Menurut Dinda, urusan privasi seolah menjadi barang langka. Momen yang paling sering bikin dia kesal adalah saat ada paket dari kurir atau pesanan ojek online yang datang.
Ibu kos sering kali melemparkan komentar basa-basi, yang kerap bernada pasif-agresif.
“Misalnya kayak, ‘Wah, Mbak Dinda belanja online terus ya, kiriman dari kampung sisa banyak nih’, jujur itu nggak nyaman,” ujarnya.
Komentar-komentar semacam itu mungkin niatnya sekadar basa-basi. Namun, bagi Dinda, itu terasa seperti sedang diawasi. Apalagi orang tua Dinda dan ibu kos bertukar nomor HP, sehingga bisa saja semua kegiatannya di kos dipantau dan dilaporkan.
“Itu kan cara halus buat bilang, ‘ini lho anakmu di kota boros banget, belanja terus’.”
Tiap pulang malam rasanya seperti adegan horor tanpa hantu
Namun, dari semua sisi tidak nyaman itu, ujian tertinggi bagi penghuni kos induk semang adalah soal jam malam. Sebagai mahasiswa, jadwal kegiatan kita tidak selalu beres di sore hari. Ada kalanya kita harus ikut rapat organisasi kampus, kerja kelompok untuk tugas besar, atau sekadar nongkrong melepas penat sampai larut malam.
Masalahnya, kos induk semang biasanya punya aturan jam malam yang sangat kaku. Jam sepuluh malam teng, pagar akan digembok dari dalam.
Bagi anak kos, momen paling horor adalah ketika terpaksa pulang jam dua belas malam. Mengirim pesan WhatsApp kepada ibu kos di jam selarut itu rasanya tidak enak. Dan inilah yang dulu kini Dinda alami.
“Itu mau send WA aja rasanya mikir berkali-kali. Malu, takut juga,” ujarnya.
Rasa bersalah karena harus membangunkan pemilik kos yang sudah tidur lelap itu benar-benar menyiksa batin. Belum lagi kalau saat membukakan gembok, ibu kos menatap kita dengan tajam sambil menghela napas panjang tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Kalau udah begitu, jantung rasanya mau copot.”
Karena teror psikologis inilah, tidak sedikit mahasiswa yang pada akhirnya lebih memilih tidur di sekretariat kampus atau menginap di kontrakan teman yang lebih bebas, daripada harus pulang malam dan membangunkan induk semang. Ini yang dulu saya alami.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Dapur Bersama Memang Membantu Anak Kos, Tapi Sering Menimbulkan Konflik kalau Ada Penghuni Jorok dan Suka Nyolong atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













