Tidak Terlilit Hutang Pinjol dan Terjebak Judol adalah Seporsi Kemenangan Pemuda Kampung yang Wajib Dirayakan

Tidak Terlilit Hutang Pinjol dan Judol adalah Seporsi Kemenangan. MOJOK.CO

Di tengah ekonomi yang kian menekan, sebagian anak muda punya standar kemenangan yang berbeda. Bukan membeli rumah sebelum usia 30 tahun, punya mobil sendiri, atau mengumpulkan aset sebanyak-banyaknya. Bagi kami, bisa menjalani hidup tanpa hutang pinjol dan tidak terjebak judol saja sudah cukup melegakan.

***

ADVERTISEMENT

Ahmad (26), pekerja lepas sebagai guru bimbingan belajar Matematika, termasuk salah satunya. Ketika saya temui di Gamping, Sleman, Kamis (15/10/2026), ia bercerita bahwa penghasilannya memang pas-pasan. Namun, ia tidak tertarik bermain judi online dan tidak pernah menjadikan pinjaman online sebagai jalan keluar ketika membutuhkan uang.

“Aku di usia ini tidak punya beban hutang pinjol dan tidak tertarik judol saja sudah sebuah pencapaian,” ujarnya.

Bagi sebagian orang, pencapaian semacam ini mungkin terdengar biasa saja. Namun, bagi pemuda kampung yang belum punya rumah sendiri dan masih berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari, tidak menambah beban keuangan juga layak dirayakan.

Tidak punya hutang pinjol juga sebuah pencapaian

Saya dan Ahmad sama-sama tumbuh di lingkungan kampung di Gamping. Kami melihat bagaimana sebagian teman sebaya menghadapi tuntutan hidup dengan penghasilan yang tidak selalu sebanding dengan keinginan. Ada yang ingin membeli kendaraan, mengganti ponsel, atau sekadar punya uang lebih untuk menikmati hidup. Di tengah keinginan itu, Ahmad memilih mengukur pencapaiannya dengan cara yang lebih sederhana.

“Kalau dilihat dari teman-teman kita di kampung, orang seperti kita ini langka. Gaji pas-pasan, belum punya rumah sendiri, dan banyak keinginan, ternyata tidak memiliki hutang pinjol juga sebuah kemenangan, ya?” ujarnya sambil tertawa.

Saya memahami maksud Ahmad. Kami tidak sedang membicarakan keberhasilan finansial yang bisa dipamerkan di media sosial. Kami sedang membicarakan kemampuan menjalani hidup tanpa menambah persoalan yang bisa membuat keadaan semakin sulit.

Gaji Rp1,5 Juta, buat nabung pelan-pelan saja sudah bersyukur

Ahmad mengaku memperoleh penghasilan sekitar Rp1,5 juta per bulan dari pekerjaannya sebagai guru bimbel. Dengan nominal tersebut, menabung untuk membeli barang yang diinginkan tentu membutuhkan waktu. Apalagi, ia belum memiliki penghasilan tetap yang besar.

“Meski gajiku pas-pasan, memang aku tidak pernah menjadikan hutang pinjol sebagai jalan keluar. Kalau misal pengen apa-apa juga mending nabung pelan-pelan, kalau nggak ya semakin giat aja nyari tambahan di bimbel,” katanya.

ADVERTISEMENT

Ia mengaku masih terbantu karena tinggal bersama orang tuanya. Kebutuhan makan sehari-hari tidak sepenuhnya menguras penghasilannya sehingga ia masih punya sedikit ruang untuk jajan dan menyisihkan uang.

“Di Jogja dengan uang Rp1,5 juta sebulan itu bisa nabung berapa, ya? Beruntungnya makan masih ikut orang tua aja, jadi masih bisa menyisihkan uang buat jajan, jadi tidak terlalu ngos-ngosan,” tambahnya.

Ahmad tidak sedang menganggap gaji kecil sebagai sesuatu yang ideal. Ia hanya memilih menyesuaikan keinginan dengan kemampuan. Baginya, menunggu sampai uang terkumpul terasa lebih masuk akal daripada menanggung cicilan demi memenuhi keinginan sesaat.

Judol dan hutang pinjol bukan jalan keluar dari ekonomi yang mencekik

Kekhawatiran kami bukan tanpa alasan. Di lingkungan pergaulan kampung, saya melihat banyak teman-teman sebaya yang pernah bersinggungan dengan judol maupun hutang pinjol. Sebagian berhasil berhenti, tetapi sebagian lain masih berkutat dengan hutang dan kesulitan memenuhi kebutuhan bulanan.

Pengamatan tersebut memang tidak mewakili seluruh pemuda Gamping. Namun, pengalaman di lingkungan terdekat membuat persoalan ini terasa nyata, bukan sekadar perdebatan di media sosial.

Data nasional juga memperlihatkan bahwa anak muda masuk dalam kelompok pemain judi online. Dalam keterangan yang dirilis pada 26 Juli 2024, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mencatat sekitar 520.000 pemain berusia 21–30 tahun dari perkiraan empat juta pemain judi online saat itu. Angka tersebut merupakan gambaran nasional pada 2024, bukan data khusus Yogyakarta. 

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY mencatat 373 laporan pinjaman online ilegal sepanjang Januari–Juni 2026. Angka tersebut menunjukkan bahwa penawaran pinjaman ilegal masih menjadi persoalan di DIY, meski tidak secara khusus merinci usia pelapor maupun jumlah anak muda yang berutang. 

Ketika penghasilan pas-pasan bertemu keinginan yang banyak (kadang) hutang pinjol dan judol jadi solusi

Bagi anak muda, persoalan keuangan tidak selalu berhenti pada kebutuhan makan dan membayar tagihan. Ada pula keinginan menikmati hidup, mengikuti tren, dan memiliki barang yang sama dengan teman sebaya.

Dalam kondisi seperti itu, judol menawarkan iming-iming uang cepat, sedangkan pinjol menawarkan akses dana yang terasa mudah. Keduanya punya daya tarik tersendiri bagi orang yang sedang membutuhkan uang atau ingin memenuhi keinginan tanpa menunggu tabungan terkumpul.

Namun, kemenangan dalam judi tidak pernah menjadi penghasilan yang bisa diandalkan. Sementara itu, pinjaman tetap menuntut pembayaran, bahkan ketika kondisi keuangan peminjam tidak kunjung membaik.

Ahmad memilih tidak mengambil kedua jalan tersebut. Ia mencari tambahan pekerjaan ketika membutuhkan uang dan menerima bahwa tidak semua keinginan harus segera terpenuhi. Bagi saya, pilihan itu bukan berarti kami sudah paling bijak dalam mengelola uang. Kami juga masih belajar bertahan di tengah biaya hidup dan penghasilan yang belum ideal. Setidaknya, kami tidak sengaja menambahkan persoalan baru ke dalam hidup yang sudah cukup rumit.

Seporsi kemenangan pemuda kampung

Ada banyak ukuran keberhasilan yang beredar di sekitar kami. Sebagian orang berlomba membeli rumah, memiliki kendaraan, membangun karier, atau mengumpulkan tabungan sebelum usia tertentu. Semua itu sah menjadi tujuan hidup.

Namun, saya dan Ahmad punya ukuran lain yang lebih dekat dengan keseharian kami: menerima penghasilan pas-pasan tanpa harus mencari pelarian melalui judol atau menambah beban lewat hutang pinjol.

Bagi kami, kemenangan ini memang tidak bisa dipamerkan sebagai pencapaian finansial yang luar biasa. Tidak ada rumah baru, mobil, atau saldo rekening yang fantastis untuk diceritakan. Namun, ketika ekonomi terasa semakin mencekik, mampu menjaga diri agar tidak terjerat hutang pinjol dan judol adalah satu beban yang berhasil kami hindari. Untuk sementara, seporsi kemenangan itu sudah cukup kami syukuri.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Tak Punya Cicilan Paylater adalah “Seporsi Kemenangan” di Tengah Kondisi Ekonomi Karut-Marut, Kesuksesan Kecil Pekerja Kelas Menengah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 15 Oktober 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.