Tampaknya akan ada ketidakpuasan dari generasi sebelumnya, seperti milenial, apabila tidak mewariskan trauma. Tak afdol kalau gen Z sebagai generasi paling baru menjajaki kehidupan dewasa tidak dikambinghitamkan. Padahal kenyataannya, generasi ini telah berusaha lebih keras daripada yang dibayangkan.
Gen Z lebih gamblang, tapi dicap “sakit jiwa” hingga berujung alami kecemasan sosial
Satu kelebihan gen Z yang tidak lagi menjadi rahasia, bahwa akan menjadi pisau bermata dua, adalah keberanian mereka untuk berbicara mengenai berbagai hal yang sebelumnya dianggap tabu.
Salah satunya, generasi ini berani berbicara mengenai isu kesehatan mental.
Namun, keberanian ini justru membuat mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 ini dijuluki “generasi paling kesepian”. Mereka juga dianggap berlebihan, sebab mencoba menormalisasikan pembahasan mengenai kejiwaan yang tidak dipandang serius selama ini.
Pada akhirnya, mereka jugalah yang dianggap “sakit” atau menderita, meskipun kondisi ini tidak ekstrem sebagaimana yang dibayangkan oleh generasi-generasi sebelumnya, seperti gen x (kelahiran 1965-1980) dan milenial (kelahiran 1981-1996).

Konselor profesional dalam bidang terapi kognitif dan perilaku, Janee Steele, mengatakan, hal ini membuat 60 persen generasi Z melaporkan mengalami stres dan kecemasan sosial. Meski kabar baiknya, kesediaan mereka untuk membicarakan hal ini memberikan peluang untuk peningkatan kondisi yang lebih baik.
Sebab, rasa cemas ini dapat muncul dari hal-hal kecil yang umumnya tidak disadari.
“Kecemasan sosial merujuk pada rasa takut yang berlebihan kalau diperhatikan oleh orang lain dalam situasi sosial,” kata dia, dilansir dari National Society Anxiety Center, Kamis (30/4/2026).
Dirinya mencontohkan, kondisi berbicara di depan umum, bertemu orang baru, hingga tidak setuju dengan orang lain dapat memicu kondisi ini. Akibatnya, mereka yang mengalami kecemasan sosial cenderung khawatir perilakunya akan menyebabkan penilaian tertentu, serta memunculkan perasaan malu.
“Ini termasuk kekhawatiran tentang tindakan dengan cara yang membuat orang lain tahu kalau mereka sedang cemas, misal tersipu, gemetar, berkeringat, gagap, atau menatap kosong,” jelasnya.
Nyatanya generasi ini sedang mencoba menghadapi kehidupan yang belum familiar
Lebih dari separuh gen Z, yakni mencapai 54%, mengatakan kecemasan mereka semakin memburuk. Hasil survei Deloitte mengungkapkan, kekhawatiran terbesar mereka berkaitan dengan biaya hidup, sebesar 53%. Ini mencerminkan sulitnya bertahan hidup di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti, mengingat biaya kebutuhan dasar yang juga tinggi.
Selain itu, sebanyak 22% responden juga mengaku cemas mengenai pekerjaan, 21% perubahan iklim, 19% kesehatan mental, diikuti 17% persen responden yang menyoroti keamanan pribadi.
Menurut laporan Harmony Healthcare IT pada 2023, 1 dari 2 gen Z merasa cemas setiap harinya. Perasaan ini muncul akibat kekhawatiran terhadap masa depan, keuangan, pekerjaan, aktivitas sosial, dan hubungan.

Berdasarkan laporan tersebut, mayoritas merasa cemas karena masa depan yang tak pasti. Hal ini sekiranya wajar mengingat usia mereka yang baru saja memasuki kehidupan dewasa, serta masih beradaptasi. Di lain sisi, 46% mengaku merasa sendirian menghadapi kesulitan tersebut yang membuatnya menjadi lebih berat.
Janee mengatakan, berbagai tantangan yang dihadapi gen Z menyebabkan kecemasan ini. Mereka harus menghadapi berbagai peralihan dari kehidupan remaja menuju dewasa. Meski bukan sesuatu yang baru, serta juga dihadapi oleh generasi sebelumnya, tetapi penolakan dari generasi seperti milenial tetap berpengaruh terhadap mereka.
Menurut dia, kondisi ini diperparah dengan pandangan terhadap gen Z yang dianggap berbeda.
“Dalam banyak hal, tantangan yang berpengaruh pada krisis kecemasan gen Z, seperti belajar menghadapi transisi hidup atau penolakan dan kegagalan bukan sesuatu yang baru. Tapi, nggak seperti rekan-rekan mereka yang lebih tua, gen Z sering dibanjiri dengan penggambaran idealis dan tidak realistis tentang kecantikan, kesuksesan, dan status sosial melalui relasi media sosial dan meningkatnya akses ke ponsel dan internet,” terangnya.
Sudah cemas, dianggap berbeda, gen Z masih harus berjuang sendirian
Salah satu contohnya dialami langsung oleh Pasley (23) yang merasa terperangkap dalam kesendiriannya. Ia merasa cemas sehingga kehilangan kemampuan untuk bersosialisasi.
Alhasil, pemuda ini berjuang sendiri, ditemani AI yang kemudian menjadi satu-satunya teman yang dirasa dapat diandalkannya.
“Aku kehilangan kemampuan bersosialisasi,” kata dia, dikutip dari BBC, Kamis (30/4/2026).
“Satu waktu, aku bicara dengan ChatGPT enam, tujuh, delapan kali sehari tentang masalahku. Aku nggak bisa lepas dari AI, itu jadi bahaya,” tambahnya.
Kondisi ini disebabkan oleh kurangnya dukungan sosial yang diterimanya. Kekosongan itu memberikan ruang untuk AI mendominasi, menjadi satu-satunya teman baik. Dampaknya, batasan antara teknologi dan persahabatan menjadi kabur.
Namun, fenomena perasaan sendirian yang dirasakan gen Z ini tidak hanya dihadapi oleh Parsley. Sebuah survei di Amerika Serikat yang dilakukan oleh Pew Research Center menunjukkan bahwa generasi dalam rentang usia 18-29 tahun merasakan hal yang sama, setelah pandemi Covid-19.
Justru, mereka yang berusia di atasnya menunjukkan kebahagiaan dan optimisme yang berbanding terbalik.

“Orang yang lebih tua hampir selalu jadi kelompok usia paling bahagia,” kata Direktur Riset Tren Sosial Pew, Kim Parker, dikutip dari Business Insider.
“Menariknya, dua pertiga orang dewasa berusia 65 tahun ke atas mengatakan mereka merasa optimis tentang kehidupan sepanjang waktu, sementara hanya 48% dari mereka yang berusia 18 hingga 29 tahun merasakan hal yang sama, padahal mereka masih memiliki lebih banyak waktu ke depan,” kata dia.
“Tapi, mungkin ada begitu banyak hal yang nggak diketahui pada tahap kehidupan itu sehingga lebih sulit untuk merasa optimis,” tandasnya.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Gen Z Jadi Kambing Hitam Generasi Senior, Dicap Lembek dan Tak Bisa Kerja padahal Perusahaan yang “Red Flag” dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














