Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Dapur Bersama Memang Membantu Anak Kos, Tapi Sering Menimbulkan Konflik kalau Ada Penghuni Jorok dan Suka Nyolong

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
12 Mei 2026
A A
Kos di Jogja, kos campur, dapur.MOJOK.CO

Ilustrasi - Kos di Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Waktu pertama kali mencari kos, keberadaan dapur bersama biasanya menjadi salah satu daya tarik utama. Bayangannya selalu ideal. Ada dapur berarti bisa masak sendiri, makan lebih sehat, dan yang paling penting, pengeluaran bisa ditekan jauh lebih hemat. 

Hal ini menjadi pertimbangan krusial bagi para anak rantau, entah itu mahasiswa yang uang sakunya pas-pasan maupun pekerja yang sedang menabung.

Namun, di balik ekspektasi yang manis itu, fasilitas dapur bersama seringkali menyimpan sisi lain yang jauh dari kata ideal. Alih-alih menjadi tempat menghemat pengeluaran, fasilitas yang dibanggakan oleh ibu kos ini justru sering berubah menjadi tempat menguji kesabaran dan cerminan karakter asli para penghuninya.

Banyak penghuni suka nyolong barang dan makana di dapur kos

Salah satu masalah paling umum dan menyebalkan di dapur kos adalah barang yang tiba-tiba hilang. Rina (25), seorang pekerja swasta di Jogja, sangat paham rasanya menghadapi situasi ini. Sebagai pengguna aktif dapur dan kulkas bersama, Rina sering mendapati barang-barangnya raib tanpa jejak.

Kehilangan yang terjadi biasanya tergolong sepele. Sebutir telur yang lenyap dari kulkas, camilan yang bungkusnya sudah terbuka dan isinya tinggal separuh, hingga stok sayuran yang tiba-tiba berkurang.

“Jujur, yang bikin emosi itu bukan harga barangnya. Harga telur sebutir atau sisa sayur itu nggak seberapa,” kisah Rina, Selasa (12/6/2026). 

“Tapi, rasa kesalnya itu datang karena kita merasa privasi kita dilanggar. Ditambah lagi, giliran ditanya baik-baik, nggak ada satu pun penghuni kos yang mau ngaku. Bikin jengkel banget.”

Barang sepele sampai yang mahal disikat habis

Saya sendiri, sebagai sesama penghuni kos yang sering menggunakan dapur bersama, dapat memvalidasi dan sering mengalami hal tersebut. Bedanya, saya seringkali lebih memilih untuk menoleransinya. 

Kalau yang hilang cuma satu saset kopi instan atau sisa sayur, saya memilih untuk merelakannya daripada harus buang-buang tenaga untuk mencari tahu.

Namun, cerita dari beberapa teman di kantor membuktikan bahwa “tingkat kejahatan” di dapur kos bisa menyentuh level yang lebih parah. Beberapa teman mengeluh sangat terganggu karena barang yang hilang sudah masuk kategori mahal. 

Ada yang pernah kehilangan kue yang baru dimakan secuil, hingga sekotak besar frozen food yang baru dibeli. Kalau situasinya sudah begini, bagi saya, membiarkan dan menoleransi perilaku tersebut jelas bukan pilihan yang bijak.

Bikin muak karena anak kos yang jorok

Selain urusan kulkas yang rawan maling, hal lain yang paling mengganggu saya secara pribadi adalah berhadapan dengan penghuni kos yang jorok. Menggunakan dapur bersama berarti harus siap mental melihat kekacauan yang ditinggalkan orang lain.

Sangat sering saya menemukan sisa masakan yang tidak dibersihkan oleh pemakainya. Makan tidak langsung dicuci, noda minyak berceceran di sekitar kompor, hingga sampah sisa potongan sayur yang dibiarkan berserakan di atas meja dapur. 

Pemandangan paling klasik tentu saja adalah tumpukan panci atau piring kotor di wastafel. Alasan andalan yang sering dipakai biasanya adalah, “Sengaja direndam air dulu biar keraknya rontok.” Padahal, cucian itu direndam berhari-hari sampai airnya berbusa dan mampet.

Iklan

Rina pun sangat mengamini hal ini. Ia bahkan pernah bersitegang dengan sesama penghuni kos perkara wastafel yang dibiarkan kotor berhari-hari. Dapur yang harusnya higienis untuk memasak makanan, malah berubah menjadi tempat yang menghilangkan selera makan.

“Ya gimana. Kalau dapur kotor mau masak pun sudah nggak mood,” ungkap Rina.

Bikin perang dingin di grup WA kos

Kalau barang sudah sering hilang dan wastafel terus-terusan kotor, masalah ini pada akhirnya akan merembet ke ruang digital: grup WhatsApp kos.

Melisa (27), pekerja rantau yang juga tinggal di kos dengan dapur bersama, membeberkan bagaimana fasilitas ini sering memicu keributan. Menurutnya, kalau ada satu pemicu saja di dapur, grup WA kos yang biasanya sepi bisa mendadak panas. 

“Penghuni mulai saling curiga dan saling tuding,” ungkapnya, Selasa (12/6/2026).

Teguran di grup WA biasanya disampaikan dengan gaya menyindir secara halus. Misalnya, ada yang sengaja memotret tumpukan piring kotor atau kulkas yang berantakan, lalu mengirimkannya ke grup dengan pesan, “Tolong kesadarannya ya teman-teman, kita kan tinggal bareng-bareng.” 

Sialnya, kata Meli, pesan itu seringnya hanya dibaca oleh seluruh anggota grup tanpa ada satu pun balasan pengakuan bersalah. 

“Ujung-ujungnya, suasana kos jadi nggak enak. Kalau papasan di lorong atau di parkiran, rasanya canggung banget. Kita jadi serba salah dan main curiga satu sama lain,” katanya.

Memilih “berkompromi” daripada bersitegang

Karena lelah menghadapi “perang dingin” itu, Melisa akhirnya memilih untuk “berkompromi” dengan keadaan. Meskipun ia membayar biaya kos bulanan yang sudah mencakup fasilitas dapur dan kulkas bersama, Meli memilih untuk tidak lagi menggunakan fasilitas umum tersebut secara penuh.

Kini, ia memindahkan semua alat makan pribadinya seperti piring, gelas, panci kecil, dan sendok ke dalam kamarnya sendiri. Begitu juga dengan bahan makanannya. 

Ia rela kamar kosnya yang ukurannya tidak seberapa itu menjadi sedikit lebih sempit karena dipenuhi barang-barang dapur.

“Daripada tiap mau masak harus jengkel mending bawa masuk semua ke kamar. Nggak apa-apa deh kamar agak sumpek,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Tinggal di Kos Campur: Lebih Murah dan Layak, tapi Harus Kuat dengan Kelakuan Minus Penghuninya, Jorok dan Berisik atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 12 Mei 2026 oleh

Tags: anak kosdapur bersamadapur bersama kosdapur kosharga kos di jogjakoskos campurKos di JogjaKos Eksklusifkos-kosanpenghuni kospilihan redaksi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Biaya kos, kisah mahasiswa.MOJOK.CO
Sekolahan

Bertahan di Kos Tanpa Jendela yang Berisik dan Sepanas Oven, Semua Demi Ngirit dan Lolos Ancaman DO Kampus

30 Juli 2026
Hal-hal yang bisa ditemukan di warung madura tapi tidak dimiliki di Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih MOJOK.CO
Catatan

Hal-hal yang Bisa Ditemukan di Warung Madura tapi Tidak Ada di Koperasi Desa (Kopdes), Cukup “Berlainan” jika Disandingkan

28 Juli 2026
WiFi di Kos MOJOK.CO
Urban

Ngekos Murah Ber-WiFi Malah Tekor: Berisik, Teras Berubah Jadi Warnet Gratisan, Berujung Terusir dan Ngungsi demi Ketenangan

24 Juli 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Esai

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO

Warga vs Warga, Mengapa Kekerasan di Tingkat Tapal Terus Berulang?

28 Juli 2026
Pengeroyokan di Bali tidak dibenarkan. MOJOK.CO

Pakar Hukum Pidana: Pelaku Pengeroyokan di Bali Bisa Kena KUHAP, sementara Keluarga Korban Terlanjur Alami Trauma

27 Juli 2026
Peserta Pekan Budaya Difabel di Jogja. MOJOK.CO

Pekan Budaya Difabel 2026: Saat Anak-anak Terbebas dari Stigma lewat Seni dan Terapi di Ruang Inklusif

29 Juli 2026
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Romo Pitoyo dalam acara peresmian Laboratorium Alam SMA Kolese De Britto Yogyakarta. MOJOK.CO

Laboratorium Alam De Britto: Pondok Perenungan Manusia agar Tak Kehilangan Hati Nurani di Tengah “Bahaya” AI

28 Juli 2026
Ratusan anak di Sidoarjo terpapar HIV AIDS dan pentingnya periksa kesehatan sebelum menikah MOJOK.CO

Pentingnya Tes Kesehatan sebelum Menikah, Bukan untuk Ragukan Pasangan tapi Cegah HIV/AIDS seperti Kasus Ratusan Anak di Sidoarjo

29 Juli 2026
Anak penjual tahu kuliah di ITB. MOJOK.CO

Perjuangan Mutiara Belajar Mandiri dan Andalkan Buku Panduan dari Sang Ayah Penjual Tahu hingga Tembus ITB

27 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.