Skripsi bukan menjadi satu-satunya jalan bagi mahasiswa Universitas Terbuka (UT) untuk lulus dan menyandang gelar sarjana. Mahasiswa mendapat kebebasan untuk menentukan “hasil akhir” masing-masing.
***
Skripsi memang menjadi momok tersendiri bagi mahasiswa tingkat akhir. Setiap berbincang dengan mahasiswa tingkat akhir, saya selalu menemukan pola keresahan yang nyaris sama: rumitnya metodologi, proses bimbingan yang tersendat, revisi yang seolah tanpa akhir, dan sederet drama-drama lain yang membuat mahasiswa merasa burnout.
Saya pun menjumpai kasus: banyak mahasiswa tingkat akhir di sekitar saya yang nyaris DO karena molor hingga menjelang semester 14, sementara skripsinya tidak kunjung selesai karena beragam drama yang harus mereka hadapi. Tapi mau bagaimana lagi, di sejumlah kampus, skripsi masih menjadi satu-satunya jalan yang harus ditempuh jika ingin lulus kuliah dan menyandang gelar sarjana.
Universitas Terbuka (UT) punya beragam model tugas akhir, skripsi bukan satu-satunya
Tapi beruntunglah mereka yang kuliah di Universitas Terbuka. Sebab di UT ada fakultas yang menyediakan pilihan “syarat kelulusan” lain selain skripsi. Salah satunya Fakultas Sains dan Teknologi (FST).
Karena memang, jika mengacu Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbud Ristek) No 53 Tahun 2023 tentang Penjamin Mutu Pendidikan Tinggi, mahasiswa S1 dan D4 tidak diwajibkan untuk membuat skripsi sebagai tugas akhir.
Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Sitta Alief Farihati, menjelaskan bahwa di FST ada tiga model tugas akhir non-skripsi yang bisa dipilih mahasiswa sesuai program studi dan minat masing-masing.
“Kalau di UT, khususnya FST, ada tiga model non-skripsi yang bisa dipilih. Ada penulisan artikel ilmiah, Capstone Project, dan Uji Komprehensif Tertulis (UKT). Sehingga mahasiswa bisa memilih sesuai prodi dan minatnya,” ujar Sitta dalam wawancara daring dengan Mojok, Senin (31/08/2026).
“FST mempunyai 8 prodi, semua prodi tidak menawarkan skripsi,” jelas Dr. Sitta,” sambungnya.
Tidak membebani mahasiswa, proses bimbingan tidak pakai drama
Sitta menegaskan, konsep tugas akhir non-skripsi ini tidak hanya semata-mata “manut” Peraturan Kementerian, tapi merupakan langkah Universitas Terbuka untuk memberikan alternatif lain kepada mahasiswa, sehingga, mahasiswa tidak merasa terbebani. Karena selama ini skripsi dianggap sebagai beban akhir yang memberatkan.
Lantas, apa bedanya tugas akhir skripsi dan non-skripsi di UT? Begini penjelasan Sitta:
Jika mahasiswa memilih jalur artikel ilmiah (Aril), maka mahasiswa diminta untuk menulis artikel dari hasil kajian atau penelitian ringkas untuk dipublikasikan.
Jika mahasiswa memilih Capstone Project, maka mahasiswa akan diminta membuat suatu proyek karya atau inovasi yang nantinya akan dipresentasikan dan menjadi portofolio kerjanya. Lalu untuk Uji Komprehensif Tertulis (UKT) mahasiswa akan menjalani ujian akhir berbasis tes tertulis untuk menguji pemahaman komprehensif mahasiswa terhadap bidang studinya.
“Meski modelnya berbeda, tapi secara keseluruhan model bimbingannya sama saja dengan skripsi. Pertemuan antara mahasiswa dengan dosen menjadi kegiatan yang wajib, baik secara sinkronus maupun Asinkronus,” terangnya.
Dua pilihan proses bimbingan itu tidak lain untuk mempermudah mahasiswa: model bimbingan seperti apa yang lebih nyaman dan efektif bagi masing-masing.
Mahasiswa juga tidak perlu khawatir proses bimbingan tersendat karena dosen pembimbing tiba-tiba berhalangan atau ngilang-ngilangan. Sebab di FST UT, setelah terjadwal bimbingan, maka dosen pembimbing dipastikan telah menyediakan waktu untuk mahasiswa bimbingannya. Dengan begitu tidak ada drama lulus molor karena proses bimbingan berantakan.
Bisa jadi portofolio ke dunia kerja
Meski di FST UT sudah menggunakan tugas akhir non-skripsi sebagai syarat kelulusan, tapi tetap ada fakultas yang menyediakan skripsi sebagai tugas akhir. Tujuannya agar kebutuhan mahasiswa yang masih nyaman menggunakan model skripsi masih bisa terpenuhi. Salah satunya adalah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).
“Kalau di FKIP, kami masih menawarkan skripsi sebagai model tugas akhir. Karena di FKIP itu kan bidang umumnya adalah keguruan dan ilmu pendidikan, jadi model skripsi ini masih banyak diminati dan sesuai dengan nanti kalau mereka lulus dari UT menjadi tenaga pendidik,” ujar Mukti Amini selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Layanan, dan Kerja Sama FKIP Universitas Terbuka.
Pasalnya, menurut Mukti, mahasiswa FKIP akan dicetak sebagai tenaga pendidik, sehingga tugas akhir berbentuk skripsi masih sangat relevan. Akan tetapi, ada satu prodi di FKIP yang memang menawarkan model tugas akhir non-skripsi, yakni program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).
“Fakultas ini memilih model Uji Komprehensif Tertulis (UKT). Model itu dirasa cocok untuk mahasiswa karena sesuai dengan bidang dan materi yang dipelajari mahasiswa selama kuliah di UT,” jelas Mukti.
Lebih lanjut, menurut Mukti, langkah UT dalam memberikan pilihan model tugas akhir non-skripsi kepada mahasiswa adalah cara bijak dalam mencetak lulusan yang lebih matang. Skripsi tentu masih relevan di bidang tertentu, akan tetapi model non-skripsi dinilai efisien dan relevan dengan kebutuhan dan minat mahasiswa.
Persoalannya memang bukan tentang mana yang lebih baik antara skripsi atau non-skripsi. Sebab, setiap mahasiswa memiliki kemampuan, kebutuhan, dan rencana karier yang berbeda-beda. Ada yang memang cocok dengan penelitian akademik, tetapi ada pula yang lebih mampu menunjukkan kompetensinya melalui karya, proyek, artikel ilmiah, atau ujian komprehensif.
Karena itu, kata Mukti, memberikan pilihan bentuk tugas akhir barangkali merupakan cara yang lebih relevan untuk melihat kemampuan mahasiswa. Skripsi tetap bisa dipertahankan untuk bidang yang memang membutuhkannya, sementara tugas akhir non-skripsi dapat menjadi alternatif bagi mahasiswa yang membutuhkan bentuk pembuktian kompetensi yang lebih aplikatif.
Apalagi jika hasil tugas akhir tersebut bisa dibawa ke dunia kerja sebagai portofolio. Bukankah akan lebih menyenangkan jika tugas akhir yang selama ini dianggap sebagai “beban terakhir sebelum lulus” justru bisa menjadi sesuatu yang berguna setelah wisuda?
Maka dari itu, menurut Mukti, apa yang dilakukan Universitas Terbuka seharusnya bisa menjadi percontohan oleh kampus lain yang belum memperluas model syarat kelulusan. Sebab, tujuan kuliah mestinya bukan sekadar membuat mahasiswa berhasil melewati skripsi. Lebih penting dari itu, mahasiswa benar-benar lulus dengan membawa kemampuan yang bisa dipakai setelah gelar sarjana berhasil diraih.
PTN pionir Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) tersebut memang tidak mau sekadar formalitas meluluskan mahasiswa. Setiap lulusan UT benar-benar disiapkan secara matang untuk menjadi individu yang selalu upgrade. Penyelarasan model tugas akhir dengan kebutuhan minat mahasiswa bahkan disiapkan tidak hanya sebagai syarat kelulusan belaka, tetapi menunjukkan kompetensi si mahasiswa yang bisa disodorkan ke penerima kerja kelak.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Kuliah di Universitas Terbuka (UT), Meski Diremehkan tapi bikin Gen Z Bersyukur karena Beri Jawaban Konkret untuk Kebutuhan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan