ADVERTISEMENT

Secangkir Teh sebelum Mati, Saat Kedai Titilaras Solo Menyelamatkan Hidup Pengunjung lewat Obrolan Sederhana

Arkha Tri Maryanto, pemilik Kedai Kopi dan Teh Titilaras di Solo. MOJOK.CO

“Perjalanan manusia tak terlepas dari pertemuan, entah dipertemukan atau mempertemukan tentang jawaban. Jika sesuai artinya berkah, jika tidak artinya hikmah,” ujar Arkha Tri Maryanto, pemilik Kedai Kopi dan Teh Titilaras di Solo.

***

ADVERTISEMENT

Arkha, sapaan akrabnya tak pernah menyangka kutipan yang ia unggah pada akun resmi @titilaras.solo itu menjadi secercah harapan bagi salah satu pengikutnya di Instagram.

“Hampir semua pertemuan antara saya dengan pelanggan selalu berkesan. Namun, ada satu cerita yang masih saya ingat, tentang seorang perempuan yang punya semangat hidup kembali usai membaca narasi tersebut,” kata Arkha kepada Mojok, Rabu (4/11/2026).

Perempuan yang sempat mencoba mengakhiri hidupnya berkali-kali itu, kata Arkha, akhirnya datang langsung ke Kedai Titilaras. Dari sanalah keduanya mengobrol panjang lebar. Sampai akhirnya, keduanya memiliki makna mendalam soal hidup.

Alih-alih merasa terganggu, Arkha justru senang karena tujuannya mendirikan Kedai Titilaras tercapai.

Konsep slowbar yang mengedepankan interaksi

Titilaras dulunya adalah brand. Ia berdiri pada tahun 2020 kala pandemi melanda dunia. Saat itu, produk yang Arkha jual hanyalah teh racikan serta kopi bubuk untuk hampers. Hingga dua tahun setelahnya, laki-laki berusia 34 tahun itu memiliki kedai secara fisik, tepatnya di Pasar Gede Barat lantai 2.

Lewat jendela kecil berukuran 2×1 meter di Pasar Gede kala itu, Arkha siap melayani pengunjung silih berganti. Uniknya, ia tidak memiliki menu pasti sebab kedai ini memiliki konsep slowbar. Setiap harinya, Arkha akan mengganti menu sesuai dengan bahan baku yang ada. Beberapa menu bahkan punya porsi yang terbatas.

Tulisan di jendela. MOJOK.CO
Sebuah tulisan yang terpampang di jendela Kedai Titilaras, Solo. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Cara pesannya mudah, tinggal datang dan tanya ‘untuk menu hari ini ada apa saja’, karena sedari awal kami tidak ada menu pasti. Hari ini ada bahan baku apa yang bisa dikombinasikan, akan kita buat menu of today. Dasar menunya kopi, teh dan cokelat,” tutur Arkha.

Alih-alih menyulitkan, konsep ini sengaja dipertahankan Arkha untuk memancing obrolan antara dia dengan pengunjung. Sebab sejak awal pendiriannya, Arkha tidak ingin menjadikan kedainya untuk berbisnis, melainkan ruang belajar dan berinteraksi di Solo.

ADVERTISEMENT

“Berdasarkan penelitianku, manusia sebagai makhluk hidup sosial itu semakin kehilangan skill pribadi mereka, skill paling basic yaitu sebuah interaksi,” lanjutnya.

Tak terlepas dari berbagai tantangan yang ada, kini Titilaras pindah ke Kompleks Keraton Kasunanan di Baluwarti.

Titilaras: Meniti kehidupan dan menjaga keseimbangan

Arkha yang dulunya merupakan atlet cricket dan pernah menyambi sebagai guru ini, juga sempat bekerja di F&B khususnya perkopian. Tak heran jika ia memiliki dasar di bidang bisnis, serta komunikasi yang membuat obrolan menjadi nyaman.

Seiring dengan mimpinya yang bergejolak untuk mewujudkan kedai, Arkha akhirnya melakukan riset, mulai dari lokasi strategis untuk membangun kedai, konsep yang ia usung, biaya yang dibutuhkan, hingga hidangan teh dan kopi yang akan disediakan.

“​​Konsepnya paling dasar sebenarnya bukan hanya transaksional (jual beli) semata, tetapi ingin memberikan kesempatan bagi setiap manusia untuk menemukan ruang ketiganya. Bersama belajar untuk bisa berinteraksi dengan sesama sebagai makhluk sosial,” tegas alumnus Universitas Tunas Pembangunan Surakarta tersebut.

Pembeli teh di Kedai Titilaras, Solo. MOJOK.CO
Pelanggan sedang memesan menu. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Sementara itu, nama Titilaras terinspirasi dari filosofi hidupnya yang berasal dari istilah kesenian Jawa alias tangga nada. Niti sendiri yang artinya berjalan dan laras berarti seimbang.

“Orang hidup harus meniti, meniti itu berjalan atau memperbaiki sesuatu. Orang hidup juga harus selaras atau menyeimbangkan sesuatu. Contoh hal paling sederhana, kalau dapat kerja ya harus seimbang dengan istirahat,” kata dia.

Prinsip itu pula yang menjadikan Titilaras viral akibat aksi beraninya menghapus menu americano dari daftar sajiannya pada Maret 2026 lalu. Sebagai gantinya, Arkha mengubah nama menu tersebut menjadi Black Ice dan Hot Black.

Menurut Arkha, aksi ini sebagai bentuk protes dan sikap simbolisnya terhadap konflik di Timur Tengah yang melibatkan serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Dengan tagar #FromTheRiverToTheSea, Arkha berharap kebebasan untuk warga Palestina.

Pada akhirnya, Titilaras berhasil menjadi ruang ketiga bagi manusia untuk merawat interaksi sosial bersama secangkir kopi maupun teh, sekaligus menjaga keseimbangan hidup dan berani menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza 

BACA JUGA: Kedai Titilaras Solo: Menjaga Kewarasan Anak Muda Lewat Pilihan Teh yang Sulit Ditebak atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 4 November 2026 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.