Berawal dari dapur rumah kontrakan, dosen Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) merintis bisnis di sektor pabrik kosmetik. Jatuh bangun dilalui hingga akhirnya hasil dari pabrik tersebut bisa memberi beasiswa untuk mahasiswa baru yang kurang mampu.
Dosen Farmasi UMS itu bernama Maryati Widiharto. Sejak remaja, ia memang menggandrungi ilmu sains. Karena itulah ia kemudian menempuh pendidikan sarjana di S1 Farmasi, Pendidikan profesi apoteker, hingga magister di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Setelah itu, Maryati melanjutkan studi doktoral dengan beasiswa penuh dari Islamic Development Bank (IDB) Jeddah di The University of Nottingham, Inggris. Berbekal keilmuan di bidang Farmasi yang bertahun-tahun Maryati tekuni itulah, ia lantas mulai merintis bisnis pabrik kosmetik lokal.
Dari kerugian ratusan juta
Jauh sebelum memiliki pabrik sendiri, Maryati sebenarnya pernah terjun ke industri kosmetik lokal. Saat itu, dirinya bersama keluarga mencoba menjadi perantara produksi kosmetik. Mereka membantu mencarikan pabrik untuk membuat produk milik pihak lain.
Hanya saja, proses tersebut tidak berbuah manis. Pasalnya, salah satu pabrik di Jawa Barat yang Maryati jajaki ternyata tidak mampu memenuhi standar kualitas yang diharapkan.
“Kualitasnya sangat nggak bagus, kayak krim pagi-malamnya yang berjamur setelah berapa bulan diproduksi. Akhirnya kami rugi ratusan juta,” ungkap Maryati, sebagaimana termuat di laman resmi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Bukannya berhenti, pengalaman itu justru menjadi titik balik bagi Maryati. Ia mulai berpikir bahwa industri kosmetik tak cukup bermodal produksi dan jual produk ngasal.
“Dari situ langsung kepikiran, ah! Pokoknya pengin buat pabrik sendiri yang bagus dan mutunya terjamin,” ujarnya. Terlebih Maryati memiliki pemahaman mendalam tentang formulasi, proses produksi, serta standar mutu: bekal vital untuk menghadirkan produk berkualitas.

Rintis bisnis pabrik kosmetik dari dapur rumah kontrakan
Dosen Farmasi UMS tersebut lantas memulai bisnis pabrik kosmetiknya dari sebuah rumah kontrakan sederhana di Dalangan, Pabelan, Sukoharjo, dibantu suami dan mahasiswanya.
Usai menyelesaikan studi doktoral, Maryati kembali ke Indonesia pada akhir 2015. Ia dan suami kemudian mulai mempelajari seluk-beluk membangun industri kosmetik. Setahun berikutnya, bersama suami dan mantan mahasiswanya, ia perlahan merintis perusahaan dari nol.
Pabrik pertamanya waktu itu bernama CV Garuda Mas. Dapur rumah kontrakan menjadi laboratorium pertama Maryati dan suami. Disusul garasi rumah yang disulap menjadi ruang uji coba pelbagai formula.
“Dapur itu pokoknya udah kayak laboratorium. Ada beker gelas segala macam. Kita praktik kecil-kecilan di sana,” ujarnya.
“Awal-awal berdiri itu, saya belum memiliki merek sendiri, ya, melainkan membantu proses produksinya PT NASA (Yogyakarta). Memproduksi sabun Javalgae,” sambungnya.
Pernah ambruk hingga PHK puluhan karyawan: kasih THR sambil memberhentikan
Bisnis kosmetik Maryati pada masa-masa awal itu sebenarnya berjalan normal. Permintaan produksi saat itu benar-benar meningkat. Salah satu produk maklon (pihak ketiga atau pabrik manufaktur penyedia layanan pembuatan produk) yang pernah mereka produksi bahkan mencapai penjualan 70 ribu pcs perbulan.
Namun, situasi berbalik ketika pandemi Covid-19 melumpuhkan perekonomian Indonesia. “Baru 3 bulan setelah Covid-19 melanda, nggak ada orderan masuk sama sekali,” ungkap Maryati.
Kondisi itu membuat Maryati, dengan berat hati, terpaksa merumahkan puluhan karyawan. Dari sekitar 30 karyawan, ia hanya bisa mempertahankan lima karyawan.
“Saya kasih THR karyawan sambil memberhentikan. Berat sekali hati saya, tapi mau gimana lagi? Karena memang tidak ada pekerjaan juga, wong produksi juga mandek,” kenangnya pahit.
Bangkit, punya 2 pabrik hingga panggil kembali karyawan yang pernah di-PHK
Untungnya, selepas pandemi Covid-19, kondisi pabrik berangsur membaik. Salah satu produk maklonnya bahkan berkembang pesat. Kondisi itu menjadi momentum bangkit bagi Maryati. Ia bahkan memanggil kembali mantan karyawan yang sebelumnya sempat diberhentikan.
Maryati mengembangkan merek perawatan kulit miliknya, Happy White, yang mulai berkembang sejak 2021. Setelah itu, ia juga menghadirkan Saliha yang menyasar segmentasi remaja, mengingat skincare saat ini memang menjadi bagian dari kebutuhan sehari-hari.
“Sekarang kosmetik itu seperti kebutuhan primer, kan? Anak-anak yang masih sekolah gitu sekarang saja lebih memilih nggak jajan buat beli skincare,” ujar ibu tiga anak itu.
Seiring meningkatnya permintaan, Maryati perlahan memperluas kapasitas produksinya. Perusahaan yang semula dirintisnya dengan nama CV Garuda Mas Kosmetik kemudian berkembang menjadi PT Garuda Mas Kosmetik. Ia juga mengembangkan pabrik lain: PT Natural Cosmetics Indonesia. Kedua pabrik itu telah membantu puluhan merek lain mengembangkan produknya.
“Kalau ditotal itu sebenarnya sudah ratusan merek yang minta kami memproduksi produk mereka, tapi namanya bisnis ada yang baru nyoba terus nggak balik modal, akhirnya nggak lanjut produksi ke kita. Sekarang di kisaran puluhan merek yang masih sustain,” terang Maryati.
Beberapa merek produk bahkan sempat mengalami lonjakan penjualan. Di antaranya produksi body lotion Ratu Arab dan produk Haloca Beauty.
Kini seiring produksi yang meningkat, Maryati pun menambah jumlah karyawan agar bisa memenuhi permintaan pasar.
“Saat ini punya 40 karyawan untuk 2 pabrik. Mulai dari bidang produksi, riset dan pengembangan (R&D), sampai pemasaran. Tapi, pas permintaan melonjak, kami mempekerjakan masyarakat sekitar pabrik dan rumah untuk bantu proses pengemasan,” jelasnya.
Dari bisnis pabrik kosmetik di rumah kontrakan, kini beri beasiswa ke mahasiswa membutuhkan
Sebagai dosen, Maryati merasa punya tanggung jawab sosial untuk memudahkan mereka yang ingin menempuh pendidikan tapi terkendala ekonomi. Oleh karena itu, sejak 2022, ia dan suami menggunakan sebagian hasil usahanya untuk memberikan beasiswa kepada mahasiswa baru yang kurang mampu secara ekonomi melalui program Happy White Scholarship.
Program tersebut menyasar mahasiswa semester pertama yang baru masuk perguruan tinggi. “Kalau semester satu biasanya mencari beasiswa itu sulit. Harapannya nanti semester berikutnya mereka sudah bisa mencari beasiswa lain dengan nilai yang bagus. Tapi, ada juga yang kami teruskan beasiswanya sampai lulus seperti anak-anak yatim piatu,” terang Maryati. .
Dalam setiap periode penerimaan, Maryati biasanya memberikan bantuan kepada sekitar 20 mahasiswa. Hingga 2026, program tersebut telah membantu lebih dari 50 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.
Maryati memang memiliki prinsip bahwa keberhasilan bisnis yang ia Jalani tidak hanya diukur dari pertumbuhan perusahaan. Tetapi bagaimana bisnis tersebut juga bisa menebar manfaat bagi orang lain.
BACA JUGA: Kuras Habis Tabungan usai PHK untuk Bisnis Es Batu Kristal, Tak Mengira Cuan Rp10 Juta Per Bulan dari Rumahan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan