Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas

Kenia Intan oleh Kenia Intan
18 Mei 2026
A A
Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas Mojok.co

Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas (unsplash.com)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ada kebiasaan komunikasi baru yang tumbuh sejak ponsel, internet, dan aplikasi berkirim pesan berkembang pesat. Saya jadi lebih senang bertukar pesan lewat chat daripada angkatan panggilan telepon.

Awalnya, saya pikir kebiasaan ini muncul karena saya yang cenderung introvert. Namun, setelah saya amati lagi, banyak teman yang introvert maupun ekstrovert ternyata lebih nyaman berkomunikasi lewat chat. Perasaan ini semakin valid setelah saya baca penelitian kalau generasi Milenial maupun generasi Z  memang lebih senang komunikasi lewat pesan teks. Survei dari Uswitch terhadap 2.000 responden, 1 dari 4 generasi muda berusia 18-34 tahun memang jarang angkat panggilan telepon. 

Iklan

Baca juga Lagu Baru Sheila On 7 “Sederhana” Pas untuk Orang-orang Usia 30 Tahun.

Panggilan telepon bikin cemas

Jujur saja, bagi saya, panggilan telepon itu bikin cemas. Dan, banyak orang-orang sekitar saya juga merasa demikian. Mereka berpikir, “Kalau ditelepon nanti ngomong apa?” Ditelepon memang tidak memberi kita jeda cukup lama untuk merespons. Beda dengan pesan teks yang cenderung memberi jeda untuk berpikir. Inilah yang bikin orang-orang sekitar saya cemas kalau ditelepon orang lain, terlebih orang yang tidak begitu akrab. 

Sementara bagi saya, karena terbiasa bertahun-tahun komunikasi melalui pesan WhatsApp, ditelepon atau menelepon jadi punya kesan urgensi tinggi. Itu mengapa, setiap ada panggilan masuk, kepala saya langsung mengasosiasikannya dengan hal-hal penting, cenderung gawat seperti hidup dan mati. Rasa waswas dan deg-degan langsung muncul, itu mengapa saya kurang suka ditelepon. 

Perasaan kurang nyaman ditelepon mencapai puncaknya ketika nomor spam dan penipuan makin marak belakangan ini. Bayangkan saja, sehari bisa ditelepon hingga 8 kali nomor tidak kenal, benar-benar mengganggu! Awalnya saya masih meladeni dengan mengangkat beberapa nomor tidak dikenal. Lama-lama capek juga.

Di satu sisi saya merasa tiap panggilan telepon itu penting. Di sisi lain, banyak nomor-nomor tidak dikenal macam ini. Frustrasi, akhirnya di waktu-waktu tertentu saya mengaktif mode “Do Not Disturb” di ponsel. Dan, hanya beberapa nomor tertentu yang bisa menelepon saya saat mode tersebut aktif. Pengaturan ini bikin saya makin tidak terbiasa angkat panggilan telepon kecuali sudah janjian sebelumnya.

Mengganggu dan menghabiskan waktu, obrolan bisa sampai mana-mana

Hal lain yang bikin malas angkat panggilan telepon adalah obrolan yang bisa sampai mana-mana. Di sisi lain, saya tidak pandai memotong atau mengakhiri pembicaraan. Ada perasaan nggak enak ketika lawan bicara sedang asyik-asyiknya ngomong, tapi saya terpaksa mengakhirinya. 

Berbeda ketika berkomunikasi lewat pesan chat, rasanya lebih efektif. Apalagi kalau lawan bicaranya juga terbiasa komunikasi secara tertulis. Bahasannya lebih runtut, jadi lebih mudah dipahami. Kalaupun obrolannya nglantur sampai ke mana-mana, cukup tidak ditanggapi atau dibalas nanti ketika sudah ada waktu.

Perasaan punya kendali macam ini yang bikin saya nyaman berkomunikasi via chat. Terlebih aplikasi bertukar pesan sekarang ini begitu canggih sehingga berbagai macam ekspresi sudah terakomodir lewat emoji maupun GIF. Rasa-rasanya komunikasi lewat chat saja sudah cukup, tidak perlu repot-repot menelepon. 

Baca juga Low Maintenance Friendship: Tipe Pertemanan Dewasa yang Minim Drama, Cocok untuk Orang-Orang Usia 30 Tahunan.

Tetap mudah dihubungi

Beberapa orang mungkin lebih memilih menghubungi lewat telepon supaya cepat direspons. Namun, hal itu tidak berlaku untuk saya. WhatsApp saya hampir selalu aktif dan saya tipe orang yang cepat merespons, apalagi kalau pesannya urgen atau penting. Itu mengapa, walau tidak suka ditelepon, orang-orang jarang protes karena saya hampir selalu merespons pesan mereka. 

Kawan saya yang lain, yang tidak suka angkat telepon, punya siasat yang unik dan lebih masuk akal. Apabila lawan bicara lebih nyaman menjelaskan via telepon, setidaknya lawan bicara tersebut berkabar dahulu lewat chat Whatsapp. Terdengar berlapis-lapis memang, tapi komunikasi macam ini yang bikin nyaman kedua belah pihak. Saya pikir tidak ada salahnya dan arah pesannya jadi lebih jelas. 

Menuliskan hal ini membuat saya merenungkan kembali betapa besar perubahan atau pengaruh teknologi dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Tentu tidak semua anak mudah punya kebiasaan ogah angkat panggilan telepon, tetapi sebaiknya hal-hal seperti ini tetap diketahui demi kelancaran komunikasi. Namun, kebiasaan ogah ditelepon tidak berlaku untuk orang tersayang ya. Kalau orang tersayang mah, mau chat, telepon, video call, sms, atau berkirim pesan lewat merpati sekalipun, semuanya akan saya respons dengan senang hati.

Penulis: Kenia Intan
Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Orang yang Mematikan Centang Biru WhatsApp Pasti Punya Alasan dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 18 Mei 2026 oleh

Tags: angkat teleponchatGen Zgenerasi milenialmilenialpanggilanpanggilan teleoponpesan teksteleponwhatsapp
Kenia Intan

Kenia Intan

Content Writer Mojok.co

Artikel Terkait

dukuh muda di kampung

Seni Menjadi Dukuh Muda di Tengah Gempuran Pemimpin Boomer: Kisah Dukuh Muda yang Rela Mengorbankan Masa Muda untuk Membuat Orang Tua Bangga

24 Agustus 2026
Grup WhatsApp keluarga, tempat menghakimi hidup orang lain (Unsplash)

Grup WhatsApp keluarga bukan tempat silaturahmi, tapi sumber stres baru ketika berubah menjadi ruang sidang untuk menghakimi hidup orang lain

18 Agustus 2026
Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026
Tahlilan di desa. MOJOK.CO

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026
Bagi Najwa Shihab, gagasan liar anak muda seperti dalam esai para penerima Djarum Beasiswa Plus dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 harus diberi ruang MOJOK.CO

“Gagasan Liar” Anak Muda Harus Diberi Ruang, Terdengar Tak Lazim tapi Penting Dibicarakan

6 Juli 2026
Gen Z Habiskan Gaji untuk Konser K-Pop. MOJOK.CO

Gen Z Habiskan Gaji demi Konser K-Pop: “Balas Dendam” Terbaik untuk Penuhi Inner Child

25 Juni 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Sisi lain blusukan kampung di Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Sisi Lain Tren Blusukan Kampung: Nggak Seru seperti di Medsos, Malah Dicurigai Pencuri dan Dianggap Tak Tau Adab

20 Agustus 2026
Sikap-sikap sederhana ke pelayan rumah makan atau restoran yang seharusnya jadi kewajaran MOJOK.CO

Sikap-sikap Sederhana ke Pelayan Rumah Makan atau Restoran yang Kita Abaikan karena Ego, Padahal Bermakna Memanusiakan

20 Agustus 2026
Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta. MOJOK.CO

Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA: Masjid sebagai Mercusuar Peradaban dan Konservasi Lingkungan

22 Agustus 2026
Peserta dalam ajang Klaten International Motocross di Sirkuit Bokong Semar, kawasan Rowo Jombor. MOJOK.CO

Anak Muda Asal Jawa Barat Kalahkan Crosser dari Australia di Ajang Klaten International Motocross

25 Agustus 2026
Proyek Hutan Tanaman Energi (HTE) untuk co-firing biomassa di PLTU langgengkan praktik perampasan tanah ala kolonial MOJOK.CO

Proyek Bioenergi Kayu di Jawa Langgengkan Praktik Perampasan Lahan ala Kolonial

21 Agustus 2026
fotografer wisuda

Suka Duka Fotografer Wisuda: Senang Mengabadikan Momen Bahagia Tapi Sial Karena ‘Harga Teman’

23 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.