Menyandang nama Gibran di tengah riuhnya hujatan di media sosial, sempat membuat lulusan ijazah S1 ini risi. Namun kini, ia memilih berdamai dan membuktikan bahwa nama pemberian orang tuanya adalah doa untuk menebar kebaikan melalui latar pendidikan kuliahnya.
***
Meski nama lengkapnya Gibran Darissalam, pemuda asal Jogja ini tak terhindar dari olok-olok di media sosial. Melihat topik yang ramai diperbincangkan warganet beberapa hari terakhir mengenai ijazah S1 milik seorang pejabat, banyak netizen yang menghujat maupun mendoakan pemilik nama Gibran dengan hal-hal buruk.
Parahnya, beberapa komentar tidak menyematkan nama jabatan yang mengarah spesifik ke orang yang ingin dihujat dan hanya menggunakan nama panggilan. Alhasil, Gibran yang juga memiliki nama panggilan tersebut merasa risi.
Namun mau bagaimana lagi, toh dirinya yakin malaikat juga tidak akan salah alamat. Dia percaya Tuhan pun tak akan gagal paham menerima doa-doa buruk mereka. Yang jelas, Gibran saat ini hanya ingin menjalani hidup sesuai dengan harapan orang tuanya dulu.
Dalam bahasa Jawa, Gibran berarti membawa perubahan yang baik. Sementara dalam bahasa Arab, Gibran berasal dari kata J-B-R yang artinya terpandai, bijaksana, dan membawa kedamaian.
Dengan bekal nama tersebut, Gibran berusaha mewujudkan harapan orang tuanya melalui karier dan ijazah S1 Desain Komunikasi Visual (DKV) miliknya tanpa harus memiliki jabatan tinggi di pemerintahan.
Gibran yang ingin membawa perubahan
Setelah mendapat ijazah S1, Gibran berpikir, desainer adalah pekerjaan yang tugasnya hanya membuat logo, ilustrasi, fotografi, hingga copywriting, tapi ternyata implementasinya bisa lebih luas dari itu.
Bagaimana tidak, setelah menikah dan beli rumah pada tahun 2022, Gibran yang tadinya hanya berkutat pada laptop, tab, gawai, maupun alat-alat kerja, kini tak sampai hati menutup mata untuk melihat masalah di lingkungan sekitarnya.
“Kami hidup di tengah masyarakat yang tingkat ekonomi dan pendidikannya menengah ke bawah. Ada yang bekerja sebagai pemulung, ART, penjaga kos, dan sebagainya. Hidup serba pas-pasan, beberapa bahkan terlilit utang rentenir,” ujar Gibran saat dihubungi Mojok, Minggu (18/10/2026).
“Lalu kami mikir, gimana sih cara berbuat baik yang simpel ke mereka tapi tetap banyak aspek yang tersentuh seperti ekonomi, pendidikan, dan spiritual?” lanjutnya.
Menggelar kajian dan bagi-bagi telur di musala

Bermula dari keresahan tersebut, Gibran yang 3 tahun terakhir fokus mengelola bisnis bakery Fudgy Brownies bersama sang istri, akhirnya membuat program sosial sederhana untuk meramaikan kegiatan di dalam musala.
Namun karena ia dan istrinya adalah pendatang baru, keduanya pun harus mendekatkan diri terlebih dulu dengan warga. Salah satunya dengan membuat program kupon ‘telur kebaikan’ untuk satu orang jamaah di masjid.
Baik anak-anak, orang dewasa, hingga lansia dapat menukarkan satu kupon tersebut menjadi satu butir telur, setelah mengikuti kajian usai salat magrib. Pengambilannya tidak bisa diwakilkan sehingga orang yang aktif mengikuti kajian selama seminggu penuh di masjid misalnya, bisa mendapat 7 butir telur.
“Bersamaan dengan itu, kami adakan kajian pekanan sebagai sarana edukasi. Ringan dan singkat saja. Waktunya dari magrib sampai Isya. Ustaznya dari kalangan dosen, dokter maupun pengusaha,” jelas Gibran.
Mengubah stigma pemilik nama Gibran di media sosial
Gibran kemudian rutin membagikan aktivitas sosial ini ke media sosial pribadinya. Strategi komunikasinya pun berhasil menggerakkan koleganya untuk berdonasi guna mengganti karpet musala yang keras dan kasar.
Untuk mengganti karpet tersebut, Gibran membutuhkan biaya sekitar Rp9 juta. Angka yang tak sedikit bagi ia dan istrinya di tengah profit bisnis mereka yang belum terlalu banyak. Namun, berkat kemurahan hati dari para koleganya, Gibran mampu membeli karpet baru untuk musala kecil di dekat rumahnya.
Meskipun aksi sosial ini sekilas tak ada hubungannya dengan latar belakang pendidikan ijazah S1 miliknya, ia berhasil membuktikan bahwa ilmunya sangat aplikatif terutama untuk membawa kebermanfaatan di masyarakat.
Pemahamannya tentang branding dan marketing tidak hanya membantu Gibran mengembangkan bisnis F&B-nya bersama sang istri, tapi juga efektif untuk mengampanyekan aksi sosial.
“Imu apapun yang digerakkan dengan rasa kemanusiaan pasti manfaatnya akan terasa, termasuk ilmu DKV,” tegasnya.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Tak Ada Bukti Gibran Punya Ijazah SMA, Mundur Sukarela adalah Cara Elegan dan Sikap Kesatria atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan