Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Nasib Gen Z: Sudah Susah, Malah Serbasalah hingga Dicap “Gila” padahal Hadapi Krisis dan Hanya Mencoba Bertahan Hidup

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
30 April 2026
A A
Gen Z dihakimi milenial

Ilustrasi - Gen Z dihakimi milenial (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tampaknya akan ada ketidakpuasan dari generasi sebelumnya, seperti milenial, apabila tidak mewariskan trauma. Tak afdol kalau gen Z sebagai generasi paling baru menjajaki kehidupan dewasa tidak dikambinghitamkan. Padahal kenyataannya, generasi ini telah berusaha lebih keras daripada yang dibayangkan.

Gen Z lebih gamblang, tapi dicap “sakit jiwa” hingga berujung alami kecemasan sosial

Satu kelebihan gen Z yang tidak lagi menjadi rahasia, bahwa akan menjadi pisau bermata dua, adalah keberanian mereka untuk berbicara mengenai berbagai hal yang sebelumnya dianggap tabu.

Iklan

Salah satunya, generasi ini berani berbicara mengenai isu kesehatan mental.

Namun, keberanian ini justru membuat mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 ini dijuluki “generasi paling kesepian”. Mereka juga dianggap berlebihan, sebab mencoba menormalisasikan pembahasan mengenai kejiwaan yang tidak dipandang serius selama ini. 

Pada akhirnya, mereka jugalah yang dianggap “sakit” atau menderita, meskipun kondisi ini tidak ekstrem sebagaimana yang dibayangkan oleh generasi-generasi sebelumnya, seperti gen x (kelahiran 1965-1980) dan milenial (kelahiran 1981-1996).

Data kesehatan mental berdasarkan generasi
Data kesehatan mental berdasarkan generasi (Sumber: Jakpat)

Konselor profesional dalam bidang terapi kognitif dan perilaku, Janee Steele, mengatakan, hal ini membuat 60 persen generasi Z melaporkan mengalami stres dan kecemasan sosial. Meski kabar baiknya, kesediaan mereka untuk membicarakan hal ini memberikan peluang untuk peningkatan kondisi yang lebih baik.

Sebab, rasa cemas ini dapat muncul dari hal-hal kecil yang umumnya tidak disadari.

“Kecemasan sosial merujuk pada rasa takut yang berlebihan kalau diperhatikan oleh orang lain dalam situasi sosial,” kata dia, dilansir dari National Society Anxiety Center, Kamis (30/4/2026).

Dirinya mencontohkan, kondisi berbicara di depan umum, bertemu orang baru, hingga tidak setuju dengan orang lain dapat memicu kondisi ini. Akibatnya, mereka yang mengalami kecemasan sosial cenderung khawatir perilakunya akan menyebabkan penilaian tertentu, serta memunculkan perasaan malu.

“Ini termasuk kekhawatiran tentang tindakan dengan cara yang membuat orang lain tahu kalau mereka sedang cemas, misal tersipu, gemetar, berkeringat, gagap, atau menatap kosong,” jelasnya.

Nyatanya generasi ini sedang mencoba menghadapi kehidupan yang belum familiar

Lebih dari separuh gen Z, yakni mencapai 54%, mengatakan kecemasan mereka semakin memburuk. Hasil survei Deloitte mengungkapkan, kekhawatiran terbesar mereka berkaitan dengan biaya hidup, sebesar 53%. Ini mencerminkan sulitnya bertahan hidup di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti, mengingat biaya kebutuhan dasar yang juga tinggi.

Selain itu, sebanyak 22% responden juga mengaku cemas mengenai pekerjaan, 21% perubahan iklim, 19% kesehatan mental, diikuti 17% persen responden yang menyoroti keamanan pribadi.

Menurut laporan Harmony Healthcare IT pada 2023, 1 dari 2 gen Z merasa cemas setiap harinya. Perasaan ini muncul akibat kekhawatiran terhadap masa depan, keuangan, pekerjaan, aktivitas sosial, dan hubungan. 

Hasil survei mengenai kecemasan pada gen Z
Hasil survei mengenai kecemasan pada gen Z (Sumber: Harmony Healthcare IT)

Berdasarkan laporan tersebut, mayoritas merasa cemas karena masa depan yang tak pasti. Hal ini sekiranya wajar mengingat usia mereka yang baru saja memasuki kehidupan dewasa, serta masih beradaptasi. Di lain sisi, 46% mengaku merasa sendirian menghadapi kesulitan tersebut yang membuatnya menjadi lebih berat.

Iklan

Janee mengatakan, berbagai tantangan yang dihadapi gen Z menyebabkan kecemasan ini. Mereka harus menghadapi berbagai peralihan dari kehidupan remaja menuju dewasa. Meski bukan sesuatu yang baru, serta juga dihadapi oleh generasi sebelumnya, tetapi penolakan dari generasi seperti milenial tetap berpengaruh terhadap mereka.

Menurut dia, kondisi ini diperparah dengan pandangan terhadap gen Z yang dianggap berbeda.

“Dalam banyak hal, tantangan yang berpengaruh pada krisis kecemasan gen Z, seperti belajar menghadapi transisi hidup atau penolakan dan kegagalan bukan sesuatu yang baru. Tapi, nggak seperti rekan-rekan mereka yang lebih tua, gen Z sering dibanjiri dengan penggambaran idealis dan tidak realistis tentang kecantikan, kesuksesan, dan status sosial melalui relasi media sosial dan meningkatnya akses ke ponsel dan internet,” terangnya.

Sudah cemas, dianggap berbeda, gen Z masih harus berjuang sendirian

Salah satu contohnya dialami langsung oleh Pasley (23) yang merasa terperangkap dalam kesendiriannya. Ia merasa cemas sehingga kehilangan kemampuan untuk bersosialisasi.

Alhasil, pemuda ini berjuang sendiri, ditemani AI yang kemudian menjadi satu-satunya teman yang dirasa dapat diandalkannya.

“Aku kehilangan kemampuan bersosialisasi,” kata dia, dikutip dari BBC, Kamis (30/4/2026).

“Satu waktu, aku bicara dengan ChatGPT enam, tujuh, delapan kali sehari tentang masalahku. Aku nggak bisa lepas dari AI, itu jadi bahaya,” tambahnya.

Kondisi ini disebabkan oleh kurangnya dukungan sosial yang diterimanya. Kekosongan itu memberikan ruang untuk AI mendominasi, menjadi satu-satunya teman baik. Dampaknya, batasan antara teknologi dan persahabatan menjadi kabur.

Namun, fenomena perasaan sendirian yang dirasakan gen Z ini tidak hanya dihadapi oleh Parsley. Sebuah survei di Amerika Serikat yang dilakukan oleh Pew Research Center menunjukkan bahwa generasi dalam rentang usia 18-29 tahun merasakan hal yang sama, setelah pandemi Covid-19.

Justru, mereka yang berusia di atasnya menunjukkan kebahagiaan dan optimisme yang berbanding terbalik.

Data kesendirian dan optimisme berdasarkan kelompok usia
Data kesendirian dan optimisme berdasarkan kelompok usia (Sumber: Business Insider)

“Orang yang lebih tua hampir selalu jadi kelompok usia paling bahagia,” kata Direktur Riset Tren Sosial Pew, Kim Parker, dikutip dari Business Insider.

“Menariknya, dua pertiga orang dewasa berusia 65 tahun ke atas mengatakan mereka merasa optimis tentang kehidupan sepanjang waktu, sementara hanya 48% dari mereka yang berusia 18 hingga 29 tahun merasakan hal yang sama, padahal mereka masih memiliki lebih banyak waktu ke depan,” kata dia.

“Tapi, mungkin ada begitu banyak hal yang nggak diketahui pada tahap kehidupan itu sehingga lebih sulit untuk merasa optimis,” tandasnya.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Gen Z Jadi Kambing Hitam Generasi Senior, Dicap Lembek dan Tak Bisa Kerja padahal Perusahaan yang “Red Flag” dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 1 Mei 2026 oleh

Tags: anxietygangguan psikologisgaya hidup gen zGen Zgen z cemasgen z vs milenialisu kesehatan mentalkecemasan sosialkesehatan mentalkesehatan mental gen Zmilenialperjuangan gen z
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana MOJOK.CO
Esai

TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana

17 Juli 2026
Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO
Urban

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026
Tahlilan di desa. MOJOK.CO
Catatan

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026
Bagi Najwa Shihab, gagasan liar anak muda seperti dalam esai para penerima Djarum Beasiswa Plus dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 harus diberi ruang MOJOK.CO
Eksplor

“Gagasan Liar” Anak Muda Harus Diberi Ruang, Terdengar Tak Lazim tapi Penting Dibicarakan

6 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Pakai jastip Mie Gacoan di Jombang: bayar lebih mahal untuk menu membagongkan MOJOK.CO

Pakai Jastip Mie Gacoan Ala Orang Jombang Pinggiran: Niat Hindari Kenorakan, Yang Datang Menu Membagongkan

20 Juli 2026
Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026
Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia MOJOK.CO

Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia

15 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.