ADVERTISEMENT

Bantu Pulihkan Ekonomi Korban Perang di Sudan, Yusra Dapat Beasiswa untuk Lanjutkan S3 di Unesa

Lulusan pertama mahasiswa asing di Unesa. MOJOK.CO

Perang yang berkecamuk di Sudan tak mengurungkan niat Yusra Ali Idris untuk menempuh pendidikan tinggi di Indonesia. Dengan harapan membantu warga di negaranya untuk bangkit dari konflik, ia berhasil meraih gelar magister di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

***

ADVERTISEMENT

Yusra Ali Idris menjadi satu dari sembilan mahasiswa asing pertama yang lulus di Unesa pada Selasa (27/10/2026). Perempuan asal Sudan itu dikukuhkan bersama 1.511 orang lainnya dalam Wisuda Periode ke-123 di Graha Unesa, Kampus Lidah Wetan, Surabaya.

Keinginan Yusra untuk kembali menempuh pendidikan di Unesa pada jenjang doktoral mendapat respons langsung dari Rektor Unesa, Nurhasan atau yang akrab dipanggil Cak Hasan.

Cak Hasan berujar bakal memberikan Yusra beasiswa penuh untuk studi S3 di Unesa. Apresiasi tersebut membuka kesempatan bagi Yusra untuk melanjutkan pengembangan keilmuannya sekaligus memperluas penelitian yang berorientasi pada pemulihan ekonomi masyarakat terdampak perang.

Menurut Yusra, tantangan berikutnya ialah menerjemahkan hasil penelitian menjadi pendekatan yang dapat diuji dan diterapkan untuk membantu masyarakat membangun kembali penghidupan mereka setelah konflik.

Inovasi riset untuk korban konflik Sudan

Yusra tak menampik ada banyak kesulitan yang harus dia hadapi saat menempuh kuliah S2 di Unesa. Salah satunya soal dinamika bahasa dan perbedaan lingkungan akademik. 

Namun, Yusra mengaku terbantu oleh pendampingan dosen, pimpinan fakultas, serta Unesa Global Engagement (UGE). Dukungan tersebut membantunya dalam proses pembelajaran, termasuk kesempatan menggunakan bahasa Inggris saat ujian.

Selama kuliah, Yusra pun berhasil mengembangkan model strategi bertahan hidup yang memadukan kecerdasan buatan (AI), personal branding, dan kewirausahaan untuk membantu korban konflik.

Fokusnya tertuju pada masyarakat Sudan yang kehilangan sumber penghidupan akibat konflik. Dengan begitu, masyarakat Sudan dapat memulai kembali aktivitas ekonominya di tengah kondisi yang terbatas, termasuk ketika mereka kehilangan modal usaha dan aset produktif.

ADVERTISEMENT

“Manajemen yang saya kembangkan merujuk pada model strategi bertahan hidup bagi warga Sudan yang kehilangan seluruh modal dan harta benda akibat konflik, dengan mengintegrasikan pemanfaatan kecerdasan buatan, personal branding, serta strategi kewirausahaan praktis,” ucapnya dikutip dari laman resmi Unesa, Kamis (29/10/2026).

“Model riset ini dirancang khusus sebagai panduan aplikatif agar para korban perang di Sudan dapat membangun kembali kemandirian ekonomi dari titik nol tanpa harus bergantung pada bantuan luar,” lanjutnya.

Gagasan tersebut menempatkan penelitian manajemen milik Yusra, sebagai salah satu pendekatan untuk merespons persoalan kemanusiaan. Pemanfaatan AI dan penguatan identitas usaha diharapkan dapat membantu masyarakat mengembangkan peluang ekonomi.

Sedangkan strategi kewirausahaan menjadi landasan untuk membangun kembali usaha secara bertahap. Penerapan model tersebut tetap memerlukan penyesuaian dengan kondisi sosial, akses teknologi, dan kebutuhan masyarakat terdampak konflik. 

Empat pilar pegangan lulusan Unesa di kancah global

Melalui dukungan dari orang-orang sekitar serta tesisnya, Yusra pun berhasil dikukuhkan sebagai lulusan S2 Manajemen, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Unesa.

“Kelulusan ini memiliki arti personal bagi saya karena saya persembahkan untuk mendiang ayah yang wafat sepanjang konflik angkatan bersenjata di wilayah kami,” ungkap Yusra. 

Sebagai penerima Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Yusra berhasil mengamini harapan Rektor Unesa, Cak Hasan.

Cak Hasan berharap, wisudawan dan wisudawati dapat menerapkan empat pilar utama dalam menghadapi masa depan global yang bergerak secara eksponensial.

Pertama, alumnus Unesa diharapkan mampu progresif dengan memiliki pola pikir maju, adaptif terhadap teknologi, serta berani keluar dari zona nyaman.

Kedua, menjadi inovatif sebagai modal utama alumnus kampus yakni ‘Satu Langkah di Depan’ dalam menghadirkan solusi atas berbagai persoalan bangsa.

Ketiga, menjadi kontributif. Sebab, kata Cak Hasan, nilai tertinggi manusia terletak pada kebermanfaatannya bagi sesama, baik di bidang pendidikan, sains, hukum, ekonomi, hingga pemerintahan.

Keempat, menguasai karakter adaptif dan berintegritas tinggi.

Keempat pilar ini yang menjadi pegangan Yusra saat kembali ke negaranya sekaligus menjadi lulusan Unesa. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Bukan Sekadar Cari Cuan, Alumnus Unesa Ini Sukses Bikin Kedai Kopi Murah Sekaligus Berdayakan Ibu-ibu untuk Jual Kopi Keliling atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 29 Oktober 2026 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.