ADVERTISEMENT

Eks Karyawan Perusahaan di Singapura Jual Dimsum di Pinggir Jalan, Sukses Raup Omzet Puluhan Juta

Jual dimsum. MOJOK.CO

Kena PHK dari sebuah perusahaan di Singapura tak membuat Arya Perkasa (38) patah semangat. Ia justru sukses merintis usahanya jualan dimsum dengan omzet puluhan juta. 

***

ADVERTISEMENT

Baru 2 bulan saat kerja remote di salah satu perusahaan media yang berbasis di Singapura, Arya harus terkena PHK. Alasannya cukup runyam. Arya yang mulanya direkrut dan mendapat rekomendasi dari kepala divisinya pada saat itu harus melewati proses screening ulang, sebab kepala divisinya mengundurkan diri.

Namun, Arya gagal melewati proses tersebut karena perusahaan menilai skillset yang dia miliki tidak bisa dipakai di divisi lain. Sebagai lulusan Sastra Inggris dari salah satu kampus di Bandung, tentu saja Arya kecewa.

Padahal, alumnus tahun 2011 itu telah memiliki banyak pengalaman kerja yang linear dengan jurusan kuliahnya dulu, mulai dari penulis konten, penerjemah, proofreader, hingga tutor TOEFL preparation course.

Di tengah kegusarannya mencari kerja, Arya justru teringat dengan kisah seorang pengusaha Bob Sadino yang pernah menjadi guest speaker di fakultasnya. Lewat perjalanan hidupnya yang menginspirasi, Arya jadi merindukan cita-citanya dulu yang ingin menjadi pengusaha.

Oleh karena itu, Arya memulai usahanya sebagai penjual dimsum bersama sang istri pada tahun 2023. 

Fokus jual dimsum usai kena PHK

Arya bukannya ingin mengubur mimpi menjadi seorang pengusaha, tapi dulu dia berpikir bahwa untuk memulai bisnis, dia bisa memulainya dari usaha sampingan sambil memiliki pekerjaan tetap. Namun baginya kini, pemikiran itu mustahil dilakukan jika ingin bisnisnya berkembang. 

“Nyatanya, saya baru bisa benar-benar fokus berjualan dimsum setelah saya kena PHK dari tempat saya bekerja dulu,” kata Arya menceritakan perjalanan hidupnya kepada Mojok, Senin (19/10/2026). 

Saat menjalani pekerjaan remote, Arya memang sempat mempekerjakan seorang karyawan untuk menjaga lapak jualan minumannya. 

ADVERTISEMENT

Istrinya yang merupakan lulusan Administrasi Bisnis sempat nyeletuk, bagaimana kalau Arya menambahkan dimsum di lapaknya mengingat jajanan tersebut viral di media sosial. 

Sayangnya, sebelum ide tersebut tereksekusi, lapak minuman Arya terpaksa tutup bersamaan dengan momen ia terkena layoff dari perusahaan media di Singapura.

“Sejak saat itu, saya mulai berpikir untuk jualan dimsum mini saja, karena saat itu memang sedang tren. Istri juga pernah membuat dimsum dan dijual ke orang-orang sekitar rumah kami lewat status dan grup WA,” tutur Arya.

Langkah awal berjualan di pinggir jalan

Guna memulai usahanya berjualan dimsum, Arya dan istrinya sempat berkeliling ke pasar-pasar, sekaligus studi banding untuk membeli dan mencoba berbagai produk dimsum mini. Setelah mencatat ukuran maupun komposisi yang pas, keduanya pun mulai bereksperimen untuk membuat dimsum sendiri.

Beberapa dimsum yang berhasil mereka buat akhirnya mereka jual di pinggir jalan dekat rumah. 

“Kebetulan waktu itu ada lapak di depan toko bangunan yang sudah tutup, lapak itu memang disewakan untuk pedagang. Nggak hanya saya yang sewa, tapi sudah ada 3 pedagang di kanan-kiri kami yang juga ikut berjualan,” jelas Arya.

Arya sendiri berjualan menggunakan booth lipat sederhana yang sudah lama dia beli, tapi jarang dipakai. Di atasnya terdapat kompor, kukusan, dan tabung gas yang semuanya Arya ambil dari dapur rumahnya. Dengan begitu, Arya maupun istrinya tidak butuh banyak modal untuk membeli peralatan.

Di awal persiapan, Arya mengaku tak terlalu mengalami kendala yang berarti.

“Alhamdulillah selama berjualan di situ, produk dimsum kami cukup laku terjual walaupun kami hanya berjualan beberapa jam saja, dari sekitar jam 14.00 WIB hingga 19.00 WIB,” kata Arya.

Jual dimsum dan berdayakan pekerja perempuan

Tak berhenti sampai di situ, Arya dan sang istri memutuskan untuk merambah ke e-commerce. Tak pelak, pesanannya pun mengalir deras tiap harinya. Bahkan, beberapa saudara dan kerabat mereka mulai menawarkan kerjasama, sekaligus modal untuk pengembangan usaha.

“Seperti yang banyak diketahui, yang namanya usaha pasti ada naik-turunnya. Namun jika dirata-rata, omzet per bulannya saat ini mungkin sekitar Rp45 juta sampai Rp 50 juta per bulan. Untuk pendapatan bersih yang masuk ke kantong saya pribadi biasanya sekitar 20-25 persen dari omzet itu,” jelas Arya.

Hasil dari ketekunan pasangan ini tak hanya mengamankan masa depan kedua buah hati mereka, tapi juga berdampak sosial bagi lingkungan sekitarnya. Kini, Arya mampu merekrut 5 orang karyawan tangguh yang seluruhnya adalah perempuan.

“Usia mereka sangat beragam, mulai dari remaja 16 tahun hingga ibu-ibu berusia 50 tahun. Oleh karena itu, saya sangat mensyukuri pekerjaan saya yang sekarang ini,” kata Arya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Jualan di Sekitar Rumah Sakit Benar-benar Menguntungkan, Bisnis Kecil-kecilan tapi Cuan Perbulan Jauh Melampaui UMR Jogja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 20 Oktober 2026 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.