Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Kumpul Kebo Sesama Jenis di Malang-Surabaya: Tak Melulu Soal Seks, Merasa Bahagia meski Lukai Orang Tua

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
7 Januari 2026
A A
Kumpul kebo (kohabitasi) sesama jenis di Malang dan Surabaya. Menemukan kebahagiaan, berharap menikah, tapi takut lukai hati orang tua MOJOK.CO

Ilustrasi - Kumpul kebo (kohabitasi) sesama jenis di Malang dan Surabaya. Menemukan kebahagiaan, berharap menikah, tapi takut lukai hati orang tua. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Diam-diam menjalani kumpul kebo (kohabitasi) sesama jenis, dua orang di Malang dan Surabaya mengaku menemukan kebahagiaan. Meski banyak orang menganggap praktik tersebut menyimpang (secara hukum, agama, mental, dan orientasi seksual). Meski juga mereka harus menjalani hidup dengan amat hati-hati dan penuh kebimbangan.

***

Iklan

Liputan ini tidak bermaksud merendahkan pihak tertentu, mentrigger, atau menginspirasi. Tapi menunjukkan sebuah realitas sosial yang satu sisi dianggap wajar dan satu sisi dianggap menyimpang.

Jika dirunut dari awal, ceritanya panjang sampai akhirnya Dion* (22) dan Calvin* (27), bukan nama asli, menyadari kalau mereka lebih tertarik dengan laki-laki ketimbang perempuan. Sampai akhirnya masing-masing menemukan pasangan sesama jenis, saling mencintai, dan tinggal bersama (menjalani kohabitasi).

Mereka punya beragam siasat agar tidak dicurigai dan hidup damai di tengah lingkungan yang jijik memandang orang-orang seperti mereka. Mereka bahkan punya rencana-rencana ke depan soal menikah dan membangun rumah tangga.

Main aman di luar, brutal di kosan

Meski merasa punya hak asasi, tapi Calvin tak menampik fakta bahwa masih sangat banyak orang yang menganggap penyuka sesama jenis tak normal. Oleh karena itu, ia dan pasangannya memutuskan untuk main aman.

“Aku sebenarnya risih kalau ada orang ngejek kami boti, sepertiku. Padahal kan itu hak kami untuk berekspresi,” ungkap pekerja di perkantoran Surabaya itu, Selasa (6/1/2025) malam. “Tapi kami harus main aman kalau mau hubungan nggak terusik.”

Calvin mencoba tampil sebagaimana umumnya laki-laki jika berada di luar kosan (di kantor atau di manapun). Bahkan, kendati sedang berjalan berdua dengan pasangannya, ia sebisa mungkin bersikap biasa. Dengan begitu, orang-orang melihat keduanya sebagai dua pasang teman.

Namun, situasi akan berubah jika Calvin dan pasangannya sudah berada di dalam kosnya di salah satu sudut Kota Surabaya. Calvin mengaku ia bisa bersikap sangat manja pada pasangan, men-treatmen pasangan selayaknya suami (bukan sekadar pacar). Bahkan, Calvin secara terbuka menyebut kalau mereka bisa melakukan “adegan dewasa” secara brutal.

“Pasanganku juga pekerja kantoran. Kami bertemu di sebuah event. Orang-orang tidak akan curiga walaupun kami kohabitasi. Karena umum saja satu kos ditempati dua laki-laki. Kalau laki-laki dan perempuan, itu baru masalah. Kami ngekos di kos cowok,” beber Calvin.

Kumpul kebo (kohabitasi) sesama jenis dan pesta gay di Surabaya

Calvin dan pasangannya memang sangat berhati-hati. Sebenarnya, pasangan Calvin kerap mengajaknya mengikuti pesta penyuka sesama laki-laki di Surabaya. Tapi Calvin tak mau coba-coba.

“Kalau kata dia, sensasinya bakal beda. Tapi aku nggak mau. Kalau mau ya kuajak saja staycation, cari sensasi baru tapi tetap tanpa risiko,” ujar Calvin.

Calvin merasa pilihannya merahasiakan identitas tersebut tepat. Sebab, kalau sedang apes, pesta semacam itu bisa kena grebek Polisi. Seperti yang terjadi pada Oktober 2025 lalu.

Polrestabes Surabaya menggrebek pesta seks penyuka sesama laki-laki di sebuah hotel di kawasan Ngagel. 34 laki-laki kemudian ditetapkan sebagai tersangka. 29 di antaranya kemudian terindikasi positif HIV.

Iklan

Saat ini, para laki-laki itu tinggal menunggu waktu untuk ditempatkan di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas 1 Surabaya di Medaeng.

“Aku menolak orang-orang seperti kami dianggap menyimpang. Tapi aku nggak mau ribet,” ujar Calvin. Alhasil, ia dan pasangannya memilih “main aman”. Toh tanpa ikut-ikutan pesta, mereka sudah merasa sangat bahagia menjalani hari-hari bersama (kumpul kebo).

Untung bapak kos tak peduli

Tidak ada data resmi. Namun, seolah menjadi rahasia umum bahwa banyak praktik kumpul kebo di Malang. Bukan hanya dengan lawan jenis, tapi juga sesama jenis. Terutama di kalangan mahasiswa. Dion adalah satu yang mengakuinya.

Berbeda dengan Calvin, Dion berani lebih terbuka dengan pasangannya sesama mahasiswa Malang. Mereka kerap healing bareng, nongkrong berdua, bahkan nonton bioskop dan nge-mall berdua. Dion juga tak ragu memamerkan foto berdua dengan pose mesra di akun media sosial.

“Aku terhitung protektif ke pacar. Cemburuan. Jadi daripada dia diajak pergi-pergi laki-laki lain, walaupun cowok lain belum tentu punya orientasi yang sama, tapi lebih baik kami habiskan waktu berdua lebih sering,” ucap Dion, Rabu (7/1/2025) pagi.

Dulu Dion dan pasangannya hanya sebatas menjalin hubungan. Namun, lama-lama, dua mahasiswa Malang itu memilih kohabitasi. Tinggal bersama di salah satu kosan ekslusif di Malang.

“Sebenarnya aku sadar sudah banyak yang tahu soal orientasi kami. Tapi aku memilih cuek, hidup-hidupku sendiri. Di kos pun bapak kos nggak peduli, dia hanya peduli uang, jadi kami merasa aman. Dua laki-laki satu kamar kan wajar, yang mudah diendus itu pasangan lawan jenis,” sambungnya.

Kumpul kebo (kohabitasi) sesama jenis tak melulu soal seks, tapi komitmen saling menghargai

Dion tak menampik, ada saatnya ia dan pasangan akan melakukan adegan dewasa. Itu ketika hasrat mereka sedang sama-sama memuncak.

Namun, Dion menegaskan, kohabitasi (kumpul kebo)—sesama jenis—yang ia jalani tidak melulu mencari keleluasaan untuk beraktivitas seksual. Lebih besar dari itu adalah soal komitmen bersama.

“Kami tahu kami dimarjinalkan di masyarakat. Bahkan keluarga kami sendiri kalau mereka tahu. Jadi saat kami pacaran, kami punya komitmen harus saling menjaga dan menghargai. Karena kami hanya punya satu sama lain, terasing dari dunia,” beber Dion.

Pertengkaran-pertengkaran kecil memang kerap terjadi. Akan tetapi, kata Dion, selalu bisa dituntaskan dengan pelukan saling mengakui kesalahan sekaligus memaafkan. Itu membuat kehidupan kohabitasi yang Dion jalani terasa membahagiakan. Kosnya menjelma sebagai satu-satunya ruang paling aman dan damai di dunia.

Harapan menikah-membina rumah tangga

Dion kerap “tersentil” dengan beberapa orang Indonesia yang bisa menjalani rumah tangga sesama jenis dengan bahagia. Tapi memang harus di luar negeri.

Mahasiswa Malang itu berharap, ke depan ia dan pasangannya bisa benar-benar membangun rumah tangga sendiri. Tidak hanya sebatas kohabitasi—yang sering disebut dengan konotasi negatif “kumpul kebo”.

“Tapi selama di Indonesia, itu nggak mungkin terjadi. Kayaknya harus keluar,” kata Dion.

“Terus bagaimana nanti ngomong ke keluarga?” Tanya saya.

“Jelas keluarga bakal ngamuk. Aku yang bersikap begini (seperti perempuan) saja sudah dianggap aib. Dulu aku bahkan sempat diruqyah biar normal katanya,” jawabnya.

Sampai saat inipun ibu Dion masih sering mengirim pesan-pesan pengingat, agar Dion tak turut larut dalam kelompok penyuka sesama jenis. Tapi Dion bergeming.

Ia merasa, ia lah yang paling memahami tubuh dan keinginannya sendiri. Oleh karenanya, sekalipun kelak tak dianggap keluarga jika menikah sesama jenis, Dion tetap akan melakukannya. Karena ia merasa bahagia dengan jalan yang ia pilih.

Tak sampai hati lukai hati orang tua, tapi tak bisa menyangkal perasaan

Sementara Calvin berbeda. Pekerja Surabaya itu mengaku entah sampai kapan akan tertutup. Bahkan kepada keluarganya sendiri ia kerap berpura-pura “normal”.

Calvin masih tak sampai hati melukai orang tuanya jika tahu apa yang selama ini Calvin jalani di Surabaya. Tapi ia juga tak bisa menyangkal perasaannya: Tak suka perempuan, tapi lebih suka laki-laki.

“Di umurku yang segini, ibuku sering tanya, kapan aku punya calon (istri, perempuan)? Ya sebenarnya kan aku punya calon (pasangan laki-laki), tapi kalau kukenalkan ke beliau pasti beliau pingsan,” ucap Calvin dengan tawa.

Hal serupa juga terjadi pada pasangannya. Meski sama-sama ingin menikah, tapi tak punya cukup nyali untuk membuka fakta sesungguhnya pada orang tua di rumah. Bahkan, pasangan Calvin sempat nyaris dijodohkan dengan perempuan, anak dari teman sang bapak. Tapi pasangan Calvin menolak. Bilang ia akan mencari yang lebih cocok.

“Itu tentu jadi masalah di kami. Kami berdebat di kos. Apakah kami akan saling meninggalkan? Apakah kami perlu pura-pura menikah sama perempuan, tapi tetap bisa menjalin hubungan diam-diam? Tapi itu sama jahatnya,” tutur Calvin.

Akhirnya, mereka memilih tak melanjutkan perbincangan soal pernikahan dan rumah tangga. Entah sampai kapan. Saat ini mereka hanya ingin menikmati masa-masa bersama, meski diam-diam dan penuh siasat, meski praktik semacam itu—di luar sana—disebut dengan nada amat merendahkan: kumpul kebo.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Hari-hari Mahasiswa Malang yang Jalani Kumpul Kebo: Latihan Berumah Tangga, Hidup Layaknya Suami Istri meski Tak Siap Menikah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 7 Januari 2026 oleh

Tags: Gaykohabitasikumpul kebokumpul kebo malangkumpul kebo surabayamahasiswa kumpul kebomahasiswa malangMalangpenyuka sesama jenispesta gaypilihan redaksiSurabaya
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Persaingan bisnis atau usaha di desa kabupaten kejam: cara kotor saling menjatuhkan hingga jebakan pelanggan loyal MOJOK.CO
Sehari-hari

Kejamnya Persaingan Bisnis di Desa Kabupaten: Cara Kotor Saling Menjatuhkan hingga Jebakan Pelanggan Loyal

20 Juni 2026
Orang desa tidak mengenal konsep pensiun dan menua dengan tenang (slow living). Itu hanya konsep orang kota MOJOK.CO
Catatan

Pensiun Ala Orang Desa Tak Seperti Bayangan Orang Kota: Bukan karena Rencana Slow Living tapi Dipaksa Keadaan Getir

19 Juni 2026
siswa sekolah.MOJOK.CO
Sekolahan

Sisi Lain AI yang Melemahkan Nalar Siswa: Kesulitan Calistung, Tak Bisa Membaca Jam, hingga Sulit Mengingat Materi Pelajaran

17 Juni 2026
Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung MOJOK.CO
Esai

Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung

17 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kirab pusaka malam 1 Suro di kawasan Pura Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah, tidak hanya upaya menjaga warisan budaya-tradisi turun-temurun. Tapi juga jadi penggerak ekonomi daerah MOJOK.CO

Nilai Lain Kirab Malam 1 Suro di Surakarta: Jadi Daya Tarik Lintas Zaman, Penggerak Pariwisata dan Ekonomi Daerah Jateng

17 Juni 2026
Tips Membuat Utang Tidak Lagi Menjadi Beban Kehidupan MOJOK.CO

Nggak Semua Utang Itu Buruk: Cara Mendeteksi Utang yang Baik dan Tidak Menjadi Beban

15 Juni 2026
Menunggu Jogja Punya Sirkuit Balap Motor Permanen MOJOK.CO

Lahirkan Pembalap Kelas Dunia, Tapi Jogja Tak Punya Sirkuit Balap Permanen

15 Juni 2026
Wisata Plunyon Kalikuning Yogyakarta. MOJOK.CO

Ekspektasi Menikmati “Lantai Dua Jogja” di Plunyon Kalikuning Rusak karena Ulah Jamet dan Beberapa Spot yang Tak Terawat

15 Juni 2026
Mas Uceng sebagai narasumber Festival Melawan-Melawan. Ia menyampaikan perlawanan masyarakat sipil perlahan telah terbunuh oleh rezim.

Zainal Arifin Mochtar: Perlawanan Masyarakat Sipil Perlahan Telah Dibunuh

18 Juni 2026
Jika kantin sekolah dilibatkan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), maka bisa meningkatkan efektivitas dan memberi dampak ekonomi nyata. MOJOK.CO

Jika Kantin Sekolah Dilibatkan MBG: Bisakah Tekan Anggaran dan Apa Dampaknya bagi Ekonomi Warga?

17 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.