Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Ngekos Murah Ber-WiFi Malah Tekor: Berisik, Teras Berubah Jadi Warnet Gratisan, Berujung Terusir dan Ngungsi demi Ketenangan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
24 Juli 2026
A A
WiFi di Kos MOJOK.CO

Ilustrasi WiFi di Kos (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Buat kebanyakan mahasiswa perantau, tulisan “Free WiFi” di depan kos adalah fasilitas yang paling dicari. Tapi bagi Vosa (21), embel-embel itu belakangan malah jadi sumber masalah yang tiap malam bikin dia pening.

Vosa adalah seorang mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Jogja. Saat ini, ia menyewa sebuah kamar kos di kawasan Demangan, sebuah daerah padat yang menjamur dengan kos-kosan mahasiswa dan pekerja. 

Niat awalnya, ia ingin mencari tempat beristirahat yang murah, dekat dengan kampus, dan punya koneksi internet untuk mengerjakan tugas. Sayangnya, realitas yang ia hadapi jauh dari kata tenang.

Jadi tongkrongan “senior” mabar dan berisik sampai pagi

Setiap malam, kos Vosa berubah laiknya warnet gratisan. Sekelompok pemuda, yang bukan penghuni kos, rutin datang. Mereka menggelar tikar, menguasai teras, menyambungkan ponsel ke WiFi kos, dan mulai bermain game online.

Suara umpatan karena kalah bermain, tawa meledak-ledak, hingga kepulan asap rokok menjadi makanan sehari-hari Vosa. Kegaduhan ini biasanya baru berhenti menjelang azan Subuh.

“Itu bikin pening. Bayangin aja, jam sembilan malam kos udah gaduh, pada teriak-teriak sama pukul-pukul tembok. Itu sampai pagi,” kata Vosa, Kamis (23/72026).

Sebagai pihak yang merasa terganggu, insting wajar Vosa tentu ingin menegur. Namun, ada rasa sungkan yang menahannya. 

Para tamu berisik ini adalah teman-teman dari tetangga kos Vosa, yang kebetulan berstatus sebagai penghuni lama. Sementara itu, Vosa adalah anak baru. Ia belum genap enam bulan tinggal di sana. 

Biasanya, penghuni lama ini merasa sudah jadi “tuan rumah” karena ngekos lebih lama. Rasa senioritas inilah yang seolah jadi tameng buat teman-temannya. Mereka merasa bebas nongkrong dan berteriak semaunya karena merasa di-back up sama si penghuni lama.

“Jadi kebayang kan bagaimana nggak enaknya aku kalau mau negur,” jelasnya.

Sebenarnya, Vosa pernah mencoba memberi teguran halus. Hasilnya? Nihil. Teguran itu hanya dibalas dengan senyum cengengesan, dan keesokan harinya keributan yang sama kembali terulang.

Mau pindah kos tapi dompet pas-pasan

Pertanyaan kemudian muncul: Kalau nggak nyaman, kenapa tidak pindah kos saja?

Faktanya, Vosa sudah mempraktikkan saran tersebut. Kos di Demangan ini bukanlah kos pertamanya di Jogja. Ia sudah berpindah-pindah kos beberapa kali, dan tebak apa yang terjadi? Ia selalu menemui masalah yang sama.

Usut punya usut, alasannya sangat klasik dan mentok di satu hal: isi dompet yang pas-pasan 

Iklan

Bagi mahasiswa dengan uang saku pas-pasan, mencari kos murah dengan fasilitas WiFi sudah menjadi kebutuhan mutlak. Masalahnya, kos-kosan di kelas harga ini memang cenderung longgar soal aturan jam malam dan penerimaan tamu. Bapak atau ibu kos biasanya tinggal di rumah yang berbeda, jarang mengontrol keadaan.

Vosa sadar, jika ia ingin mendapatkan ketenangan, solusinya adalah pindah ke kos eksklusif atau kos dengan aturan jam malam yang ketat. Namun, harga sewa kos dengan fasilitas dan ketertiban seperti itu bisa dua kali lipat lebih mahal. Dompetnya jelas tidak akan sanggup.

“Aku tidak sekaya itu buat seenaknya pindah-pindah kos.”

Memilih ngungsi ke kos teman demi ketenangan

Sadar posisinya serba salah–cuma anak baru dan uangnya pas-pasan–Vosa akhirnya memilih ngalah. Daripada capek hati nyari ribut sama tetangga, ia mengambil jalan tengah yang sebenarnya malah bikin dia rugi sendiri. 

Kini, setiap kali tumpukan tugas kuliahnya menggunung, Vosa tidak pernah mengerjakannya di kamar. Suara teriakan tamu tetangganya membuat ia mustahil bisa fokus. 

“Aku milih keluar aja, nugas di kafe,” ujarnya.

Apesnya lagi, pengeluaran Vosa malah jadi boros. Sudah bayar kos yang ada fasilitas WiFi-nya, tapi masih harus jajan kopi di luar biar bisa belajar tanpa gangguan. Sinyal WiFi kos malah dinikmati tamu tak diundang, sedangkan dia yang bayar kamar justru keluar duit dobel.

Puncaknya waktu Vosa harus ujian pagi dan butuh tidur nyenyak. Sadar kamarnya bakal berisik sampai subuh, dia akhirnya kemas-kemas baju ganti. Malam itu, Vosa mengalah. Ia mengungsi dan numpang tidur di kos temannya demi bisa istirahat tenang.

“Intinya jadi wong kalahan aja. Nggak apa-apa mengalah daripada konfrontasi malah jadi konflik besar,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 24 Juli 2026 oleh

Tags: anak kosanak kos jogjaAturan tamu kosderita anak kosDrama kos-kosanKonflik anak koskoskos murah jogjaTetangga kos berisikWiFi kos
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Saat mengantar anak mencari kos untuk persiapan kuliah di PTN Jogja: anak antusias jadi mahasiswa baru (maba), orang tua justru menyimpan kecemasan yang tidak hanya persoalan UKT mahal MOJOK.CO
Catatan

Saat Antar Anak Cari Kos dan Tak Sabar Jadi Maba, Ortu Tampak Antusias tapi Diam-diam Sembunyikan Cemas

8 Juli 2026
Rooftop kos kerap jadi tempat blangkrah, tapi jadi ruang healing terbaik bagi anak kos overthinking MOJOK.CO
Catatan

Tinggal di Kos dengan Rooftop, Meski Kemproh tapi Jadi Tempat Healing Terbaik dari Tekanan Hidup yang Bisa bikin Gila

3 Juni 2026
Kos di Jogja, kos campur, dapur.MOJOK.CO
Sehari-hari

Kos Induk Semang: Tempat Terbaik buat Mahasiswa Irit dan Kenyang, tapi Menyimpan Sisi Lain yang Bikin Penghuninya Tak Nyaman

13 Mei 2026
Kos di Jogja, kos campur, dapur.MOJOK.CO
Sehari-hari

Dapur Bersama Memang Membantu Anak Kos, Tapi Sering Menimbulkan Konflik kalau Ada Penghuni Jorok dan Suka Nyolong

12 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pemuda lulusan SMK tidak menyerah mencari kerja dengan modal ijazah SMK demi orang tua MOJOK.CO

Modal Ijazah SMK dan Pengalaman Tak Nyerah Cari Kerja demi Orang Tua, Meski Sering Terima “Penolakan” karena Fisik

21 Juli 2026
Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026
Mahasiswa KKN di desa

Serba Salah KKN di Desa: Terlalu Pendiam Dianggap Nggak Guna, Banyak Omong Dicap Sok Tahu

24 Juli 2026
Andromeda dan bajaj. MOJOK.CO

Sempat Larang Anak Kuliah di ITB hingga Akhirnya Luluh, Rela Tempuh Jogja-Bandung dengan Bajaj sebagai Penyemangat

24 Juli 2026
Lulus SMA nekat kerja ke Jakarta untuk jadi cleaning service. MOJOK.CO

Modal Ijazah SMA Kerja Jadi Cleaning Service di Jakarta demi Lulus Sarjana, Kini Pilih Resign untuk Keliling Indonesia

22 Juli 2026
Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri? MOJOK.CO

Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri?

20 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.