ADVERTISEMENT

Jualan di Sekitar Rumah Sakit Benar-benar Menguntungkan, Bisnis Kecil-kecilan tapi Cuan Perbulan Jauh Melampaui UMR Jogja

Jualan di Sekitar Rumah Sakit Cuan Gede, Sebulan Raup Rp5 Juta. MOJOK.CO

Bagi sebagian orang, rumah sakit identik dengan biaya pengobatan, kecemasan menunggu kabar pasien, dan malam-malam panjang tanpa tidur. Namun, bagi yang berjualan minuman di sekitar Rumah Sakit Akademik UGM (RSA UGM), situasi tersebut justru membuka peluang usaha yang menjanjikan.

***

ADVERTISEMENT

Sejak 2024, Ismi (37) memanfaatkan kebutuhan keluarga pasien yang ingin membeli minuman tanpa harus pergi jauh dari rumah sakit. Berbekal kendaraan roda tiga yang ia sulap menjadi lapak sederhana, ia menawarkan kopi sachet, minuman rasa-rasa, air mineral, hingga mi instan. Kini, ia mengaku bisa memperoleh omzet sekitar Rp5 juta sebulan, bahkan terkadang lebih.

Angka tersebut tentu belum bisa disamakan dengan keuntungan bersih, apalagi dibandingkan langsung dengan upah minimum regional (UMR) Jogja. Namun, kisah Ismi memperlihatkan bagaimana kejelian membaca kebutuhan orang lain bisa menjadi modal usaha. Ia tidak perlu menyewa toko besar atau membangun kedai permanen untuk mendapatkan pelanggan.

Melihat peluang dari sepinya penjual di sekitar RSA UGM

Ismi tidak memilih lokasi jualannya secara sembarangan. Ia melihat kawasan sekitar RSA UGM belum memiliki banyak penjual minuman ketika mulai berjualan pada 2024. Kondisi itu membuatnya berani mencoba peruntungan dengan modal yang relatif sederhana.

“Di samping RSA UGM itu belum banyak orang jualan, Mas. Awal-awal malah baru saya saja. Baru sekarang memang agak ramai, tapi yang jualan minuman memang baru saya saja,” ujar Ismi kepada saya, Sabtu (17/10/2026).

Selain melihat persaingan yang belum terlalu ketat, Ismi memperhatikan kebiasaan pengunjung rumah sakit. Keluarga pasien tidak selalu ingin membeli makanan atau minuman di dalam gedung. Sebagian memilih keluar untuk mencari udara segar sekaligus membeli sesuatu yang bisa menemani waktu menunggu.

Dari situ, Ismi melihat peluang yang mungkin luput dari perhatian orang lain. Ia tidak harus menciptakan kebutuhan baru. Ia cukup menyediakan sesuatu yang sudah dibutuhkan orang-orang di sekitarnya.

Kantin rumah sakit tidak buka 24 jam, pedagang kecil punya kesempatan

Keputusan Ismi berjualan minuman juga berangkat dari jam operasional kantin rumah sakit. Menurut pengalamannya, keberadaan kantin belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan pengunjung yang ingin membeli minuman pada malam hari.

“Di RS itu memang ada kantin, Mas, cuma mereka kan nggak buka 24 jam. Di sana juga harganya memang lebih tinggi, jadi banyak keluarga pasien itu malah jajannya di luar yang agak jauh. Makanya saya kepikiran, ‘Kenapa nggak buka jualan minuman di sana? Pasti laku,’ pikir saya waktu itu,” jelasnya.

ADVERTISEMENT

Pengalaman Ismi menunjukkan bahwa peluang usaha tidak selalu muncul karena barang yang dijual unik atau berbeda dari pesaing. Ketersediaan produk, jarak, dan waktu juga bisa menentukan keputusan pembelian.

Penelitian Widjajanti dan Surya berjudul Kajian Karakteristik Berlokasi Pedagang Kaki Lima di Kawasan Sekitar Fasilitas Kesehatan (2007), yang mengambil studi kasus di sekitar RSUP Dr. Kariadi, Semarang, turut membahas karakteristik pedagang, profil konsumen, serta persepsi pengunjung terhadap keberadaan pedagang kaki lima. Penelitian tersebut relevan untuk memahami mengapa aktivitas perdagangan tumbuh di sekitar fasilitas kesehatan, meski tidak membuktikan bahwa setiap pedagang di lokasi serupa pasti memperoleh keuntungan besar.

Menjual minuman, menemani keluarga pasien yang jenuh di rumah sakit

Ismi memahami bahwa orang yang keluar dari rumah sakit tidak selalu sedang mencari makanan. Ada pula keluarga pasien yang sekadar ingin beristirahat sejenak dari suasana ruang perawatan.

“Kan ada keluarga pasien yang keluar dari RS cuma sekadar nyari angin, jenuh kan di dalam. Kalau keluar, mereka bisa merokok. Aturan merokok di RS kan ketat. Bagi keluarga pasien yang ingin merokok harus keluar, makanya saya pilih jualan minuman saja,” terang Ismi.

Ia sengaja memilih menu yang tidak merepotkan. Lapaknya menyediakan air panas untuk menyeduh kopi dan minuman sachet, sementara air mineral kemasan serta mi instan melengkapi dagangannya.

“Jelas kalau minuman tidak ribet, hanya sedia air panas sama sachetan minuman. Kalau ada makanan agak ribet sih, Mas,” tambahnya.

Pilihan itu masuk akal untuk usaha kecil yang mengandalkan peralatan sederhana dan pelanggan yang datang silih berganti. Ismi tidak perlu mengolah banyak bahan makanan atau menyiapkan dapur yang rumit. Ia cukup memastikan barang dagangan tersedia ketika orang membutuhkannya.

Berawal dari modal sederhana, kini omzet Rp5 juta sebulan

Ismi dan suaminya menggunakan kendaraan roda tiga sebagai lapak berjalan. Mereka melengkapinya dengan termos dan gelas plastik, lalu berjualan di sekitar RSA UGM. Bentuk lapaknya sederhana, tetapi lokasinya mempertemukan mereka dengan calon pembeli yang membutuhkan minuman pada waktu-waktu tertentu.

“Omzetnya memang tidak banyak, Mas. Di awal jualan dulu, tahun 2024, masih bawa uang Rp100–150 ribu itu bisa. Tapi kalau sekarang ya alhamdulillah sudah bisa kalau sebulan itu dapat Rp5 juta, kadang lebih kadang juga tidak sampai, tapi lebih seringnya di angka segitu,” jelas Ismi.

Ia tidak menganggap seluruh uang tersebut sebagai penghasilan yang bisa langsung dihabiskan. Ada kebutuhan usaha yang harus diperhitungkan, sementara hasil penjualan juga menjadi bagian dari rencana keuangan keluarga.

“Kalau hasil jualan itu buat tabungan pendidikan anak-anak saya yang masih kecil-kecil, Mas. Kalau kebutuhan sehari-hari kan ada suami saya yang ngojol juga,” lanjutnya.

Bukan cuma keluarga pasien, lapak malam ikut meramaikan kawasan RS

Sekarang, Ismi bukan satu-satunya pedagang yang mencari penghasilan di sekitar RSA UGM ketika malam tiba. Beberapa penjual lain ikut membuka lapak, mulai dari bakwan kawi, bakso, mi ayam, hingga kacang godog. Pembelinya pun tidak terbatas pada keluarga pasien dan pengunjung rumah sakit. Orang yang sekadar melintas juga terkadang berhenti untuk membeli makanan atau nongkrong di sekitar kawasan tersebut.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa keberadaan rumah sakit dapat membentuk aktivitas ekonomi di sekitarnya. Pasien dan keluarga pasien memang menjadi salah satu kelompok konsumen, tetapi kebutuhan orang yang bekerja, berkunjung, atau melintas juga berpotensi mendukung usaha kecil.

Meski begitu, berjualan di dekat rumah sakit bukan berarti usaha otomatis laris. Pedagang tetap perlu memperhitungkan lokasi, kebutuhan konsumen, kebersihan, biaya operasional, serta aturan yang berlaku di kawasan tersebut. Bagi Ismi, keputusan membuka lapak minuman pada 2024 berangkat dari pengamatan sederhana: ada orang yang membutuhkan minuman, tetapi tidak selalu ingin membelinya di dalam rumah sakit. Ia kemudian mengubah pengamatan itu menjadi usaha yang terus berjalan.

Di tengah sulitnya mencari penghasilan tambahan, kisah Ismi menunjukkan bahwa peluang terkadang muncul dari kebutuhan sehari-hari yang terlihat sepele. Bukan berarti omzet Rp5 juta bisa diraih semua orang dengan cara serupa. Namun, Ismi membuktikan bahwa membaca kebutuhan orang di sekitar dan memilih usaha yang sesuai kemampuan bisa menjadi langkah awal membangun penghasilan keluarga.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Kuras Habis Tabungan usai PHK untuk Bisnis Es Batu Kristal, Tak Mengira Cuan Rp10 Juta Per Bulan dari Rumahan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 17 Oktober 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.