ADVERTISEMENT

Dari “Rerimatan” di Keraton hingga Kuliner Sehat, Saya Menemukan Alasan Mengapa Solo Cocok untuk Kaum Urban

Peserta Solo Wellness Famtrip jalan-jalan di Kampung Batik Kauman. MOJOK.CO

Melalui perpaduan wisata sejarah, meditasi keraton, hingga kuliner sehat, para peserta Solo Wellness Famtrip 2026 diajak untuk membuktikan satu hal: “Tinggalah di Solo jika ingin hidup lebih lama”.

***

ADVERTISEMENT

Selama tiga hari ini, yakni Jumat (30/10/2026) sampai Minggu (1/11/2026), saya berkesempatan mengikuti program Solo Wellness Famtrip 2026 bersama 19 orang peserta dari Jogja dan Solo.

Bisa dibilang, agenda kami sangat padat saking banyaknya destinasi yang sayang untuk dilewatkan, terutama tempat-tempat wisata di Solo yang mengusung konsep wellness.

Menurut Wali Kota Solo, Respati Achmad Ardianto, isu kesehatan kini menjadi topik yang sedang hangat diperbincangkan. Bahkan, tak sedikit orang mencari tempat untuk slow living. 

“Karena manusia selalu punya alasan untuk hidup lebih lama. Karena itu sebetulnya, kota ini diciptakan dengan target angka harapan hidup yang lebih panjang,” jelas Respati dalam forum group discussion, Minggu (29/10/2026).

Wali Kota Solo, Respati Achmad Ardianto saat FGD Solo Wellness Famtrip. MOJOK.CO
Wali Kota Solo, Respati Achmad Ardianto dalam FDG Solo Wellness Famtrip. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Melalui program Solo Wellness Famtrip ini, Respati berharap masyarakat dapat mengenal Solo sebagai salah satu kota percontohan wellness city dan wellness tourism. 

“Jadi, bila kalian lelah dan ingin hidup lebih lama di dunia ini, cobalah tinggal di Solo,” ucapnya.

Saya pun mencoba membuktikan kalimat itu sejak hari pertama, yakni menemukan kembali alasan untuk hidup lewat wisata wellness di Solo.

Pembuktian hari pertama wellness di Solo

Pada hari pertama, seluruh peserta Solo Wellness Famtrip berkumpul di Hetero Space Solo yang merupakan coworking space, creative hub, sekaligus tempat inkubasi bagi UMKM hingga startup di Kota Solo.

ADVERTISEMENT

Setelah semuanya mengisi presensi, kami pun menuju Keraton Surakarto untuk mengikuti prosesi rerimatan alias meditasi sekaligus menyucikan diri dengan air tradisional bercampur bunga. Agar tidak penasaran, kamu bisa membaca artikelnya yang berjudul “Bersemedi di Keraton Solo: Jauh dari Klenik meski Bau Dupa hingga Bermandikan Air Bunga”.

Tak hanya itu, kami juga belajar bagaimana Raja Keraton Surakarta, Paku Buwono (PB) III melakukan doa sekaligus bermeditasi sebagai bentuk spiritualnya dalam menyembah Tuhan Yang Maha Esa.

Keraton Surakarto 2. MOJOK.CO
Tempat bersemedi di Keraton Surakarto. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Usai melakukan prosesi rerimatan, mengitari bangunan keraton, hingga melaksanakan salat di Masjid Agung, kami melanjutkan perjalanan ke Kale Locale untuk makan siang.

Tempat makan dalam rumah bergaya vintage dengan konsep fine dining  itu berada di suatu gang sempit tengah perkampungan Batik Laweyan. Menunya sendiri disajikan secara sesonal yang dikeluarkan dengan cara satu-persatu.

Daffa selaku manajer menjelaskan, Kale Locale menjual berbagai macam fushion food dengan bahan lokal. Misalnya, tawangmangu, sari tebu, tropis, kemuning, tuna laut utara, ratatoulle tomato kalio, jeruk sawit, mie lethek, hingga desserts jambu. 

Usai kenyang dengan sajian yang dipatok harga berkisar Rp140 ribu hingga Rp173 ribu per orang tersebut, kami pun melanjutkan perjalanan ke Kampung Batik Kauman yang berjarak 4,3 kilometer dari Kampung Batik Laweyan.

Meski sama-sama menjadi ikon wisata sejarah batik di Kota Solo, keduanya memiliki karakteristik dan latar belakang yang berbeda. 

Relaksasi klasik di Kampung Batik Solo

Kampung Batik Kauman. MOJOK.CO
Tempat estetik di Kampung Batik Kauman yang digemari anak muda untuk berfoto. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Kampung Batik Kauman berasal dari permukiman para abdi dalem ulama dan keluarga Keraton Kasunanan Surakarta yang dibangun sekitar tahun 1763 hingga 1788.

Maka tak heran, ada banyak deretan rumah tua sederhana dengan arsitektur perpaduan Jawa dan Belanda. Kini, sebagian dari bangunan tua yang berada di jalan utama sudah disulap menjadi kafe-kafe estetik atau industri rumahan dan showroom batik yang masih bertahan, seperti Wesja Kauman dan Batik Gunawan Setiawan.

Sementara itu, rumah-rumah di Kampung Batik Laweyan tampak lebih besar dan mewah, sebab pemiliknya berasal dari komunitas para saudagar dan pengusaha batik, bahkan menjadi cikal bakal lahirnya Serikat Dagang Islam (SDI). 

Puas berjalan-jalan sore di Kampung Batik Kauman, rombongan Solo Wellness Famtrip 2026 melanjutkan perjalanan ke resto kuliner khas Jawa dan kafe jamu herbal, Djampi Jawi.

Seiring dengan hujan yang membasahi Kota Solo sore itu, kami bercengkrama sambil menyeduh served jamu, mulai dari beras kencur hingga kunir asem.

Solo is Solo. MOJOK.CO
Nyanyian malam di Solo is Solo. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Setelah melakukan aktivitas seharian, kami akhirnya bisa merebahkan badan di Azana Boutique Hotel Solo, salah satu penginapan yang mengusung konsep well-being dan kebugaran dengan menghadirkan fasilitas kesehatan serta relaksasi lengkap, termasuk masakan yang disajikan di restonya.

“Semua menu makanan kami menggunakan gula alami, salah satunya madu serta olahan roti yang gluten free,” kata General Manager Azana Boutique Hotel Solo, Amien Tohari.

Sekitar 4,1 kilometer dari hotel, kami pun jalan-jalan di Koridor Jalan Gatot Subroto (Gatsu) untuk menikmati gelaran Solo is Solo, mencicipi kuliner, dan belanja souvenir sampai malam.

Membayangkan kehidupan wellness para adipati Mangkunegaran di Solo

Pada hari kedua, agenda kami sudah dimulai dari pagi lagi yakni sekitar pukul 05.30 untuk mengikuti kelas yoga di Saraswati Garden, salah satu destinasi kuliner dan tempat nongkrong bergaya garden cafe yang asri di jantung Kota Solo.

Tak cukup sampai di situ, paru-paru kami pun terisi dengan oksigen hasil dari tumbuhan rindang di Taman Balekambang Solo, yang merupakan hadiah dari KGPAA Mangkunegara VII sebagai bentuk kasih sayang kepada kedua putri kembarnya, Gusti Raden Ayu Partini dan Gusti Raden Ayu Partinah.

Mangkunegaran. MOJOK.CO
Kediaman para adipati Mangkunegaran. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Hari pun semakin siang saat kami menuju ke Pura Mangkunegaran, kediaman para adipati Mangkunegaran yang bertahta sejak Mangkunegara I hingga Mangkunegara X. Mangkunegara X alias Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (GPH) Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo yang bertahta saat ini, telah mempertahankan arsitektur bangunan Pura Mangkunegaran yang terdiri dari akulturasi antara budaya Jawa dan Eropa.

Berpadu dengan taman-taman yang tertata secara estetik, tak pelak banyak pengunjung yang mengabadikan foto di beberapa sudut ruangannya.

“Hari ini konsepnya foto like a princess, karena suasananya seperti di negeri dongeng,” kata salah satu peserta Solo Wellness Famtrip 2026 yang puas touring di Pura Mangkunegaran.

Setelah cukup mengabadikan momen dengan gawai, kami pun melanjutkan perjalanan ke Baluwerti untuk mengikuti kelas keterampilan tradisional seperti membuat jamu dan meramu lulur. Lalu makan siang di Wesja Kauman serta ngeteh cantik di Titilaras.

Akhir manis perjalanan wellness di Solo

Apri selaku tour guide wallking tour. MOJOK.CO
Apri selaku tour guide yang mendampingi peserta Solo Wellness Famtrip 2026 saat walking tour di Sondakan. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Pada hari terakhir, kegiatan kami hanya satu yakni menyurusi Kampung Sondakan, sebelum akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Kampung Sondakan merupakan salah satu kelurahan yang berada di Kecamatan Laweyan. 

Seperti yang saya singgung di atas tadi, banyak dari bangunannya yang tampak besar dan mewah. Salah satu cirinya dapat dilihat dari bagian pendhapa atau ruang terbukanya.

“Atap pabrik di sini biasanya berbentuk tinggi dan lebar agar mudah saat menjemur kain batik,” kata Apri selaku tour guide yang mendampingi peserta Solo Wellness Famtrip 2026 saat walking tour di Sondakan.

Apri juga menyebut Sondakan hanyalah satu dari banyaknya kampung batik di Laweyan. Oleh karena itu, hingga saat ini, timnya masih meriset dan menelusuri jejak-jejak sejarah yang masih belum terungkap di Solo, seperti beberapa makam yang belum terindikasi identitasnya.

Tak hanya Apri, sebagai pendatang dari Jogja yang mengikuti perjalanan wellness di Solo selama tiga hari, saya pun tergiur untuk mendalami The Wellness City of Java. Sebab di era modern seperti sekarang ini, kesehatan menjadi fondasi utama manusia.

Dengan begitu, Solo telah membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar kota pusaka sejarah melainkan pelarian sempurna bagi siapa saja yang ingin merengkuh ketenangan, melambat sejenak dari rutinitas yang melelahkan, hingga menemukan kembali alasan untuk hidup lebih lama. 

Penulis: Aisyah Amir Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Alasan Saya Lebih Nyaman PP Satu Jam Solo-Jogja daripada Ngekos, karena Bikin Mental Lebih Sehat atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 2 November 2026 oleh .
Artikel Advertorial

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.