Mencari tempat tinggal saat baru pertama kali merantau untuk kuliah, selalu menjadi tantangan tersendiri. Di antara sekian banyak pilihan, kos dengan induk semang, alias yang satu atap dengan pemiliknya, seringkali dianggap sebagai pilihan paling ideal dan aman.
Bagi mahasiswa baru dan orang tua mereka, kos jenis ini adalah paket lengkap. Mahasiswa bisa hidup lebih ngirit, pergaulan mereka lebih terpantau agar tidak macam-macam, lingkungannya terjamin aman dari maling, dan kebersihannya selalu terjaga karena pemilik kos ikut mengawasi setiap hari.
Saya sendiri pernah mencicipi masa-masa ini. Di awal masa kuliah, selama enam bulan pertama, saya tinggal di kos yang satu atap dengan induk semang. Waktu itu, saya merasa seperti menemukan tempat yang sempurna.
Kalau ibu kos kebetulan memasak dalam porsi besar atau ada acara syukuran keluarga, anak-anak kos pasti selalu kebagian jatah. Ibu kos seringkali menjadi penyelamat lambung di akhir bulan.
Selain itu, karena tinggal bersama pemiliknya, kondisinya tidak pernah berantakan. Kamar mandi selalu bersih dan ruang tengah selalu rapi. Intinya, tinggal di sana membuat kita merasa aman dan tidak takut kekurangan makan.
Kos induk semang bikin penghuninya terjebak rasa sungkan
Namun, lambat laun saya sadar bahwa di dunia ini tidak ada fasilitas enak yang gratis. Makanan gratis dan kebersihan itu ternyata harus dibayar mahal dengan privasi dan kebebasan yang terenggut.
Sisi gelap pertama yang akan langsung dirasakan oleh penghuni kos induk semang adalah “kutukan pekewuh” atau rasa sungkan yang luar biasa besar. Dinda (21), seorang mahasiswi PTN Jogja yang sudah dua tahun tinggal di kos jenis ini, membenarkan hal tersebut.
Dinda bercerita bahwa meskipun ia sudah membayar uang sewa lunas setiap bulan, ia tidak pernah bisa merasa benar-benar santai seperti di rumah sendiri.
“Kita tuh ngerasa kayak lagi numpang di rumah saudara tahu nggak? Mau ke dapur buat ambil air minum aja rasanya harus dandan rapi dulu. Nggak bisa tuh seenaknya keluar kamar pakai celana pendek atau baju tidur, karena takut tiba-tiba papasan sama bapak atau ibu kos kan malu,” keluh Dinda, Selasa (12/5/2026).
Perasaan diawasi dan tidak bebas itu juga sangat saya rasakan dulu. Ruang bersama di kos induk semang, bisanya berada di ruang tamu, pada dasarnya adalah malah bikin nggak nyaman.
Saya ingat betul pengalaman memalukan saat sedang asyik rebahan dan menonton TV di ruang tengah pada hari Minggu siang. Tiba-tiba, ada tamu dari keluarga besar pemilik kos datang dan masuk begitu saja.
Saya mendadak harus bangun, merapikan baju dengan panik, tersenyum salah tingkah, lalu permisi kembali ke kamar dengan langkah canggung. Saya tak melakukan kesalahan apa-apa, tapi malah merasa bersalah sendiri.
Di kos induk semang merasa selalu diawasi
Siksaan mental di kos induk semang tidak berhenti di rasa sungkan. Sisi menyebalkan lainnya adalah merasa diawasi. Karena tinggal seatap, sang pemilik biasanya hafal dengan segala gerak-gerik dan gaya hidup kita.
Menurut Dinda, urusan privasi seolah menjadi barang langka. Momen yang paling sering bikin dia kesal adalah saat ada paket dari kurir atau pesanan ojek online yang datang.
Ibu kos sering kali melemparkan komentar basa-basi, yang kerap bernada pasif-agresif.
“Misalnya kayak, ‘Wah, Mbak Dinda belanja online terus ya, kiriman dari kampung sisa banyak nih’, jujur itu nggak nyaman,” ujarnya.
Komentar-komentar semacam itu mungkin niatnya sekadar basa-basi. Namun, bagi Dinda, itu terasa seperti sedang diawasi. Apalagi orang tua Dinda dan ibu kos bertukar nomor HP, sehingga bisa saja semua kegiatannya di kos dipantau dan dilaporkan.
“Itu kan cara halus buat bilang, ‘ini lho anakmu di kota boros banget, belanja terus’.”
Tiap pulang malam rasanya seperti adegan horor tanpa hantu
Namun, dari semua sisi tidak nyaman itu, ujian tertinggi bagi penghuni kos induk semang adalah soal jam malam. Sebagai mahasiswa, jadwal kegiatan kita tidak selalu beres di sore hari. Ada kalanya kita harus ikut rapat organisasi kampus, kerja kelompok untuk tugas besar, atau sekadar nongkrong melepas penat sampai larut malam.
Masalahnya, kos induk semang biasanya punya aturan jam malam yang sangat kaku. Jam sepuluh malam teng, pagar akan digembok dari dalam.
Bagi anak kos, momen paling horor adalah ketika terpaksa pulang jam dua belas malam. Mengirim pesan WhatsApp kepada ibu kos di jam selarut itu rasanya tidak enak. Dan inilah yang dulu kini Dinda alami.
“Itu mau send WA aja rasanya mikir berkali-kali. Malu, takut juga,” ujarnya.
Rasa bersalah karena harus membangunkan pemilik kos yang sudah tidur lelap itu benar-benar menyiksa batin. Belum lagi kalau saat membukakan gembok, ibu kos menatap kita dengan tajam sambil menghela napas panjang tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Kalau udah begitu, jantung rasanya mau copot.”
Karena teror psikologis inilah, tidak sedikit mahasiswa yang pada akhirnya lebih memilih tidur di sekretariat kampus atau menginap di kontrakan teman yang lebih bebas, daripada harus pulang malam dan membangunkan induk semang. Ini yang dulu saya alami.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Dapur Bersama Memang Membantu Anak Kos, Tapi Sering Menimbulkan Konflik kalau Ada Penghuni Jorok dan Suka Nyolong atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














