Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Kuliah di Malang karena Label Kota Pelajar: Berujung “Tersesat” karena Menormalkan Perilaku Tak Wajar Mahasiswa

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
4 Mei 2026
A A
Kuliah menjadi mahasiswa di PTN PTS Malang bikin merasa tersesat karena fenomena menginapkan pacar di kos hingga kumpul kebo MOJOK.CO

Ilustrasi - Kuliah menjadi mahasiswa di PTN PTS Malang bikin merasa tersesat karena fenomena menginapkan pacar di kos hingga kumpul kebo. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dalam bayangan calon-calon mahasiswa baru di Jawa Timur, Malang punya kesan yang mirip dengan Jogja: Kota Pelajar. Karena memang ada banyak pilihan kampus—baik PTN maupun PTS—di sana. Namun, kuliah Malang pada akhirnya membuat seseorang merasa “tersesat”, karena justru terseret pada arus normalisasi hal-hal yang sebenarnya tidak bisa dibenarkan baik dalam kerangka norma sosial, agama, bahkan hukum negara. 

***

Sejak lulus kuliah dari sebuah PTN di Malang, Pengki (27), bukan nama asli, memutuskan meninggalkan kota tersebut. Ia memilih kembali ke Sidoarjo dan bekerja di Surabaya. Sebab, ia takut, jika lanjut bekerja di Malang ia malah menjadi tidak terkontrol.

Pengki menjadi mahasiswa di sebuah PTN di Malang pada 2018 silam. Di awal-awal semester, “pelanggaran norma” yang ia lakukan, setidaknya baginya pribadi, masih di batas wajar. 

“Ya biasa lah umumnya anak nakal baru, paling minum, terus mulai biasa ninggal salat atau puasa,” ujar pemuda asal Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (3/5/2026).

Walaupun bukan merupakan anak pesantren, tapi Pengki tumbuh di tengah keluarga yang menjunjung tinggi norma sosial dan agama. Meninggalkan perintah wajib agama seperti salat dan puasa, atau sengaja melanggar larangan seperti minum minuman keras, menjadi perkara serius di keluarganya. 

Akan tetapi, dimulai dari semester 3, Pengki lambat laun merasa kuliah di Malang membuatnya justru tersesat. Sebab, ada hal-hal yang sebenarnya tidak bisa dibenarkan tapi justru dinormalisasi. 

Taruhan memacari mahasiswi dengan motif busuk

Di tongkrongan kecil tempat Pengki nongkrong, ada semacam taruhan antarteman untuk memacari seorang mahasiswi. Pengki menekankan, ini terjadi di tongkrongannya, belum tentu terjadi di tongkrongan lain. 

Targetnya laki-laki di tongkrongan Pengki dua: cari mahasiswi rebel sekalian atau cari mahasiswi yang tampak salehah. 

Masalahnya, motif taruhannya tidak selesai dengan berhasil memacari saja. Tapi ada motif busuk yang membuat Pengki tidak mau terlibat jauh. 

“Targetnya adalah meniduri. Kalau mahasiswi salehah, targetnya ya membuatnya jadi nggak salehah lagi. Mungkin penampilannya salehah, tapi dibuat sikapnya nggak salehah karena kan biasa dibawa ke kosan atau villa. Itu ngeri menurutku,” ungkap Pengki dengan nada bicara tersendat-sendat. 

Pengki melihat, ada kepuasan tersendiri di kalangan teman-temannya. Menceritakan pengalaman sehabis “memacari sekaligus melancarkan busuk” satu sama lain pun menjadi hal biasa. 

Selama kuliah di PTN Malang, terbiasa menginapkan pacar 

Pacaran sebenarnya bukan hal baru bagi Pengki. Namun, selama kuliah di PTN Malang, Pengki akhirnya menghilangkan rasa riskan untuk menginapkan pacar. 

Awalnya pacarannya ya biasa saja: sekadar jalan bareng, makan bareng, mantai bareng, dan lain-lain. Tetapi, mendapati betapa biasanya teman-teman mahasiswa Pengki menginapkan pacar di kosan, Pengki akhirnya pun ikut terseret.

Iklan

“Apa yang terjadi dari menginapkan lawan jenis di kosan, ya kamu pasti  sudah bisa menduga. Apalagi di Malang, banyak kos yang memang benar-benar leluasa, bebas, tanpa pengawasan,” kata Pengki. 

“Sebenarnya sama-sama nggak bisa dibenarkan. Tapi setidaknya aku dan pacarku memang punya perasaan satu sama lain, bukan hasil taruhan,” kilahnya. 

Jujur, setelah berkali-kali menginapkan pacar di kos dan berbuat tidak semestinya, Pengki masih kerap merasa menyesal. Ia merasa, seharusnya ia tidak berbuat demikian. Bukan untuk kebaikan Pengki sendiri, tapi juga untuk kebaikan pacarnya. 

Sering pula ia terbayang wajah orang tuanya di rumah. Ia dibiayai kuliah di PTN Malang untuk menuntut ilmu sebagai mahasiswa. Orang tuanya juga tidak henti-henti memberi wejangan agar Pengki menjaga diri. 

Hanya saja, setiap kali nongkrong dan tahu fakta bahwa banyak mahasiswa di Malang melakukan hal serupa, penyesalan itu kemudian menguap begitu saja. Mengesankan kalau hal semacam itu ya biasa saja. 

Baca lanjutannya di halaman selanjutnya…

Kumpul kebo hingga jadi solehot, hidup lurus-lurus saja malah dikesankan aneh dan tidak wajar

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 4 Mei 2026 oleh

Tags: kuliah di malangkumpul kebokumpul kebo malangliving togethermahasiswa malangMalangpilihan redaksiptn malangpts malang
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Gedebage, Bandung.MOJOK.CO
Urban

Bandung Kota Overrated dan Penuh Masalah, Anak Mudanya Tetap Waras karena Persib

24 Mei 2026
Memori 20 tahun gempa Jogja di SMAN 1 Kalasan: tak ingin wariskan trauma dan ketakutan MOJOK.CO
Jagat

Memori 20 Tahun Gempa Jogja di Kalasan: Rumah Ambrol hingga Jeritan di Jalanan, Trauma yang Tak Ingin Diwariskan ke Generasi Sekarang

23 Mei 2026
Duta Besar Belanda. dan Jerman terkesan usai bersepeda menyusuri desa di Prambanan, Klaten MOJOK.CO
Kilas

Bersepeda Susuri Desa di Prambanan Klaten bikin WNA Terkesan Ramahnya Warga Jateng, Sampai Usulkan Kota Ramah Sepeda

21 Mei 2026
Sikap atau reaksi pekewuh dan basa-basi ala orang Jawa jadi karakter yang justru merepotkan diri sendiri MOJOK.CO
Catatan

Sikap Pekewuh dan Basa-basi Ala Orang Jawa bikin Repot Diri Sendiri, Sialnya Tak Gampang buat Terus Terang

21 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Duta Besar Belanda. dan Jerman terkesan usai bersepeda menyusuri desa di Prambanan, Klaten MOJOK.CO

Bersepeda Susuri Desa di Prambanan Klaten bikin WNA Terkesan Ramahnya Warga Jateng, Sampai Usulkan Kota Ramah Sepeda

21 Mei 2026
Pegawai Bank Jualan Mie Ayam Malam Hari, Istri Bahagia dan Rumah Idaman jadi Tujuan MOJOK.CO

Kisah Pegawai Bank Jualan Mie Ayam Malam Hari, demi Istri Bahagia dan Rumah Idaman

21 Mei 2026
Nikah di KUA dianggap murahan. MOJOK.CO

Nikah di KUA adalah Solusi bagi Karjimut karena Gratis, tapi Keluarga Menentang Hanya karena Gengsi dan Dicap Nggak Niat

20 Mei 2026
Pekerja Jakarta, WFH, kerja sesuai hobi.MOJOK.CO

Kerja Sesuai Hobi Bikin Menderita: Kita Jadi Tak Lagi Punya Tempat Menenangkan Pikiran Saat Muak dengan Pekerjaan

18 Mei 2026
WNI tergabung ke GSF menuju Gaza diculik militer Israel dan renungan kegagalan pemerintah dunia hentian genosida Palestina MOJOK.CO

Di Balik Penculikan WNI-GSF oleh Militer Israel: Sipil Berlayar karena Pemerintah Dunia Gagal Stop Genosida Palestina

19 Mei 2026
omong kosong srawung di desa.MOJOK.CO

Omong Kosong Slogan “Srawung” di Desa: Cuma Jahat ke Warga Miskin, Kalau Kamu Tajir Tak Perlu Membaur buat Dihormati

18 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.