Bayangkan kamu sebenarnya tidak akrab dengan seseorang. Tidak terlibat intens pula dalam pertemanan yang ia bentuk. Namun, setiap kali ada butuhnya, ia pasti akan datang kepadamu. Betapa sangat menyebalkan model pertemanan toxic semacam itu.
Tiga hari terakhir saya berbincang dengan tiga orang yang mengakui hal tersebut. Satu laki-laki pekerja swasta asal Jawa Tengah, dua lainnya dari Jogja.
Dalam waktu berbeda, ketiganya mengaku telah memutuskan keluar dari sebuah pertemanan yang sebenarnya tidak akrab-akrab amat, tapi justru menjadi yang paling merepotkan.
Perasaan tidak enakan menjadi bumerang: dimanfaatkan teman dalam pertemanan toxic
Mereka menyadari, di luar sana sebenarnya banyak orang yang merasa serupa: terjebak dalam lingkaran pertemanan yang menyebalkan nan memuakkan tersebut.
Hanya saja, kecenderungan jadi orang tidak enakan membuat banyak orang di luar sana akhirnya tidak bisa lepas dari lingkaran pertemanan masing-masing. Kendati sebenarnya sudah merasa sangat muak.
Dalam kasus tiga responden Mojok, teman yang tidak akrab tersebut paling sering datang kalau butuh satu hal: pinjaman uang. Di luar itu, tiga responden Mojok mengaku diperlakukan seperti orang yang tidak dikenal.
Selama ini, mereka tidak pernah tidak memberi utang. Mereka menyebut diri masing-masing terlalu naif.
Mereka didorong oleh rasa tidak enakan. Sebab, meski tidak akrab-akrab amat, tapi sebenarnya saling mengenal. Sehingga tidak enak jika tidak meminjami.
Selain itu, dengan memberi pinjaman uang, mereka mengira akan membuat pertemanan semakin dekat. Tapi kenyataannya justru masih terkesan tidak dianggap. Pokoknya baru seolah-olah akrab kalau ada butuhnya saja.
Dari situ lah, mereka mengidentifikasi kalau pertemanan mereka toxic. Tidak patut diteruskan. Lantas bagaimana cara mereka memutuskan keluar dari lingkaran teman yang hanya datang saat ada butuhnya saja itu?
Penolakan halus tiap kali teman dalam pertemanan toxic datang untuk utang
Bagi tiga responden Mojok, cara keluar dari pertemanan toxic yang isinya teman tidak akrab tapi menjadi sok akrab kalau soal utang sebenarnya cukup melalui dua cara.
Pertama, bisa dimulai dari penolakan halus. Penolakan menjadi hal penting jika kondisi ekonomi kita sendiri saja belum stabil. Saran tiga responden Mojok, bercermin lah. Jika kita sendiri saja masih ngos-ngosan mengatur keuangan untuk diri sendiri, kenapa kita harus rela meloloskan uang hanya demi dianggap teman?
Penolakan halus bisa berupa ungkapan jujur perihal kondisi keuangan kita sendiri. Namun, sering kali penolakan tersebut tidak mempan. Si teman toxic yang hanya akrab waktu butuh utang pasti akan datang/menghubungi lagi di lain hari.
Jika sudah begitu, pilihannya adalah antara mengabaikan (tidak merespons pesannya sama sekali) atau langsung menolak secara blak-blakan: sembari mengutarakan kemuakan karena seperti dimanfaatkan saat ada butuhnya saja.
Namun, mau penolakan halus maupun terbuka, tidak memberi pinjaman uang tersebut pada akhirnya tetap berakhir sama: kita dinarasikan sebagai orang pelit dan tidak layak dijadikan teman.
Tekan fitur titik tiga di pojok kanan WA
Jika sudah kepalang muak, apalagi sudah kepalang dianggap tidak layak dijadikan teman, tiga responden Mojok menyarankan untuk memanfaatkan fitur titik tiga di pojok kanan atas aplikasi WA.
Maksudnya, biar tidak diganggu-ganggu/direpotkan lagi saat teman toxic ada butuhnya, maka:
- Klik kontak WA atas nama si teman toxic.
- Pilih menu “Lainnya”.
- Kemudian klik pilihan “Blokir”.
Ya. Pada akhirnya memblokir kontak teman toxic menjadi pilihan paling melegakan. Putus hubungan pertemanan sekalian, toh sebelumnya juga tidak terlalu akrab.
Bagi tiga responden Mojok, untuk apa berteman/berhubungan dengan orang yang baru menganggap kita temannya kalau kita masih bisa diperah? Mending tidak usah.
Keluar dari pertemanan toxic tidak ada ruginya, jangan merasa kehilangan teman
Tiga responden Mojok menyadari, banyak orang di luar sana—khususnya di lingkaran mereka—tidak bisa serta merta mempraktikkan dua langkan tersebut karena tertahan perasaan takut: teman berkurang.
Pada mulanya tiga responden Mojok mengaku juga tertahan oleh perasaan itu. Namun, setelah direnungkan, memisahkan diri dari pertemanan toxic sejatinya tidak ada ruginya.
Risikonya mentok hanya kehilangan teman lama. Tapi justru karena itu lah lebih banyak untungnya: lepas dari teman yang hanya memanfaatkan, lepas dari perasaan tidak enak hingga terpaksa memberi utang saat teman datang pinjam uang, dan hanya dikelilingi teman-teman baik yang tidak berorientasi pada menjadikan teman sendiri sebagai dana darurat.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Menikah dengan Pasangan yang Keluarganya Terlilit Utang Bikin Serba Salah: Terlalu Cinta untuk Ditinggal, tapi Bikin Menderita Kalau Bertahan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














