Bagi Sasa (26), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) bukan kampus yang sejak awal ingin ia masuki. Ia justru mengincar Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Namun, keinginan itu kandas karena orang tuanya tidak merestui pilihan tersebut. Ia akhirnya masuk Pendidikan Seni Rupa UNY, menjalani empat tahun kuliah dengan penyesalan, lalu menemukan alasan untuk bersyukur setelah lulus.
***
Menjadi mahasiswa UNY mungkin adalah berkah dan kebanggan tersendiri. Namun bagi Sasa, pilihan tersebut adalah pilihan ‘terpaksa’ yang harus ia jalani selama empat tahun lamanya. Ia merasa bahwa kampus UNY Karangmalang tersebut membuatnya terkekang.
Ironisnya, kampus yang ia anggap membatasi perkembangan seninya justru memberinya keleluasaan menentukan masa depan. Kini, Sasa mengajar les lukis anak-anak, bekerja sebagai ilustrator, dan membatik. Ia tidak harus memilih satu identitas profesional untuk tetap bekerja di bidang yang dicintainya.
Masuk UNY karena gagal mendapat restu kuliah di ISI Yogyakarta
Sasa tidak pernah benar-benar menginginkan UNY sebagai tujuan utama. Sejak awal, ia ingin mendalami seni rupa di ISI Yogyakarta. Namun, orang tuanya tidak merestui pilihan tersebut. Akhirnya, ia masuk Pendidikan Seni Rupa UNY.
Keputusan itu menjadi sumber penyesalan yang ia bawa sejak awal perkuliahan. Menurut Sasa, minat dan kemampuan yang ingin ia kembangkan lebih dekat dengan orientasi pendidikan seni di ISI Yogyakarta daripada dengan perkuliahan yang ia jalani di UNY.
“Sebenarnya sangat sayang sekali masuk jurusan Seni Rupa di UNY, karena ilmunya sangat sedikit, eksplorasi seni rupa yang sangat terbatas membuat skill saya ‘stuck’ di situ-situ saja,” keluh Sasa melalui pesan WhatsApp, Senin (5/10/2026).
Penilaian itu muncul dari pengalaman pribadinya selama kuliah. Ia merasa perkuliahan belum memberinya ruang yang cukup untuk mendalami bidang seni rupa yang paling ingin ia tekuni.
Belajar banyak hal, tetapi merasa tidak mendalami apa-Apa
Bagi Sasa, persoalan kuliah di UNY bukan semata-mata soal jumlah mata kuliah. Ia merasa cakupan materi yang luas membuatnya sulit memusatkan perhatian pada kemampuan artistik tertentu.
“Semua ilmu dipelajari, semua bahan digunakan, semua bidang digarap. Sehingga saya merasa tidak bisa fokus ke bidang dan kemampuan yang saya tekuni. Di satu sisi memang baik karena membuat saya eksplor, namun di sisi yang lain saya merasa ‘penuh’ namun merasa mengambang gitu,” ujarnya.
Pengalaman Sasa menarik jika dibandingkan dengan kurikulum Pendidikan Seni Rupa UNY. Dalam dokumen kurikulum Merdeka Belajar yang terbit pada 2020, mahasiswa mempelajari sejumlah bidang, mulai dari sejarah seni rupa, estetika, kritik seni, seni grafis, seni patung, hingga seni lukis. Kurikulum itu juga memuat mata kuliah pendidikan seperti strategi pembelajaran dan penilaian hasil belajar seni rupa. (Sumber: dokumen kurikulum resmi Pendidikan Seni Rupa UNY).
Keluasan tersebut menunjukkan bahwa program studi ini memang tidak hanya berfokus pada praktik berkarya. Namun, keluasan kurikulum tidak otomatis berarti mahasiswa gagal mendalami seni. Pengalaman Sasa memperlihatkan bahwa cakupan pendidikan yang luas bisa terasa kurang sesuai bagi mahasiswa yang menginginkan spesialisasi artistik lebih mendalam.
UNY menyiapkan pengajar, bukan seniman produktif?
Setelah empat tahun kuliah, Sasa lulus dengan gelar Sarjana Pendidikan. Namun, kelulusan tidak langsung menghapus penyesalannya. Ia merasa gelar yang diperoleh tidak sepenuhnya menjawab cita-citanya untuk menjadi seniman.
“UNY itu tidak mengharapkan saya menjadi seniman, UNY mengharapkan saya menjadi seorang pengajar, dengan materi kuliah dan praktik selama masa studi, isinya adalah bagaimana menjadi pengajar seni rupa yang kompeten, bukan seniman yang produktif,” katanya.
Secara resmi, profil lulusan Pendidikan Seni Rupa UNY sebenarnya tidak hanya mencakup pendidik. Program studi ini juga mencantumkan praktisi seni rupa, pengkaji seni rupa, serta pengelola kegiatan dan fasilitas seni sebagai profil lulusannya. Artinya, kampus tetap membuka jalur profesi di luar pengajaran.
Meski begitu, Sasa merasakan perbedaan antara tujuan yang ia bawa saat masuk kuliah dan pengalaman belajar yang ia jalani. Ia menginginkan ruang untuk berkembang sebagai seniman, sedangkan pengalaman perkuliahannya justru lebih menonjolkan kompetensi pendidikan.
Label pendidikan yang justru membebaskan
Ada satu hal yang belakangan mengubah cara Sasa memandang masa kuliahnya. Ia menyadari bahwa label pendidikan pada jurusannya justru mengurangi tekanan untuk membuktikan diri sebagai seniman.
“Seni rupa UNY memang saya sesali, namun karena label ‘pendidikan’ di jurusan ini, saya merasa terselamatkan. Dengan label itu, saya tidak perlu menasbihkan diri sebagai seniman karena memang saya belajar di kampus pendidikan,” ujarnya.
Bagi Sasa, identitas sebagai lulusan kampus pendidikan memberinya ruang untuk mencoba berbagai pekerjaan tanpa merasa harus memenuhi ekspektasi tertentu tentang kehidupan seorang seniman.
“Kalau lulus dari pendidikan seni rupa UNY, saya malah lebih leluasa, mau jadi seniman bisa, mau ngajar bisa. Sekarang saja saya mengajar les lukis anak-anak dan menjadi ilustrator, bahkan membatik juga, jadi lebih fleksibel,” ungkapnya.
Ia tidak lagi harus mengukur keberhasilan dirinya hanya melalui produktivitas berkarya atau pengakuan sebagai seniman. Mengajar, membuat ilustrasi, dan membatik tetap memberinya jalan untuk bekerja dengan keterampilan seni rupa.
Menyesali UNY, tetapi tidak menyesali semua yang didapat
Pengalaman Sasa memperlihatkan bahwa pilihan jurusan tidak selalu berjalan sesuai cita-cita awal. Empat tahun kuliah di UNY meninggalkan kekecewaan karena ia merasa tidak cukup leluasa mengembangkan kemampuan artistiknya. Namun, pengalaman yang sama juga memberinya bekal untuk menjalani beberapa profesi sekaligus.
Sasa tidak tiba-tiba menganggap semua kekurangannya selama kuliah sebagai sesuatu yang baik. Ia tetap menilai pengalaman tersebut berdasarkan kebutuhan dan harapan yang ia bawa ketika memilih jurusan.
Namun, ia juga tidak lagi melihat gelar Sarjana Pendidikan sebagai penghalang untuk bekerja di bidang seni rupa. Justru dari label itulah ia menemukan kelonggaran untuk menentukan jalan sendiri.
Pada akhirnya, UNY menjadi kampus yang ia sesali sekaligus tempat yang membantunya berdamai dengan ekspektasi tentang masa depan. Ia memang tidak menjalani perjalanan kuliah yang dulu ia impikan, tetapi ia tetap bisa bekerja dengan seni rupa tanpa harus memenuhi satu definisi tentang apa artinya menjadi seniman.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Hidup Sebagai Alumni UNY Itu Berat, Menjadi Guru ataupun Bukan Tetap Sama Suramnya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.