Menyesal tidak bergabung dengan organisasi mahasiswa di kampus. Berujung menjadi sarjana zonk karena sulit mencari pekerjaan.
***
Ada mahasiswa yang sibuk mengejar nilai dan menyelesaikan kuliah secepat mungkin. Namun, setelah menyandang gelar sarjana, mereka justru menyadari bahwa ijazah saja tidak selalu cukup untuk meyakinkan perusahaan agar menerima mereka bekerja.
Pengalaman itu dirasakan Putri (24), bukan nama sebenarnya, lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Ia mengaku menyesal tidak pernah mengikuti organisasi mahasiswa selama kuliah. Keputusan yang dahulu terasa biasa saja itu kini menjadi salah satu hal yang ia pikirkan setiap kali menjalani wawancara kerja.
Menjadi mahasiswa kupu-kupu dan fokus menyelesaikan kuliah
Sejak awal perkuliahan hingga lulus, Putri menjalani kehidupan sebagai mahasiswa kupu-kupu alias kuliah-pulang. Ia datang ke kampus untuk mengikuti perkuliahan, menyelesaikan tugas, lalu pulang. Begitu seterusnya sampai akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana.
Putri tidak memiliki pengalaman mengikuti organisasi mahasiswa, baik di tingkat program studi, fakultas, maupun universitas. Ia juga tidak mempunyai pengalaman kepengurusan yang bisa ia ceritakan ketika perusahaan menanyakan aktivitasnya selama menjadi mahasiswa.
Saat masih kuliah, Putri tidak terlalu memikirkan keputusan tersebut. Baginya, menyelesaikan kewajiban akademik hingga memperoleh gelar sarjana sudah menjadi pencapaian yang cukup penting. Ia berhasil lulus tepat waktu tanpa harus menghabiskan terlalu banyak energi untuk aktivitas di luar perkuliahan.
Namun, pandangannya mulai berubah setelah memasuki dunia kerja. Putri baru menyadari bahwa kehidupan setelah wisuda tidak hanya menuntut seseorang memiliki ijazah dan kemampuan akademik. Perusahaan juga ingin mengetahui pengalaman serta kemampuan kandidat dalam menghadapi situasi di luar ruang kelas.
Pertanyaan tentang organisasi mahasiswa yang membuat mati kutu
Setelah lulus, Putri mulai mengirimkan lamaran ke sejumlah perusahaan. Ia mencoba berbagai lowongan pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Pada awalnya, ia cukup percaya diri menghadapi proses wawancara.
Putri merasa mampu menjawab pertanyaan HRD mengenai pendidikan, kemampuan, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan dirinya. Namun, kepercayaan diri itu mendadak berkurang ketika pewawancara mulai menanyakan pengalaman organisasi.
“Kalau interview, hampir semua pertanyaan semua saya jawab mantap, kak. Namun, ketika pertanyaan soal pengalaman organisasi, saya tidak bisa menjawab karena ya memang tidak punya pengalaman organisasi apa pun,” jelas Putri.
Pertanyaan tersebut membuatnya kesulitan menjelaskan pengalaman selama kuliah. Ia tidak bisa menceritakan bagaimana dirinya mengatur kegiatan bersama orang lain, menghadapi perbedaan pendapat dalam sebuah kepanitiaan, atau mengemban tanggung jawab tertentu di organisasi.
Bukan berarti Putri tidak mempunyai kemampuan tersebut. Hanya saja, ia merasa tidak memiliki pengalaman konkret dari organisasi mahasiswa yang bisa ia gunakan sebagai contoh ketika HRD meminta penjelasan.
Situasi itu terus membekas setiap kali ia mengikuti wawancara kerja. Apalagi, beberapa proses seleksi yang ia jalani berakhir tanpa tindak lanjut dari perusahaan.
Pengalaman organisasi mahasiswa memang punya nilai tambah di dunia kerja
Penyesalan Putri sebenarnya memiliki konteks yang cukup masuk akal. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pengalaman organisasi mahasiswa berkaitan dengan kesiapan seseorang memasuki dunia kerja.
Penelitian Tri Ratnawati dan Sutirman yang terbit dalam jurnal Efisiensi: Kajian Ilmu Administrasi UNY pada 2025, misalnya, melibatkan 256 mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNY angkatan 2020. Penelitian tersebut menemukan bahwa keaktifan berorganisasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan kerja mahasiswa.
Penelitian itu juga menemukan pengaruh positif dari pengalaman praktik kerja lapangan. Artinya, organisasi dan pengalaman praktik sama-sama dapat membantu mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi dunia profesional.
Temuan lain muncul dalam penelitian Syahri Rahmatika dan Eka Dian Aprilia yang terbit di Seurune: Jurnal Psikologi Unsyiah pada 2019. Mereka membandingkan employability atau kemampuan seseorang untuk mendapatkan dan mempertahankan pekerjaan pada 332 mahasiswa tingkat akhir Universitas Syiah Kuala.
Penelitian tersebut membagi responden menjadi dua kelompok, yakni 166 mahasiswa yang memiliki pengalaman organisasi dan 166 mahasiswa yang tidak memiliki pengalaman organisasi. Hasilnya menunjukkan perbedaan employability yang signifikan. Mahasiswa dengan pengalaman organisasi memiliki tingkat employability lebih tinggi dibandingkan kelompok yang tidak memiliki pengalaman tersebut.
Temuan-temuan itu membantu menjelaskan mengapa HRD kerap menggali pengalaman organisasi ketika mewawancarai fresh graduate. Aktivitas organisasi dapat memberikan gambaran tentang kemampuan komunikasi, kerja sama tim, kepemimpinan, pengelolaan waktu, hingga penyelesaian masalah.
Meski begitu, pengalaman organisasi bukan satu-satunya ukuran kelayakan seseorang untuk bekerja. Penelitian juga tidak membuktikan bahwa setiap mahasiswa yang tidak mengikuti organisasi pasti kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Lulus tepat waktu tetapi merasa menjadi sarjana zonk
Bagi Putri, persoalan tersebut terasa lebih personal karena ia sudah berhasil menyelesaikan pendidikan sesuai target. Ia memiliki gelar sarjana, tetapi pencapaian itu belum membuatnya mudah mendapatkan pekerjaan.
Setiap kali mengingat kembali masa kuliah, ia mulai mempertanyakan keputusannya untuk tidak mencoba berbagai kegiatan kemahasiswaan. Ia merasa seharusnya bisa memanfaatkan waktu selama menjadi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman di luar kegiatan akademik.
Putri juga mulai melihat pengalaman organisasi sebagai sesuatu yang mungkin dapat membantunya menjawab pertanyaan HRD dengan lebih meyakinkan. Setidaknya, ia memiliki cerita konkret mengenai tanggung jawab, kerja tim, dan kegiatan yang pernah ia jalankan.
“Saya malah merasa saya menjadi sarjana zonk, kak, bisa lulus tepat waktu tapi sulit mendapat pekerjaan karena minim pengalaman organisasi,” tutup Putri.
Istilah sarjana zonk itu menggambarkan kekecewaan Putri terhadap dirinya sendiri. Ia tidak sedang mengatakan bahwa gelar sarjananya tidak berguna, tetapi merasa pencapaian akademiknya belum cukup untuk membawanya menuju pekerjaan yang ia inginkan.
Penyesalan yang baru terasa setelah wisuda
Kisah Putri memperlihatkan bagaimana seseorang bisa memiliki penilaian berbeda terhadap masa kuliahnya setelah memasuki dunia kerja. Aktivitas yang dahulu dianggap tidak terlalu penting justru mulai terasa berharga ketika perusahaan meminta bukti pengalaman di luar akademik.
Namun, pengalaman Putri juga perlu dibaca secara proporsional. Tidak mengikuti organisasi mahasiswa bukan berarti seseorang otomatis kehilangan kesempatan kerja. Pengalaman magang, pekerjaan paruh waktu, proyek mandiri, kegiatan sukarela, hingga portofolio juga dapat menjadi bahan untuk menunjukkan kemampuan kepada perusahaan.
Bahkan, laporan ANTARA mengenai penyelenggaraan job fair di Makassar pada 2025 memuat penjelasan HRD PT Vale bahwa pengalaman organisasi bukan syarat utama rekrutmen. Perusahaan lebih memperhatikan kompetensi yang relevan, sementara keterampilan komunikasi, koordinasi, dan kepemimpinan menjadi nilai tambah.
Sayangnya, Putri telanjur menghubungkan kesulitan mencari pekerjaan dengan satu keputusan yang ia ambil selama kuliah. Ia merasa kehilangan kesempatan untuk membangun pengalaman yang kini sering muncul dalam pertanyaan wawancara.
Pada akhirnya, lulus tepat waktu memang menjadi pencapaian akademik yang membanggakan. Namun, bagi Putri, ada satu hal yang baru ia pahami setelah mengenakan toga: kehidupan mahasiswa ternyata tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Ada pengalaman lain yang mungkin baru terasa manfaatnya ketika seseorang mulai mencari tempat di dunia kerja.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan