Di tengah ekonomi yang sulit dan gaji pas-pasan, tak punya beban tagihan Paylater menjadi satu-satunya kemewahan bagi pekerja kelas menengah. Setidaknya, ada satu beban pikiran yang hilang.
***
Belakangan ini, linimasa Threads ramai oleh keluhan para pekerja kelas menengah. Keluhan mereka rata-rata sama: gaji yang pas-pasan terasa makin mencekik karena tingginya biaya hidup.
Kebutuhan terus bertambah, mulai dari ongkos kerja, uang makan, hingga tagihan tempat tinggal. Namun, di sisi lain, penghasilan yang mereka dapatkan tiap bulannya tak beranjak ke mana-mana.
Di tengah kondisi ekonomi yang sedang sulit ini, standard kesuksesan para pekerja perlahan bergeser. Jika dulu kelas menengah sering diukur dari kemampuannya mencicil rumah atau membeli mobil, sekarang ukurannya menjadi sangat sederhana: bisa hidup tenang tanpa punya cicilan paylater.
Lebih suka prihatin daripada numpuk cicilan paylater
Kondisi ini diamini oleh Cita (25), seorang pekerja di Semarang. Sebagai anak muda, ia punya hobi menonton konser musik dan datang ke berbagai acara hiburan.
Hobi ini jelas membutuhkan banyak uang. Apalagi jika ada konser di luar kota, seperti festival Cherrypop di Jogja beberapa waktu lalu. Ia harus menyiapkan dana untuk tiket, transportasi, hingga penginapan selama di sana.
“Kemarin aja pas ke Cherrypop, untuk tiket dan akomodasi lain habis hampir sejuta sendirian,” ujarnya, Rabu (14/10/2026).
Untuk membiayai hobinya itu, Cita memilih jalan yang butuh kesabaran. Ia lebih suka menabung berbulan-bulan dan menekan pengeluaran sehari-harinya ketimbang memakai fasilitas paylater.
Ia sadar betul bahwa kemudahan membayar di bulan depan yang ditawarkan aplikasi, ujung-ujungnya hanya akan merepotkan dirinya sendiri.
“Mending ngirit banget buat nabung tiket konser, daripada senang-senang sebentar tapi bulan depannya pusing mikirin tagihan,” kata Cita.
Kapok utang berbunga tinggi
Pilihan Cita untuk menjauhi paylater bukan tanpa alasan. Ia pernah punya pengalaman buruk yang membuatnya benar-benar kapok berurusan dengan pinjaman instan tersebut.
Ceritanya terjadi saat ia baru mulai bekerja sebagai karyawan kontrak di Semarang. Gajinya saat itu terbilang cukup karena sudah menyentuh standard UMR.
Namun, ada satu waktu gajinya telat cair hingga beberapa minggu karena urusan administrasi kantor yang bermasalah. Untuk bertahan hidup dan membeli makan sehari-hari di perantauan, ia terpaksa mengaktifkan paylater.
“Awalnya, paylayer memang sangat menolong, apalagi saat dompetnya kosong,” jelasnya, menceritakan pengalaman pertamanya menggunakan aplikasi ini.
Masalah baru muncul ketika gajinya akhirnya turun. Karena telanjur merasakan betapa mudahnya berbelanja, Cita malah ketagihan. Ia tidak lagi menggunakan paylater untuk kebutuhan pokok, tetapi mulai membeli barang-barang lain yang sebenarnya tidak terlalu mendesak.
“Mulai beli kaos band. Beli skincare. Itu pakai paylater, karena bisa dicicil kan.”
Tanpa ia sadari, tagihan bulanannya membengkak hingga menyentuh angka satu juta rupiah. Untuk ukuran karyawan baru, keharusan melunasi angka tersebut sangat mengganggu arus keuangannya.
Meski demikian, utang satu juta milik Cita mungkin masih tergolong kecil. Di Threads, banyak pekerja lain yang membagikan cerita jauh lebih parah. Ada yang tanpa sadar tumpukan tagihan paylater-nya sudah mencapai dua kali lipat dari gaji bulanannya.
Mereka akhirnya terjebak dalam siklus mencari pinjaman baru untuk menutup tagihan yang lama setiap kali habis gajian.
Melihat teman menderita karena paylater
Jika Cita belajar dari pengalaman pribadinya, Rio punya alasan yang sedikit berbeda. Pekerja swasta di Jogja ini memilih sama sekali tidak menyentuh paylater karena melihat langsung teman-temannya menderita akibat fasilitas tersebut.
Menariknya, Rio menolak ikut-ikutan menghakimi. Ia tidak setuju jika orang yang memakai paylater langsung dicap bodoh atau punya literasi keuangan yang rendah.
Dari yang ia perhatikan sehari-hari, teman-temannya adalah orang-orang yang bekerja keras dan punya penghasilan jelas. Mereka terpaksa memakai paylater karena kebutuhan hidup memang sering kali berada di luar jangkauan gaji mereka.
Ditambah lagi, sistem aplikasi ini sengaja dibuat untuk terus menawarkan kemudahan bayar belakangan, sehingga penggunanya semakin impulsif saat berbelanja.
“Mereka itu kerja, tapi sistemnya memang bikin orang gampang khilaf. Begitu gajian, uangnya habis cuma buat bayar tagihan bulan lalu. Terus bulan ini mau makan pakai apa? Ya terpaksa pakai paylater lagi. Gitu terus siklusnya,” ujar Rio.
Melihat lingkaran pertemanan yang stres setiap tanggal gajian karena tagihan menumpuk, Rio merasa sangat bersyukur. Di tengah nominal gajinya yang juga tidak seberapa, ia masih bisa tidur nyenyak. Tidak ada notifikasi penagihan yang menerornya setiap akhir bulan.
Bagi Rio dan banyak pekerja kelas menengah lainnya, terbebas dari tagihan paylater bukan lagi sekadar soal kebiasaan menabung yang baik. Tidak punya utang hari ini adalah sebuah kemenangan kecil di tengah kerasnya kenyataan hidup dan minimnya kenaikan gaji.
“Aku sadar diri aja, gaji udah kecil, jadinya nggak mau cari masalah lain. Nggak punya paylater itu kemenangan kecil di tengah gajinya yang juga kecil,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Orang Miskin di Desa Nekat Utang buat Gaya Hidup: Gara-gara Putus Asa dan Muak Diinjak-injak Mulut Tetangga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan