3 Spot Bengong Paling Syahdu untuk Menepi dari Bisingnya Kota Surabaya Kala Hujan

Tempat melamun di Surabaya pusat. MOJOK.CO

Doa arek-arek di Surabaya akhirnya terkabul setelah hujan mengguyur kota itu pada Senin (26/10/2026). Sejumlah story mengucap syukur pun berseliweran di beranda media sosial. Ada yang buru-buru mencari tempat berteduh, ada pula yang sengaja keluar rumah untuk sekadar meromantisasi momen. Mojok merangkum rekomendasi spot di Surabaya pusat yang cocok dijadikan tempat melamun saat hujan.

#1 Koridor di Jalan Tunjungan Surabaya

Jalan Tunjungan adalah top tier tempat melamun yang belum bisa tergantikan. Sebagai salah satu pusat keramaian, suasana trotoar jalan utama ini bisa lengang seketika saat hujan, sebab banyak dari pengunjung yang memilih berteduh di kafe.

ADVERTISEMENT

Namun tak banyak yang tahu, di kawasan Jalan Tunjungan Surabaya terdapat coworking space atau ruang kerja bersama. Meskipun namanya ruang kerja bersama, pengunjung tak dituntut untuk membuka laptop. Ada yang sekadar membaca buku, berdiskusi, maupun melamun.

Salah satu spot yang menjadi tempat favorit saya adalah ruang cangkruk yang menghadap langsung ke sisi jendela. Dari balik jendela tersebut, saya juga bisa melihat landscape jantung kehidupan pusat Kota Surabaya dari atas. 

Landscape kota dari atas. MOJOK.CO
Landscape Kota Surabaya dari salah satu jendela Koridor. (sumber: themeltingplot.wordpress.com)

Ada yang berlari-lari kecil menyeberangi zebracross sambil menutupi kepalanya karena hujan, ada pula yang buru-buru mengendarai motornya meski lampu merah pejalan kaki sedang menyala.

Di sisi lain, pedagang cilok yang mengenakan jas hujan memilih berhenti untuk menawarkan dagangannya ke beberapa pengunjung Jalan Tunjungan. Tak sedikit pula anak muda yang nekat melakukan foto box saat gerimis.

#2 Tempat melamun di Lodji Besar

Sekitar 2 kilometer dari Jalan Tunjungan, terdapat sebuah kafe bernuansa klasik yang cocok untuk tempat melamun. Tempat itu bernama Lodji Besar, lokasinya di Jalan Makam Peneleh.

Peneleh sendiri merupakan salah satu kampung tertua di Surabaya. Karena letaknya yang ikonik, tak pelak Lodji Besar memiliki nuansa masa lampau yang memiliki nilai historis.

Ciri khas itu bisa dilihat dari atap utamanya yang berbentuk pelana dengan ornamen ukiran kayu, serta jendela dan pintunya yang memiliki kisi-kisi kayu (jalusi).

 

ADVERTISEMENT
View this post on Instagram

 

A post shared by LODJI BESAR (@lodjibesar.official)

Di bagian dinding depannya, pengunjung dapat melihat peta Kaart van Soerabaia dari tahun 1866 yang berskala 1:10.000. Masuk area dalam, pengunjung dapat melihat koleksi barang lawas seperti helm serdadu perang, mesin tik, hingga setrika arang.

Sementara untuk tempat melamun, saya lebih merekomendasikan teras Lodji Besar yang beratap kanopi dengan kursi besi dan meja kayu. Selain menikmati nuansa londo di area dalam sebelumnya, dari teras ini saya juga bisa mengamati aktivitas warga kampung Peneleh usai hujan.

Ada bapak-bapak tua yang mengayuh sepedanya sembari mengenakan sarung menuju langgar, ada pula segerombolan warga yang sedang asyik bercengkerama di badukan balai. Pun anak-anak yang sedang membeli bakso atau bermain sepeda.

#3 Riverside Peneleh

Berbicara soal sejarah kampung tua, Peneleh tak terlepas dari sungai Kalimas yang menjadi simbol peradaban serta saksi bisu pertumbuhan Kota Surabaya sejak zaman kerajaan Majapahit. 

Sungai yang dulunya menjadi jalur vital transportasi air yang menghubungkan wilayah pedalaman Jawa Timur dengan pelabuhan ini, kini bertransformasi menjadi destinasi wisata air yang memadukan sejarah dengan rekreasi kota.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Nemu Spot (@nemuspot.id)

Pemerintah Kota Surabaya telah mempercantik area sekitar sungai sehingga pengunjung bisa menikmati keindahan Kalimas, sembari menyusuri dermaga atau menaiki perahu wisata. 

Tak hanya itu, pemkot juga sudah membangun pusat wisata kuliner di tepi Kalimas yakni Riverside Peneleh, tepatnya di Jalan Achmad Jais.

Meski sempat mati suri, Riverside Peneleh kini kembali hadir dengan beragam tenant—bekas rombong pameran Java Coffee Culture di Tunjungan. Pengunjung juga tak perlu khawatir jika kepanasan atau kehujanan, sebab pemkot telah menyediakan kanopi di tepi sungai. 

Dengan begitu, Riverside Peneleh cocok dijadikan sebagai tempat melamun alias merefleksikan diri, mencari ketenangan mental, hingga membiarkan otak beristirahat sejenak dari rutinitas yang melelahkan.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Surabaya Setelah Hujan Indah dan Romantis, Tapi Sisi Lain Jadi Penyebab Tangis atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 29 Oktober 2026 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.