya perlindungan hewan. MOJOK.CO

ilustrasi - kambing yang tergencet saat pengiriman. (sumber: Havva Zorlu/We Animals)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Animal Friends Jogja bersama organisasi-organisasi perlindungan hewan di seluruh dunia mencatat jutaan hewan mengalami penderitaan setiap tahun. Bukan sebagai makhluk hidup, tetapi sebagai muatan kargo. Oleh karena itu, mereka menentang adanya ekspor hewan hidup khususnya ternak.

Jutaan hewan ternak tersiksa dalam pengiriman jarak jauh

Dalam acara Ban Live Exports International Awareness Day yang bertepatan dengan proses revisi pedoman global World Organisation for Animal Health (WOAH), Compassion in World Farming mendesak penguatan standar kesejahteraan hewan dalam transportasi.

Koalisi organisasi perlindungan hewan global itu berharap upaya tersebut dapat mengakhiri praktik perjalanan jarak jauh yang menyebabkan penderitaan bagi jutaan hewan ternak, karena perdagangan lewat jalur laut dan darat.

Selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, kata mereka, hewan ternak harus menghadapi kepadatan berlebih, suhu ekstrem, kelaparan, dehidrasi, cedera, stres berat, bahkan kematian. 

Bulan lalu misalnya, sekitar 4 ribu domba dan kambing mati di lepas pantai Oman, Jazirah Arab. Insiden ini juga disebut sebagai bagian dari serangkaian “bencana berulang” yang telah merenggut puluhan ribu nyawa hewan akibat kecelakaan kapal, tenggelam, atau terjebak di wilayah konflik selama perjalanan.

Oleh karena itu, sejumlah organisasi mendesak perwakilan veteriner dari 183 negara anggota WOAH untuk memperbarui standar dalam menetapkan aturan soal kesejahteraan hewan. Salah satunya dengan menghapus ekspor hewan ternak jarak jauh.

Hewan adalah makhluk hidup dan bukan barang kargo

Kambing dalam pengiriman. MOJOK.CO
Kambing yang menatap kamera dalam pengiriman ekspor. (Tom Woollard-We Animals)

Salah satu negara yang sudah menerapkan pelarangan ekspor hewan hidup untuk penggemukan dan pemotongan pada tahun tahun 2025 adalah Britania Raya, sekaligus menjunjung perlindungan terhadap hewan. Begitu pula Selandia Baru, Australia, dan Jerman yang telah memberlakukan berbagai bentuk larangan dan pembatasan terhadap transportasi hewan hidup.

Wakil Direktur Kampanye Global di Compassion in World Farming, Charlotte Reid mengatakan hewan adalah makhluk hidup yang memiliki kesadaran dan kemampuan merasakan, bukan sekadar muatan kargo. 

“Oleh karena itu, tidak ada alasan yang dapat membenarkan penderitaan jutaan hewan yang dipaksa menjalani perjalanan panjang dan melelahkan ini setiap tahun,” kata dia.

Sebagai organisasi yang memimpin proses revisi standar transportasi hewan, Charlotte mendesak WOAH untuk melakukan pelarangan ekspor hewan hidup sepenuhnya, agar perdagangan yang memprihatinkan ini dapat ditinggalkan sebagai bagian dari sejarah.

Lalu bagaimana dengan perlindungan hewan di Indonesia?

Di Indonesia, upaya untuk memperkuat panduan global mengenai transportasi hewan dilakukan oleh Animal Friends Jogja dengan mendorong Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian.

Animal Friends Jogja menegaskan bahwa transportasi hewan hidup bukanlah suatu keharusan. Selain menimbulkan penderitaan yang luar biasa bagi hewan, transportasi hewan hidup juga membawa risiko serius bagi kesehatan masyarakat. 

Dalam kasus ribuan domba dan kambing mati di lepas pantai Oman terdapat temuan jika kondisi pengangkutan terbilang padat dan tidak higienis. Selain itu, menurunnya daya tahan tubuh hewan selama perjalanan dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit zoonosis lintas negara.

Oleh karena itu, praktik ekspor jarak jauh seharusnya dapat digantikan dengan perdagangan daging dan karkas, serta material genetik untuk pembiakan yang lebih aman, efisien, dan tidak mengorbankan kesejahteraan hewan.

Dengan jutaan hewan yang terus mengalami penderitaan setiap tahun akibat transportasi jarak jauh, Animal Friends Jogja menilai bahwa perubahan tidak dapat lagi ditunda. 

“Revisi standar transportasi hewan oleh WOAH merupakan momentum penting untuk memperkuat perlindungan kesejahteraan hewan secara global dan mendorong penghentian bertahap ekspor hewan hidup jarak jauh,” kata Manajer Kampanye Advokasi Kesejahteraan Hewan yang Diternakkan Animal, Dwi Octavia dikutip dari laman resmi, Senin (15/6/2026).

BACA JUGA: Babi, Anjing, dan Pink Floyd Versi Cadas yang Lahir dalam Wujud Perempuan Bernama Gabriëlle atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 15 Juni 2026 oleh

Tags: animal friends jogjaekspor hewanekspor jarak jauhhewan ternakpengiriman hewanpenyiksaan hewanperlindungan hewan
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara.MOJOK.CO

Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara

8 Juni 2026
Aksi topeng ayam di Fore Coffee Jogja. MOJOK.CO

Di Balik Aksi Topeng Ayam Depan Fore Coffee Jogja: Menagih Janji Hak Ayam Petelur untuk Meraih Kebebasan

2 April 2026
Peringatan Hari Monyet Ekor Panjang Sedunia di Jogja. MOJOK.CO

Pilu di Balik Atraksi Topeng Monyet Ekor Panjang, Hari-hari Diburu, Disiksa, hingga Terancam Punah

15 Desember 2025
wabah pmk mojok.co

Belajar dari Sejarah, Pemerintah Tak Perlu Gagap Tangani PMK

6 Juli 2022
pmk mojok.co

Satgas Pengendalian PMK IPB: Tingkat Kematian Ternak Rendah Jelang Idul Adha

16 Juni 2022
penyakit mulut dan kuku mojok.co

Cegah Wabah Penyakit Mulut dan Kuku, Kementan Batasi Distribusi Hewan Ternak

8 Juni 2022
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Melalui hidangan Buntil Salmon, Sasanti Restaurant menghadirkan telisik gastronomi dan permakultur yang memberi pengalaman mengesankan dalam mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara. (Nusaplant)

Melalui Buntil Salmon, Sasanti Restaurant Tak Hanya Bicara Rasa tapi Pertemuan Kekayaan Pangan dan Flora Nusantara

21 Agustus 2026
Sisi lain blusukan kampung di Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Sisi Lain Tren Blusukan Kampung: Nggak Seru seperti di Medsos, Malah Dicurigai Pencuri dan Dianggap Tak Tau Adab

20 Agustus 2026
JPPI, MBG, buku siswa sekolah.MOJOK.CO

RAPBN 2027: Anggaran Pendidikan Tersandera Rp240 Triliun demi Program yang Tak Penting

17 Agustus 2026
Sikap-sikap sederhana ke pelayan rumah makan atau restoran yang seharusnya jadi kewajaran MOJOK.CO

Sikap-sikap Sederhana ke Pelayan Rumah Makan atau Restoran yang Kita Abaikan karena Ego, Padahal Bermakna Memanusiakan

20 Agustus 2026
Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
Lulus S3 dan Jadi Peneliti, Hidup Saya Malah Bergantung pada Honor Riset yang Tak Kunjung Cair MOJOK.CO

Lulus S3 dan Jadi Peneliti, Hidup Saya Malah Bergantung pada Honor Riset yang Tak Kunjung Cair

19 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.