Bau menyengat dari asap dupa maupun kehadiran sesajen tak selalu berhubungan dengan klenik. Di Keraton Solo, keduanya menjadi bagian dari tradisi budaya Jawa untuk meditasi dan menyucikan diri (rerimatan).
***
Keraton Surakarta atau Keraton Solo seharusnya tutup setiap hari Jumat. Namun, saya bersama 20 peserta dari Solo Wellness Famtrip 2026 beruntung mendapatkan kesempatan untuk melakukan meditasi hingga mengikuti prosesi rerimatan pada Jumat (30/10/2026).
Rerimatan merupakan prosesi penyucian diri yang sering dilakukan di kompleks Museum Keraton Solo. Ia berasal dari kata rimat atau reresik yang bermakna membersihkan dan mengembalikan keselarasan antara jiwa, raga, dan semesta.
Untuk mengikuti prosesi tersebut, kami diwajibkan mengenakan busana abdi dalem sebelum membasahi diri dengan racikan air tradisional yang sudah disiapkan di dalam gentong gerabah.
Lewat penyucian diri ini, kami diajak memasuki ruang keheningan untuk merenungkan kembali, apa yang sebenarnya manusia inginkan selama hidup. Menurut Kanjeng Raden Arya (KRA) Rizki Baruna Aji Diningrat sekaligus pembimbing kami dalam rerimatan, prosesi ini bukan sekadar ritual biasa.
Menurutnya, ada sebuah perjalanan batin yang bisa didapat manusia saat menenangkan pikiran, menjernihkan hati, dan menyelaraskan langkah kehidupan. Oleh karena itu, rerimatan di Keraton Solo mengajak warga yang hadir untuk berhenti sejenak dari rutinitas kerja.
Bersemedi jadi kegiatan spiritual di Keraton Solo

Sebelum melaksanakan prosesi rerimatan, KRA Rizki Baruna Aji Diningrat atau yang akrab dipanggil Kanjeng Rizki, memberikan pemahaman kepada kami tentang apa itu spiritual, agar kegiatan meditasi di Keraton Solo tak dianggap sebagai bentuk supranatural.
Sebab menurutnya aktivitas bertapa atau meditasi seiring kali dihubungkan dengan kejadian supranatural, seperti orang indigo yang bisa melihat materi tak kasat mata dari dunia lain. Sementara spiritual lebih condong dialami manusia secara langsung.
“Dulu misalnya, ada sebuah pohon beringin yang dipercaya warga sebagai tempat mistis dan angker,” kata Rizki sebelum mengajak kami melakukan meditasi di Keraton Solo pada Jumat (30/10/2026).
“Kalau orang supranatural pasti melihat, wah khodamnya kuat nih. Sebaliknya, ada juga orang yang merasa tenang dan lebih bisa berkontemplasi di sana. Nah, itu yang saya maksud dengan kejadian spiritual termasuk kejadian-kejadian yang ada di Keraton Solo,” lanjutnya.
Padahal menurut Kanjeng Rizki, duduk diam di bawah pohon beringin sambil berdoa tidak selalu menyembah atau meminta sesuatu pada roh halus, melainkan untuk membenahi diri sendiri.
“Kami berdoanya tetap di atas, seperti yang saya ajarkan tadi bahwa ngaras kami itu ke atas (Tuhan),” tegasnya.
Bertanya pada kalbu, apa yang dia mau?

Selanjutnya, Kanjeng Rizki juga menjelaskan bahwa manusia seharusnya tidak hanya dilihat sebagai makhluk fisik (jasad), melainkan terdiri dari lapisan-lapisan lain seperti kalbu dan nur.
Dalam budaya Jawa, jasad dipandang sebagai raga yang kasat mata sekaligus tempat bernaungnya jiwa. Dengan kata lain, ada dalam diri manusia yang tak kasat mata yakni kalbu.
Kanjeng Rizki menjelaskan kalbu merupakan dimensi batiniah atau pusat emosi yang mengontrol hawa nafsu. Ia juga berarti bisikan jiwa yang memiliki intuisi murni, jujur, serta menuntun manusia pada kebaikan. Oleh karena itu, kalbu menjadi bagian penting dalam proses meditasi di Keraton Solo.
“Sembari berdoa nanti, tanyakan juga ke kalbu, apa yang selama ini dia mau?” kata Rizki.
“Misalnya begini: ‘jabang bayine Rizki, kowe wes ning jasadku 38 tahun, saiki aku pengen tekok, karepmu ki opo? Pengenmu opo? Ben awakdewe iso mlaku bareng-bareng. Ojo terus nolaki opo sing dadi kepinginanku nang ndunyo. Pengenmu dewe ki opo?’,” lanjutnya.

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu, kata Rizki, akan terdengar jika kami fokus melakukan meditasi di Keraton Solo. Suasana pun makin syahdu saat kami menutup mata sembari diiringi musik dari kemanak dan bau dupa.
Ritual penyucian diri Keraton Solo
Setelah memejamkan mata selama 30 menit sambil mengapresiasi jasad dan mempertanyakan kalbu, kami akhirnya menjalani puncak acara rerimatan yakni membasahi tubuh dengan campuran air sumur sanga dan bunga, mulai dari wajah, tangan, hingga kaki.
Air sumur sanga sendiri menjadi simbol kesucian hidup guna menenangkan pikiran dan menjernihkan hati.
Lebih dari itu, penyucian diri diharapkan mampu membersihkan energi negatif, sekaligus doa permohonan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Semoga setelah ini, kalian bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi,” ujar Rizki menutup prosesi rerimatan siang itu di Keraton Solo.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Mencari Kedamaian Hati dan Healing dengan Meditasi di Vihara Karangdjati atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan