Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Kuliah di Malang karena Label Kota Pelajar: Berujung “Tersesat” karena Menormalkan Perilaku Tak Wajar Mahasiswa

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
4 Mei 2026
A A
Kuliah menjadi mahasiswa di PTN PTS Malang bikin merasa tersesat karena fenomena menginapkan pacar di kos hingga kumpul kebo MOJOK.CO

Ilustrasi - Kuliah menjadi mahasiswa di PTN PTS Malang bikin merasa tersesat karena fenomena menginapkan pacar di kos hingga kumpul kebo. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Living together alias kumpul kebo bikin syok saat kuliah di Malang

Serupa dengan Pengki, Awalia yang lulus pada 2023 lalu mengaku merasa tersesat jauh selama kuliah di sebuah PTS di Malang. 

Perempuan asal Lumajang, Jawa Timur, itu merupakan alumni pesantren. Tentu situasi pergaulan di Malang yang seperti itu membuatnya terkaget-kaget. 

“Aku tahu, ada beberapa teman perempuanku yang living together,” ujarnya. “Beberapa di antaranya juga lulusan pesantren.”

Lulusan pesantren pun, dalam kesaksian Awalia, dibagi menjadi dua dalam menjalani living together alias kumpul kebo (lawan jenis tinggal satu atap tanpa ikatan pernikahan). Satu, benar-benar melepaskan segala hukum sosial dan agama, menjadi manusia bebas sebebas-bebasnya, menebus kekangan yang didapat di pesantren dan lingkungan masyarakat di rumah asal. 

Sementara kategori nomor dua, yakni ia yang sekadar tinggal bareng, tapi menjalani kehidupan di kontrakan dengan diwajar-wajarkan. 

“Simulasi rumah tangga, dalihnya itu. Jadi di kontrakan ya salat jemaah bareng, ngaji bareng, tapi belum berstatus suami istri,” beber Awalia. 

Satu tahun terakhir, living together alias kumpul kebo di kalangan mahasiswa Malang memang tengah menjadi sorotan serius. Karena memang bertentangan dengan Peraturan Daerah (Perda). 

Atas banyaknya aduan perihal kos atau rumah sewa yang menjadi tempat praktik kumpul kebo, Satpol PP Kota Malang bahkan menegaskan akan memperketat patroli dan pengawasan di tahun 2026 ini. 

Terlebih, fenomena kumpul kebo dan bebasnya pergaulan di kalangan anak-anak muda di Malang berdampak pada tingginya angka HIV/AIDS. Merujuk data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, sepanjang 2025 tercatat ada 355 orang terdeteksi mengidap HIV/AIDS. 

Di kampus syar’i, di luar berpakaian serba mini

Kekagetan berikutnya selama kuliah di PTS Malang adalah ketika hijab ternyata hanya sebatas atribut. Sementara, dari yang Awalia pelajari di pesantren, hijab adalah tuntutan seorang muslimah untuk menutup aurat. 

“Jujur, aku pernah mencoba melepas hijab, pakaian ketat sedikit, waktu ikut teman-teman nge-camp di pantai. Kata mereka, terutama yang cowok-cowok, aku lebih cantik nggak pakai hijab,” kata Awalia. 

Lebih-lebih, dari obrolan dengan sejumlah teman perempuan, itu adalah bentuk kebebasan dan otoritas diri. Tapi entah kenapa nurani Awalia seperti menolak. 

Apalagi beberapa temannya ada yang benar-benar berani menurut ukuran lulusan pesantren: di kampus berpakaian full syar’i, tapi di tongkrongan berpakaian serba mini. Sampai ada istilah: “Jadi salehah biasa, jadi solehot bisa.”

Hidup lurus-lurus saja dianggap tidak asyik

Fenomena-fenomena tersebut bisa jadi terjadi di banyak kota lain yang memang menjadi jujukan pendatang. Dalam pengalaman Pengki dan Awalia kuliah di Malang, harus tahan-tahanan iman karena terlalu banyak bujuk rayu menyesatkan. 

Iklan

“Intinya, hidup cuma sekali, mending dinikmati. Jangan lurus-lurus amat,” tutur Pengki. Katanya, begitulah bujuk rayu yang ia dapat.

Sementara dari sudut pandang Awalia, selain narasi menebus kebebasan, ia juga mendapati, ketika ada seseorang yang mencoba hidup lurus-lurus saja, justru dianggap tidak asyik dan bahkan aneh. 

Tidak heran jika akhirnya, demi label “asyik”, banyak orang memutuskan untuk mengikuti arus. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Kumpul Kebo Sesama Jenis di Malang-Surabaya: Tak Melulu Soal Seks, Merasa Bahagia meski Lukai Orang Tua atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 4 Mei 2026 oleh

Tags: kuliah di malangkumpul kebokumpul kebo malangliving togethermahasiswa malangMalangpilihan redaksiptn malangpts malang
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Tidak memberi utang saat teman pinjam uang selalu dicap jahat dan dijauhi dari pertemanan MOJOK.CO
Sehari-hari

Pertemanan Memuakkan: Tak Beri Utang Teman Dijauhi dan Dicap Jahat, Berteman Cuma Diperalat Jadi Dana Darurat

8 Mei 2026
Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin MOJK.CO
Esai

Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin

8 Mei 2026
menikah dengan keluarga pasangan yang terlilit utang.MOJOK.CO
Sehari-hari

Menikah dengan Pasangan yang Keluarganya Terlilit Utang Bikin Serba Salah: Terlalu Cinta untuk Ditinggal, tapi Bikin Menderita Kalau Bertahan

8 Mei 2026
pertemanan di usia 30.MOJOK.CO
Sehari-hari

Pertemanan di Usia 30 Memuakkan: Transaksional dan Isinya Cuma Adu Nasib, tapi Paling Mengajarkan Arti Ketulusan

7 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Zero post di Instagram cara hidup tenang Gen Z. MOJOK.CO

Gen Z Lebih Tenang Tanpa Feed Instagram (Zero Post), Aslinya Bukan Misterius Cuma Capek Mengejar Validasi dan Ingin Melindungi Diri

7 Mei 2026
papua.MOJOK.CO

Harga yang Harus Dibayar dari Pembangunan di Papua: Hutan Rimbun Diratakan Alat Berat, Alam dan Masyarakat Adat Terancam

3 Mei 2026
Vakum 6 Tahun, LA INDIE MOVIE Hadir Kembali Cari Talenta Perfilman Indonesia MOJOK.CO

Vakum 6 Tahun, LA INDIE MOVIE Hadir Kembali Cari Talenta Perfilman Indonesia

7 Mei 2026
Merintis Usaha Rumahan Tanpa Utang, Raup Omzet Puluhan Juta MOJOK.CO

Cerita Saya Memulai Usaha Rumahan Kecil-kecilan Tanpa Utang Hingga Raup Omzet Puluhan Juta per Bulan, Kamu Mau Coba?

5 Mei 2026
Tidak memberi utang saat teman pinjam uang selalu dicap jahat dan dijauhi dari pertemanan MOJOK.CO

Pertemanan Memuakkan: Tak Beri Utang Teman Dijauhi dan Dicap Jahat, Berteman Cuma Diperalat Jadi Dana Darurat

8 Mei 2026
SMARAI rilis album "Semai" berisi tentang perjuangan hidup, salah satunya perjuangan guru honorer MOJOK.CO

Potret Himpitan Hidup Guru Honorer dalam Lagu “Optimis” di Album “Semai”, SMARAI Ajak Belajar Menghadapi Kesulitan dan Kegagalan

7 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.