Dalam bayangan calon-calon mahasiswa baru di Jawa Timur, Malang punya kesan yang mirip dengan Jogja: Kota Pelajar. Karena memang ada banyak pilihan kampus—baik PTN maupun PTS—di sana. Namun, kuliah Malang pada akhirnya membuat seseorang merasa “tersesat”, karena justru terseret pada arus normalisasi hal-hal yang sebenarnya tidak bisa dibenarkan baik dalam kerangka norma sosial, agama, bahkan hukum negara.
***
Sejak lulus kuliah dari sebuah PTN di Malang, Pengki (27), bukan nama asli, memutuskan meninggalkan kota tersebut. Ia memilih kembali ke Sidoarjo dan bekerja di Surabaya. Sebab, ia takut, jika lanjut bekerja di Malang ia malah menjadi tidak terkontrol.
Pengki menjadi mahasiswa di sebuah PTN di Malang pada 2018 silam. Di awal-awal semester, “pelanggaran norma” yang ia lakukan, setidaknya baginya pribadi, masih di batas wajar.
“Ya biasa lah umumnya anak nakal baru, paling minum, terus mulai biasa ninggal salat atau puasa,” ujar pemuda asal Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (3/5/2026).
Walaupun bukan merupakan anak pesantren, tapi Pengki tumbuh di tengah keluarga yang menjunjung tinggi norma sosial dan agama. Meninggalkan perintah wajib agama seperti salat dan puasa, atau sengaja melanggar larangan seperti minum minuman keras, menjadi perkara serius di keluarganya.
Akan tetapi, dimulai dari semester 3, Pengki lambat laun merasa kuliah di Malang membuatnya justru tersesat. Sebab, ada hal-hal yang sebenarnya tidak bisa dibenarkan tapi justru dinormalisasi.
Taruhan memacari mahasiswi dengan motif busuk
Di tongkrongan kecil tempat Pengki nongkrong, ada semacam taruhan antarteman untuk memacari seorang mahasiswi. Pengki menekankan, ini terjadi di tongkrongannya, belum tentu terjadi di tongkrongan lain.
Targetnya laki-laki di tongkrongan Pengki dua: cari mahasiswi rebel sekalian atau cari mahasiswi yang tampak salehah.
Masalahnya, motif taruhannya tidak selesai dengan berhasil memacari saja. Tapi ada motif busuk yang membuat Pengki tidak mau terlibat jauh.
“Targetnya adalah meniduri. Kalau mahasiswi salehah, targetnya ya membuatnya jadi nggak salehah lagi. Mungkin penampilannya salehah, tapi dibuat sikapnya nggak salehah karena kan biasa dibawa ke kosan atau villa. Itu ngeri menurutku,” ungkap Pengki dengan nada bicara tersendat-sendat.
Pengki melihat, ada kepuasan tersendiri di kalangan teman-temannya. Menceritakan pengalaman sehabis “memacari sekaligus melancarkan busuk” satu sama lain pun menjadi hal biasa.
Selama kuliah di PTN Malang, terbiasa menginapkan pacar
Pacaran sebenarnya bukan hal baru bagi Pengki. Namun, selama kuliah di PTN Malang, Pengki akhirnya menghilangkan rasa riskan untuk menginapkan pacar.
Awalnya pacarannya ya biasa saja: sekadar jalan bareng, makan bareng, mantai bareng, dan lain-lain. Tetapi, mendapati betapa biasanya teman-teman mahasiswa Pengki menginapkan pacar di kosan, Pengki akhirnya pun ikut terseret.
“Apa yang terjadi dari menginapkan lawan jenis di kosan, ya kamu pasti sudah bisa menduga. Apalagi di Malang, banyak kos yang memang benar-benar leluasa, bebas, tanpa pengawasan,” kata Pengki.
“Sebenarnya sama-sama nggak bisa dibenarkan. Tapi setidaknya aku dan pacarku memang punya perasaan satu sama lain, bukan hasil taruhan,” kilahnya.
Jujur, setelah berkali-kali menginapkan pacar di kos dan berbuat tidak semestinya, Pengki masih kerap merasa menyesal. Ia merasa, seharusnya ia tidak berbuat demikian. Bukan untuk kebaikan Pengki sendiri, tapi juga untuk kebaikan pacarnya.
Sering pula ia terbayang wajah orang tuanya di rumah. Ia dibiayai kuliah di PTN Malang untuk menuntut ilmu sebagai mahasiswa. Orang tuanya juga tidak henti-henti memberi wejangan agar Pengki menjaga diri.
Hanya saja, setiap kali nongkrong dan tahu fakta bahwa banyak mahasiswa di Malang melakukan hal serupa, penyesalan itu kemudian menguap begitu saja. Mengesankan kalau hal semacam itu ya biasa saja.
Baca lanjutannya di halaman selanjutnya…
Kumpul kebo hingga jadi solehot, hidup lurus-lurus saja malah dikesankan aneh dan tidak wajar














