Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Pekerja Gen Z Matikan Centang Biru WhatsApp demi Privasi, Malah Dicap Kepribadian dan Etos Kerja Buruk padahal Berusaha Profesional

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
5 April 2026
A A
Pekerja gen Z matikan centang biru WhatsApp dicap kepribadian buruk

Ilustrasi - Pekerja gen Z (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

WhatsApp jadi salah satu media komunikasi yang paling sering digunakan. Berkomunikasi melalui WhatsApp mempermudah sebagian urusan, tetapi juga memberikan beban tak kasat mata bagi pekerja, khususnya gen Z, yang harus stand by agar dinilai memiliki kepribadian dan etos kerja yang baik. 

Setidaknya begitulah anggapan sebagian orang. Kepribadian dan etos kerja yang baik seakan-akan dilihat, salah satunya dari kecepatan membalas pesan.

Iklan

Kalau bisa, dalam hitungan detik, pesan soal pekerjaan sudah harus dapat balasan. Namun seakan tidak ada puasnya, penilaian itu kemudian juga menyangkut menyalakan centang biru pada aplikasi pesan. Artinya, membiarkan orang lain tahu kalau pesan sudah dibaca dan akan segera mendapat balasan.

Masalahnya adalah keharusan semacam ini memberikan ketidaknyamanan, bahkan perasaan terganggu bagi sebagian orang. Maka dari itu, ada yang memilih untuk mematikan read receipt atau tanda baca WhatsApp demi kebaikan dirinya.

Pekerja gen Z pilih “masa bodoh” demi privasi

Salsa (25) adalah salah satu pekerja gen Z yang memilih mematikan centang biru (cenblu) pada aplikasi WhatsApp. Perempuan kelahiran tahun 2000 ini mengatakan, dirinya lebih suka tidak mengetahui status pesan yang sudah dikirimnya.

Menurutnya, tidak penting pesannya sudah dibaca atau belum. Ia hanya akan menunggu balasan pesan tiba sesegera mungkin, tanpa membiarkan dirinya merasa “digantungkan” karena pesan yang tak berbalas.

“Aku lebih suka nggak tahu kalau udah di-read atau belum, kayak ya sudah,” kata Salsa kepada Mojok, Kamis (9/4/2026).

Menerapkan sikap “bodo amat” dengan pesan dirinya yang sudah dibaca atau belum, Salsa merasa bahwa dirinya hanya mencoba menjaga privasinya. Ia tidak masalah dengan pesannya yang tidak diketahui sudah dibaca atau belum, demikian pula dengan orang lain yang diharapkannya merasakan hal sama.

Sebab, baginya, memutuskan membalas atau tidak adalah haknya. 

Salsa tidak ingin privasinya diganggu dengan keharusan membalas pesan segera setelah membacanya. Untuk itu, ia menghindarinya dengan mematikan tanda baca WhatsApp.

“Kalau aku, aku lebih nggak mau privasi aku terganggu. Kayak hak aku mau balas apa nggak, nggak mau ketahuan udah read,” kata dia.

Ingin tenang, tapi dianggap punya kepribadian buruk

Selain menginginkan privasi, pekerja asal Jakarta itu mengatakan, dirinya tidak jarang merasa overthinking atau tidak tenang karena bersifat perasa. 

Salsa cenderung merasa lebih peka dan emosional. Ia lebih sensitif, serta tidak bisa memungkiri bahwa dirinya kerap terpengaruh oleh perasaan dan pikirannya sendiri. 

Berbalas pesan dengan kecepatan kilat membuat Salsa mengalami tekanan yang membuatnya merasa kurang nyaman sehingga berpengaruh terhadap perasaannya. Pesan-pesan yang diterima, atau harus dikirimkan, juga dapat membuat dirinya terbawa perasaan hingga berlarut-larut.

Mematikan tanda baca WhatsApp menjadi semacam bentuk antisipasi Salsa sebab tidak harus bertanya-tanya alasan pesannya dibaca, tetapi belum dibalas. Kalau saja dirinya tahu, bukan tidak mungkin pikirannya akan berkelana pada kemungkinan melakukan suatu kesalahan sehingga tidak mendapatkan balasan pesan.

“Lebih baik nggak tahu, mana aku anaknya sebetulnya overthinking dan perasa,” kata dia.

Hal serupa juga dialami Dhea (27). Ia mengaku harus melalui serangkaian tahapan sebelum mengirimkan balasan pesan. Ia terkadang harus memikirkan jawaban atau mengonfirmasi terlebih dulu kepada pihak lain soal pekerjaan tersebut.

Selama proses itu, Dhea tidak ingin pengirim pesan menunggu-nunggu jawabannya karena tahu pesannya sudah dibaca.

Iklan

“Kadang suka mikir dulu jawabannya apa, kadang harus konfirmasi ke orang lain dulu. Nah selama nunggu itu, nggak kepengin lawan chat itu udah tahu kita udah baca,” kata Dhea.

Sayangnya, sikap berpikir panjang seperti ini malah disalahartikan kepada kepribadian yang buruk. The Guardian menunjukkan bagaimana gen Z terlebih dulu dicap “buruk”, padahal mencoba melakukan pekerjaan dengan cara berbeda dari generasi-generasi sebelumnya. Akan tetapi, itu juga yang seolah-olah membuat pekerja gen Z patut diberikan label  tidak memiliki kepribadian yang “layak dipekerjakan”.

Sudah dicap buruk, pekerjaan malah masuk ruang pribadi dan memaksa gen Z mengalah 

Untuk membatasi ruang pekerjaan dan personal, Dhea mengatakan, dirinya membedakan WhatsApp pekerjaan dan pribadi. Dhea mempunyai dua nomor WhatsApp berbeda, yakni business untuk kebutuhan pekerjaan dan satunya lagi untuk keluarga dan teman-temannya.

Untuk WhatsApp kerja, dia bilang, tidak mematikan tanda baca pesan. Rekan kerjanya dapat mengetahui kalau pesan mereka dibaca, serta akan segera mendapatkan balasan. Lain hal dengan WhatsApp personal yang dimatikan centang birunya.

“Yang WhatsApp business aku nyalain sih, aku nggak masalah centangnya nyala. Kalau yang pribadi aku matiin, kalau kerjaan aku nyalain,” kata dia. 

Namun terkadang, pesan-pesan pekerjaan bukan tidak mungkin memasuki ruang personalnya. Pesan yang seharusnya dikirimkan ke WhatsApp business malah menyasar nomor pribadinya.

Maka, memutuskan tidak menyalakan centang biru adalah caranya membentengi diri.

“Eh, beberapa ada yang tahu nomor pribadiku,” kata dia. 

Sementara itu, Salsa yang telah mencoba untuk bersikap tidak peduli justru tidak bisa bertahan lebih lama. Alasannya adalah kepribadian itu harus dinegosiasikan dengan kebutuhan kerja yang membuatnya mau tidak mau mengalah dengan menyalakan tanda baca pesan.

Sebagai pekerja yang berurusan dengan klien, dirinya memiliki kebutuhan agar pesannya segera dibalas. Setidaknya, ia harus mengetahui bahwa pesannya telah dibaca sehingga dapat melakukan follow up terhadap pesan-pesan yang tak dibalas. 

“Aku dulu matiin,” aku dia. 

“Tapi karena klienku nyebelin, jadi aku nyalain supaya tahu siapa yang belum balas,” ujarnya menambahkan.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Sebagai Pekerja Jakarta yang Terbiasa Kerja “Sat Set”, Saya Nggak Nyaman dengan Etos Orang Jogja yang Terlalu Santai dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 5 April 2026 oleh

Tags: etos kerja gen zGen Zkepribadiankepribadian bodo amatkepribadian gen zkepribadian pekerja gen zkerja gen zpekerja gen zpsikologi kepribadiantipe kepribadian
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

dukuh muda di kampung

Seni Menjadi Dukuh Muda di Tengah Gempuran Pemimpin Boomer: Kisah Dukuh Muda yang Rela Mengorbankan Masa Muda untuk Membuat Orang Tua Bangga

24 Agustus 2026
Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026
Tahlilan di desa. MOJOK.CO

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026
Bagi Najwa Shihab, gagasan liar anak muda seperti dalam esai para penerima Djarum Beasiswa Plus dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 harus diberi ruang MOJOK.CO

“Gagasan Liar” Anak Muda Harus Diberi Ruang, Terdengar Tak Lazim tapi Penting Dibicarakan

6 Juli 2026
Gen Z Habiskan Gaji untuk Konser K-Pop. MOJOK.CO

Gen Z Habiskan Gaji demi Konser K-Pop: “Balas Dendam” Terbaik untuk Penuhi Inner Child

25 Juni 2026
Gen Z, membaca, buku.MOJOK.CO

Gen Z di Indonesia, Generasi Paling Aktif Membaca tetapi Paling Tak “Terliterasi”

24 Juni 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Jangan remehkan antrean Stasiun Lempuyangan, Jogja, di jam pagi untuk keberangkatan Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung MOJOK.CO

Antrean Pagi Stasiun Lempuyangan Jogja Selalu “Keos” dan Bikin Tegang, Datang Lebih Awal Tak Jadi Solusi

21 Agustus 2026
Desta pamit dari Vindes rasanya kayak kehilangan dua teman MOJOK.CO

Ketika Desta pamit dari Vindes, saya merasa kehilangan dua teman yang tidak pernah saya kenal

27 Agustus 2026
Khotbah Bunyi-bunyian Senyawa di Candi Prambanan.MOJOK.CO

Khotbah Bunyi-bunyian Senyawa di Candi Prambanan

26 Agustus 2026
Alfamart dan PGMM beri bantuan seragam ke 7 madrasah di Magelang sebagai wujud kepedulian sosial MOJOK.CO

Alfamart dan PGMM Beri Bantuan Seragam Sekolah di 7 Madrasah Magelang, Jadi Penunjang Semangat dan Kepercayaan Diri Siswa

24 Agustus 2026
Sikap-sikap sederhana ke pelayan rumah makan atau restoran yang seharusnya jadi kewajaran MOJOK.CO

Sikap-sikap Sederhana ke Pelayan Rumah Makan atau Restoran yang Kita Abaikan karena Ego, Padahal Bermakna Memanusiakan

20 Agustus 2026
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla)sebagaimana terjadi di Kalimantan tidak bisa direduksi sekadar memadamkan api, ada gambut yang rusak MOJOK.CO

Karhutla Terus Berulang karena Pihak Berwenang Cukup Puas Padamkan Api, Akar Masalah Tereduksi

24 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.