Seiring berkembangnya waktu, para gen Z (rata-rata kelahiran 1997-2012) lebih suka mengosongkan akun Instagram mereka. Ada yang berandanya kosong melompong tanpa unggahan, ada pula yang tidak menggunakan foto profil. Tren inilah yang dikenal dengan istilah ‘zero post’.
Gen z beralasan bahwa mereka bukan ingin terlihat misterius di Instagram melainkan lebih sadar tentang fungsi dari media sosial itu sendiri. Alih-alih mengunggah cerita hidup di Instagram misalnya, mereka lebih suka menghabiskan waktu berkualitas di dunia nyata.
“Kadang banyak yang salah kaprah, dianggapnya aku adalah orang yang sangat serius padahal aslinya mah, ya plenger juga,” kata Shofi (23) kepada Mojok, Selasa (4/5/2026).
“Tapi sebetulnya aku masih aktif menggunakan media sosial atau repost unggahan akun lain di detik-detik terakhir (last 24 hours), walaupun beranda Instagramku kosong,” lanjutnya.
Zero post guna melindungi privasi
Fenomena zero post tak hanya terjadi di Indonesia, awal April 2026, Kantor Komunikasi (Ofcom) merilis survei tentang kebiasaan dan penggunaan daring di Inggris. Survei tersebut mengungkap sebanyak 49 persen responden yang sebagian banyak adalah orang dewasa, lebih sedikit mengunggah, mengomentari, atau berbagi konten di media sosial.
Mereka mengaku khawatir jika apa yang mereka katakan lewat daring dapat berdampak buruk di masa depan. Alhasil, gen Z cenderung mengelola batasan pribadi mereka guna melindungi privasi mereka di ruang digital.
Kyle Chayka penulis dari New Yorker yang berfokus pada teknologi dan budaya internet juga menyebut tren zero post juga terjadi akibat komersialisasi konten. Kini, menurut dia, perusahaan platform lebih sering menyajikan algoritma iklan atau sesuatu yang menghasilkan keterlibatan (engagement) langsung seperti like, komentar atau share dibandingkan unggahan followers mereka.
“Jadi, apa gunanya mengunggah swafoto jika tidak mendapatkan perhatian atau menjangkau teman-teman? Gagasan bahwa setiap orang harus berbagi kehidupan di depan umum agak cacat sejak awal,” ujar Chayka.
Zero post karena minder posting di Instagram
Fenomena zero post juga terjadi seiring dengan kesadaran masyarakat tentang isu kesehatan mental. Shofi berujar sudah menerapkan zero post setelah dirinya lulus SMA, karena kebiasaan overthinking di masa-masa kuliah.
“Aku kan anak daerah (luar pulau Jawa) terus kuliah di Jogja, jadi aku takut alay atau dianggap norak. Gengsi aja gitu kalau unggah gambar karena harus estetik, takut tidak memenuhi ekspektasi,” jelas Shofi.
Selain itu, Shofi juga sering kepikiran setelah melihat unggahan gambar dari akun Instagram orang lain. Shofi sendiri sering memberikan penilaian baik negatif maupun positif. Hal ini membuatnya khawatir jika orang lain juga akan menilai dirinya buruk hanya karena konten yang ia buat di Instagram.
Di sisi lain, Shofi memilih menggunakan akun kedua atau second account untuk mengekspresikan diri lebih bebas, tapi tetap saja beranda Instagram-nya tetap kosong karena dia kurang percaya diri untuk memotret.
“Seolah dituntut untuk mengunggah foto estetik sedangkan aku merasa nggak punya sense dalam seni apalagi dalam hal mengedit,” jelas Shofi.
Lebih sehat mental dan tak haus validasi
Sebuah Jurnal Ilmu Komunikasi dan Sosial Politik dari Universitas Dharma Andalas membuktikan, orang yang menerapkan zero post cenderung merasa tenang, tidak terbebani untuk terlihat sempurna, dan dapat lebih fokus pada kehidupan sehari-hari tanpa perlu memenuhi standar sosial media.
“Banyak teman yang mengunggah foto-foto mereka, tetapi saya merasa tidak perlu menunjukkan kehidupan pribadi saya di media sosial,” ucap RN dikutip dari jurnal berjudul Fenomena Mahasiswa Generasi Z di Instagram (Studi Kualitatif Fenomenologi Mengenai Motif di Balik Kosongnya Feed Instagram pada Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Dharma Andalas).
Penelitian tersebut juga menjelaskan bagaimana peningkatan sosial dapat berpengaruh signifikan terhadap self-esteem atau perasaan dari hasil evaluasi diri yang dapat bersifat positif atau negatif.
Masalahnya, penelitian menunjukkan bahwa melihat unggahan menarik di media sosial dapat menurunkan self-esteem individu. Sebab tak bisa dipungkiri, kalau pengguna Instagram berusaha menampilkan sisi positif dirinya dan kehidupan yang terlihat bahagia.
Namun, Shofi berujar kini dirinya lebih mempelajari ilmu stoik, yakni mengendalikan pikiran dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Serta, menerima hal-hal di luar kendali.
“Sekarang aku lebih bersikap masa bodo amat, tapi juga nggak terlalu sering unggah foto agar tetap menjaga privasiku,” tegas Shofi.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Nasib Gen Z: Sudah Susah, Malah Serbasalah hingga Dicap “Gila” padahal Hadapi Krisis dan Hanya Mencoba Bertahan Hidup atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














