Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

5 Alasan Earphone Kabel Kembali Tren dibanding TWS: Nggak Ribet Kalau Hilang Sebelah sampai Jadi Peringatan Tersirat Budak Korporat

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
7 Mei 2026
A A
Earphone kabel mengalahkan TWS. MOJOK.CO

ilustrasi - earphone kabel bangkit kembali mengalahkan tren TWS. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Earphone kabel kembali bangkit setelah tersingkir selama bertahun-tahun, karena kehilangan pamor setelah kemunculan True Wireless Stereo (TWS) seperti AirPods. Sejumlah pengguna mengklaim earphone kabel lebih praktis.

Dalam lima tahun terakhir, penjualan earphone kabel mengalami penurunan. Sound Guys mencatat, penurunan sempat anjlok sebanyak US$42 juta (Rp672 miliar) pada 2024. 

Hal ini tak terlepas dari kemunculan awal TWS sebagai penanda gaya hidup canggih, minimalis, dan modern. TWS juga dilengkapi Active Noise Cancellation (ANC), menjamin koneksi cepat, dan daya tahan baterai yang mumpuni dalam case-nya. 

Namun nyatanya, pengguna mengaku kecewa atas jaminan tersebut sehingga kembali memilih earphone kabel. Alhasil, penjualan earphone kabel kembali naik pada 2025 dengan pertumbuhan 3 persen atau sekitar US$15 juta (Rp243 miliar).

Pada Juli hingga Desember 2025, penjualannya melonjak sekitar 10 persen. Puncaknya terjadi dalam 6 minggu pertama, yakni mencapai 20 persen. Dari segi harga, earphone kabel juga lebih terjangkau dibandingkan TWS. Lebih dari itu, ada berbagai alasan yang bikin pengguna beralih dari TWS.

#1 Menyelamatkan HP saat jatuh

Tersambungnya kabel earphone pada gawai ternyata punya fungsi khusus secara tidak langsung, yakni menyelamatkan HP sebelum jatuh dan terbentur. Penyebab HP jatuh bisa beragam, misalnya karena permukaan yang licin atau kelalaian manusia seperti tersenggol sampai meletakkan HP di tempat yang tidak aman.

Bayangkan, ketika kita asyik mendengarkan lagu, lalu tiba-tiba HP kita terjatuh. Kita pun tak perlu terlalu khawatir HP tergores atau terbentur, sebab HP tetap akan menggantung sebelum jatuh ke tanah atau lantai.

“To be fair, wired headphones saved my phone from falling few times (Sejujurnya, headphone berkabel telah menyelamatkan ponsel saya dari jatuh beberapa kali),” ujar akun Instagram @edytastala di kolom komentar yang disukai hampir 800 orang lainnya. 

#2 Earphone kabel nggak bakal hilang sebelah

Masalah yang paling sering dialami pengguna TWS adalah hilangnya satu sisi earbud. Kebanyakan TWS masih bisa digunakan walaupun hanya pakai satu sisi saja, sebab kedua earbud sejatinya dirancang bisa berfungsi secara mandiri. 

Biasanya, salah satu earbud punya fungsi utama alias terhubung sebagai master, sedangkan sisi satunya sebagai pendamping. Penggunaan satu sisi earbud juga berdampak pada beberapa fitur yang tidak maksimal, seperti suara stereo, noise cancellation, dan gaming mode. 

Oleh karena itu, pengguna biasanya akan lebih tenang asal yang hilang bukan sisi master. Namun, tentu saja ada orang yang kurang nyaman memakai satu earbud. Beberapa merek juga belum tentu mengizinkan pembelian earbud secara terpisah. Tak pelak, banyak orang harus membeli TWS lagi dengan harga yang sebetulnya lebih mahal ketimbang earphone kabel. 

#3 Earphone kabel nggak perlu di-charge

Dibanding earphone kabel, penggunaan TWS memerlukan baterai dan harus di-charge. Ketika baterainya habis maka TWS tidak bisa berfungsi. Terlebih, daya TWS umumnya baru penuh setelah diisi selama 1 hingga 2 jam di dalam chasing.

Sama seperti gawai yang baterainya bisa melembung, TWS yang di-charge terlalu lama dapat menurunkan umur baterai. Adaptor yang digunakan juga harus sesuai. Biasanya bisa 5 Volt atau 1-2 Ampere (1000mA).

“Sementara kabel mah bebas mau pakai sampai budeg (sulit mendengar) juga nggak bakal mati,” kata Ayu sebagai pengguna earphone kabel yang pernah memakai TWS.

Iklan

#4 Penanda kalau lagi sibuk

Belakangan, memakai earphone kabel atau headphone dapat diartikan sebagai komunikasi non-verbal. Malah, ada orang yang hanya memakainya tanpa bertujuan mendengarkan sesuatu. Di lingkungan kantor, pegawai seperti itu sering diartikan sedang sibuk. Karena itu, mereka tidak ingin diganggu atau diajak mengobrol. 

Kadang-kadang, orang bisa salah paham terhadap pengguna TWS. Misalnya, ada orang yang salah kira ketika melihat orang lain seperti mengajak ngobrol dirinya, padahal orang tersebut sedang menggunakan TWS untuk telepon.

Misalnya lagi, orang lain yang menyapa kita di jalan, tapi karena kita tidak dengar dan sedang fokus mendengarkan musik atau menghadiri forum secara online, kita jadi tidak sadar dengan sapaan tersebut dan malah dikira sombong.

#5 Earphone kabel dianggap retro dan sehat mental

Tahun 2026 ini, earphone kabel semakin tren karena berbagai figur publik yang kembali memakai earphone kabel alih-alih TWS. Sebut saja, aktris bernama Jenna Ortega yang meraih popularitas lewat perannya di film Wednesday hingga anggota K-Pop.

Kini, earphone kabel menjadi simbol gaya hidup retro. Istilah ini sering disebut digital fatigue alias kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional akibat interaksi digital yang berlebihan. Dengan memakai earphone kabel, pengguna lebih merasa terbebas atau lepas sejenak dari kerumitan teknologi nirkabel.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Digital Fatigue: Kembalinya Budaya Retro di Kalangan Gen Z, karena Jenuh dengan Teknologi Modern atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 7 Mei 2026 oleh

Tags: digital fatigueearphoneearphone kabelgaya retroGen Ztren 2026tws
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Zero post di Instagram cara hidup tenang Gen Z. MOJOK.CO
Urban

Gen Z Lebih Tenang Tanpa Feed Instagram (Zero Post), Aslinya Bukan Misterius Cuma Capek Mengejar Validasi dan Ingin Melindungi Diri

7 Mei 2026
pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO
Mendalam

Dilema Gen Z: Resign Kerja Kena Mental karena Mulut Ortu dan Tetangga, tapi Bisa “Gila” Kalau Bertahan di Kantor yang Isinya Orang Toksik

4 Mei 2026
Gen Z dihakimi milenial
Urban

Nasib Gen Z: Sudah Susah, Malah Serbasalah hingga Dicap “Gila” padahal Hadapi Krisis dan Hanya Mencoba Bertahan Hidup

30 April 2026
Tongkrongan gen Z di coffee shop
Sehari-hari

Tongkrongan Gen Z Meresahkan, Mengganggu Kenyamanan dari Yang Bisik-bisik sampai Berisik

23 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Arta Wahana, pensiunan UGM isi waktu dengan berkebun selada (dok. UGM)

35 Tahun Mengabdikan Diri di UGM, Kini Pilih Budidaya Selada Hidroponik Malah Hasilkan Omzet Harian Rp750 Ribu

3 Mei 2026
WHV di Australia ternyata berat. MOJOK.CO

Kerja Mati-matian di Australia, Tabungan Sampai Setengah Miliar tapi Nggak Bisa Dinikmati dan Terpaksa Pulang usai Kena Mental

4 Mei 2026
1.000 Kamera Dipasang untuk Intai Macan Tutul Jawa MOJOK.CO

1.000 Kamera Dipasang untuk Intai Macan Tutul Jawa

2 Mei 2026
Perburuan burung kicau untuk penuhi pasar skena kicau mania tinggi, ternyata bisa ancam manusia dan bumi MOJOK.CO

Perburuan Burung Kicau untuk Penuhi Skena Kicau Mania Tinggi: Jawa Jadi Pasar Besar, Bisa Ancam Manusia dan Bumi

2 Mei 2026
Zero post di Instagram cara hidup tenang Gen Z. MOJOK.CO

Gen Z Lebih Tenang Tanpa Feed Instagram (Zero Post), Aslinya Bukan Misterius Cuma Capek Mengejar Validasi dan Ingin Melindungi Diri

7 Mei 2026
usaha mie ayam wonogiri.MOJOK.CO

Buka Usaha di Luar Pulau Jawa Kerap Gagal Bukan karena Klenik “Dikerjain” Akamsi, Ada Faktor Lain yang Lebih Masuk Akal

6 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.